Tekan Subsidi, Mulai Juli Penyaluran Elpiji 3 Kg Diperketat dengan Barcode

Metode penyaluran subsidi elpiji 3 kg yang menyasar masyarakat kurang mampu mulai pertengahan tahun ini dilakukan dengan menggunakan sistem barcode.

Jakarta (global-news.co.id)- Pemerintah mengumumkan mekanisme penyaluran subsidi elpiji 3 kg mulai awal semester II-2020 atau sekitar Juli berubah. Penyaluran subsidi tidak diberikan pada komoditasnya lagi per tabung melainkan ke penerima, yaitu masyarakat kurang mampu.

Hal ini dilakukan untuk menekan subsidi. Pasalnya saat ini elpiji 3 kg dijual bebas dan bisa dibeli siapa saja termasuk mereka yang mampu secara ekonomi. Elpiji 3 kg juga akan tetap dijual namun disesuaikan dengan harga pasar. Masyarakat yang berhak menerima subsidi pun membeli dengan harga yang sama. Hanya saja mereka diberikan subsidi saat pembelian menggunakan barcode.

Untuk merealisasikan hal ini,  Kementerian ESDM saat ini tengah berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). Koordinasi yang dilakukan termasuk cara penyaluran subsidi yang menyasar penerima manfaat.

“Kita sedang rumuskan bagaimana kebijakannya mekanismenya dan teknologi pendukungnya sehingga bisa lebih tepat sasaran,” tutur Plt Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto, Rabu (15/1/2020).

Djoko menambahkan, kebijakan ini ditargetkan berlaku di pertengahan 2020 dan diharapkan bisa menyasar penerima manfaat lebih banyak lagi. “Enam bulan ke depan kerjakan itu dan mudah-mudahan awal semester II-2020 distribusi elpiji tepat sasaran langsung kepada penerima yang berhak Insya Allah saving akan semakin besar,” ujarnya.

Metode penyaluran subsidi elpiji 3 kg yang menyasar masyarakat kurang mampu dimungkinkan dengan menggunakan sistem barcode. Data pembeli elpiji 3 kg terekam dalam data yang terhubung dengan bank.

“Mungkin Pertamina pakai QR code barcode ditempel, nanti yang beli itu terekam di bank. Misalnya dia beli 3 tabung subsidi Rp 100.000, bank transfer ke nomor ini, nanti bisa dicek rata-rata kebutuhan orang miskin 3 tabung. Kalau beli lebih dari 3 bisa dilihat mana yang berhak mana yang nggak,” tambahnya.

Djoko mengatakan harga jual elpiji 3 kg mengikuti tabung non subsidi seperti 12 kg. Mengutip laman Pertamina, harga elpiji 12 kg Rp 139.000 atau Rp 11.583 per kg. Jika demikian, maka harga elpiji 3 kg menjadi Rp 34.749 per tabung atau lebih tinggi dari harga subsidi di bawah Rp 20.000.

Djoko memastikan elpiji 3 kg akan tetap tersedia di pasar, namun hanya subsidinya saja yang digeser dari tabung menjadi ke masyarakat langsung.

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, tidak benar jika subsidi elpiji 3 kilogram dicabut. Sebab, pemerintah hanya mengalihkan mekanisme penyalurannya saja agar lebih tepat sasaran. “Jadi subsidi akan diarahkan ke penerima bukan komoditi,” ucapnya.

Menurut Agung, lewat mekanisme baru ini diharapkan elpiji 3 kg bisa lebih tepat sasaran dibandingkan saat ini. Sebab, pemerintah langsung memberikan bantuan atau subsidi ke orang yang bersangkutan.

Selama ini, subsidi yang diberikan pemerintah hanya kepada komoditasnya saja. Hal ini menyebabkan siapa pun bisa membeli elpiji 3 kilogram tersebut tanpa terkecuali. “Jadi kalau misalnya yang miskin datanya dan subsidi dikasih ke orang tersebut. Kalau komoditas kan semua bisa beli,” ucapnya.

Kementerian ESDM akan berkoordinasi dengan Kementerian Sosial untuk mendapatkan data orang miskin tersebut. Setelah itu, pihaknya akan mencari formula penyaluran bantuan tersebut kepada masyarakat kurang mampu. “Ini kebijakan teknologinya masih dibicarakan, kerjasama dengan Kemensos. Misalnya digandeng dengan BPJS,” kata Agung. jef, ine,dtc