Kusta di Jatim Tertinggi, Dinkes Ajak Kenali Gejala

SURABAYA (global-news.co.id) – Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mengajak masyarakat berkontribusi menurunkan angka penyakit kusta. Kontribusi itu di antaranya mencari orang-orang yang kemungkinan tertular kusta sedini mungkin.

Kepala Dinas Kesehatan Jatim, dr Herlin Ferliana (kanan) didampingi Kabid P2P dr Setya Budiono dan Kabid Kesehatan Masyarakat drg Vitria.Dewi dalam temu media terkait Hari Kusta Sedunia, Kamis (23/1/2020)

“Jadi kalau menemukan saudara atau teman yang memiliki bercak putih lalu di situ ada mati rasa, kita sudah harus mulai aware, jangan-jangan ini kusta. Maka cepat datang ke puskesmas terdekat untuk dapat dilakukan deteksi dini,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Jatim, dr Herlin Ferliana MKes dalam temu media menyambut Hari Kusta Sedunia yang diperingati setiap minggu ke-4 bulan Januari, Kamis (23/1/2020).

Ditegaskan, kusta yang disebabkan bakteri Mycobacterium leprae ini seperti penyakit menular lainnya yang bisa disembuhkan. Kalau ditemukan secara dini sebelum cacat, maka penderita bisa sembuh sempurna. Karena itulah penting dilakukan deteksi dini lewat skrining dan mengenali gejalanya.

Ajakan berkontribusi tersebut didasarkan fakta, Indonesia saat ini menempati ranking ketiga jumlah penderita kusta terbanyak setelah India dan Brasil.  “Jawa Timur sendiri merupakan penyumbang utama jumlah penderita kusta di Indonesia. Dalam 10 tahun terakhir, sekitar 24% penderita kusta nasional berasal dari Jawa Timur,” ungkap Herlin didampingi Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dr Setya Budiono MKes.

Meski tertinggi, prevalensi kusta di Jatim mengalami penurunan, dari 0,92 per 10.000 penduduk pada 2018 menjadi 0,84 pada 2019. Jumlah daerah yang belum eliminasi kusta juga menurun dari 10 kabupaten/kota pada 2018 menjadi 9 pada 2019. Daerah yang sudah eliminasi adalah Kabupaten Pasuruan. Sedang yang belum eliminasi kusta pada akhir 2019 adalah Sampang, Pamekasan, Sumenep, Bangkalan, Lumajang, Situbondo, Tuban,  Probolinggo, dan Jember.

Disebutkan, mendasarkan data 2019 hingga 21 Januari 2020, terdapat 2.668 penderita kusta baru di wilayah Jatim dan sebanyak 3.351 penderita kusta yang masih berobat. Dari 2.668 penderita kusta baru, sebanyak 255 menderita cacat kelihatan akibat terlambat terdeteksi dan sebanyak 194 (7,3%) adalah penderita usia anak (usia kurang dari 15 tahun). “Menjadi tantangan besar bagi kami karena  ditemukannya kusta pada anak dan 9 kabupaten yang masih belum eliminasi,” kata Herlin. Penurunan angka kusta di Jatim ini tak lepas dari inovasi yang digagas Dinkes Jatim lewat program Jelita (Jawa Timur Jelang Eliminasi Kusta) yang diluncurkan pada 2017 lalu.  Pada 2020 ini, Dinkes menargetkan ada daerah lagi yang bisa eliminasi (kasusnya kurang dari 1 per 10.000 penduduk).

Untuk mencapai target eliminasi tersebut digunakan strategi SCORE. S (sosialisasi), di mana semua pihak diharapkan menjadi agen untuk menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat. “Penyakit ini bukan kutukan seperti anggapan masyarakat, melainkan penyakit menular yang bisa sembuh bila diobati sedini mungkin dan teratur sesuai aturan,”ujar Herlin.

Yang menakutkan, lanjut Herlin, kalau ditemukan sudah cacat, karena sulit kembali kalau tidak dilakukan rehabillitasi.

C (cari) yaitu menemukan kasus sedini mungkin. Kalau masih ada yang cacat berarti penemuannya terlambat. Ketika muncul bercak putih seperti panu dan rasanya beda misalnya tebal atau tidak terasa ketika disentuh (karena yang diserang bakteri adalah sarafnya) segera konsultasikan, bisa di puskesmas, untuk memastikan bercak itu panu, kusta, atau penyakit kulit lainnya.

Yang juga tak kalah penting adalah optimalisasi pemeriksaan kontak, karena bakteri menular melalui kontak bernafas yang lama. “Selama bisa menjaga kebersihan, mencuci tangan setiap selesai BAB dan cuci tangan sebelum mengonsumsi makanan, penularan kuman akan terputus,” terang perempuan yang pernah berdinas di Madura selama 14 tahun.

Herlin menjelaskan, kalau terdeteksi dini, penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium leprae ini bisa diobati dan disembuhkan. Sebaliknya kalau terlambat, bisa mengakibatkan kecacatan. Faktor stigma masyarakat dan self stigma membuat penderita cenderung menyembunyikan sakitnya dan baru muncul ketika sudah cacat.

O (obati yang benar). Bila dari skrining diketahui benar penyakit panu harus segera diobati, dan di puskesmas pemerintah menyediakan  obatnya secara gratis. “Penyakit ini bukan kutukan seperti yang selama ini diyakini masyarakat. Pengobatan yang benar dan teratur mengonsumsi obat akan membuat penderitanya sembuh,”ujar Herlin.

R (rehabilitasi). Penderita yang sudah cacat disediakan rumah sakit untuk rehabilitasi. Di antaranya RS Sumber Glagah Mojokerto yang milik Dinkes Jatim, RS Moeh Noer di Madura yang jadi satelit RS Sumber Glagah.

E (Evaluasi). Apa yg dilakukan harus dimonitor dan dievaluasi, kalau ada yang kurang bisa diperbaiki.

Kusta memiliki dua tipe, kusta kering (pausi basiler) dan kusta basah (multi basiler) dengan kelainan utamanya menyerang saraf. Kusta kering menjadikan kulit seperti kering bersisik sehingga sering disebut eksim atau panu.  Bakterinya sedikit malah hampir tak ada. Pengobatan butuh waktu 6 bulan.

Kusta basah (multi basiler). Efek terjadinya kerusakan saraf bekerja lambat. Apalagi kalau penderita berkeringat, kulitnya jadi mengkilap.ret