Di Tengah Kesibukan Partai, Sri Untari Mampu Raih Gelar Doktor

Ketua Fraksi PDIP Jatim Sri Untari mampu meraih gelar doktor di Universitas Brawijaya Malang.

SURABAYA (global-news.co.id) –  Meski disibukkan dengan urusan partai, namun Ketua Fraksi PDIP Jatim Sri Untari mampu meraih gelar doktor di Universitas Brawijaya Malang. Tak tanggung-tanggung dia lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Diklarifikasi usai mendapat ucapan selamat oleh seluruh anggota DPRD Jatim, perempuan ayu berjilbab ini mengaku untuk mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu Administrasi Publik ini, ibu tiga putra ini harus berjibaku dengan urusan partai. Tak heran Sri Untari harus menempuh pendidikannya selama tujuh tahun.

“Sebagai orang partai tentunya saya harus mendahulukan urusan partai. Karenanya, meski masuk 2011 akhir  saya sempat berhenti dua kali yaitu 2014 saat Pileg dan 2018 saat Pilgub Jatim. Baru kemudian melanjutkan lagi pada 2017 dengan mengumpulkan materi dan menggelar FGF,  baru kemudian 2019 saya ngebut belajar. Alhamdulillah akhirnya kelar juga. Namun karena saya juga duduk sebagai Ketua Koperasi SBW, maka tentunya desertasi saya tidak jauh dari itu semua,” papar Sri Untari yang juga Sekretaris DPW PDIP Jatim ini, Jumat (10/1/2020) pagi.

Namun terlepas dari itu semua keluarganya yang terdiri suami dan tiga putranya mendukung penuh Sri Untari yang mencoba untuk mengambil S3.

Untari menyusun disertasi dengan judul Pemberdayaan Perempuan dalam Perspektif Modal Sosial (Studi tentang Pemberdayaan Perempuan melalui Kegiatan Perkoperasian di Koperasi Setia Budi Wanita Kota Malang. Dia mengaku puas dengan hasil perjuangan yang dilakukan. Sebab, di sela-sela mengurusi partai di tingkat provinsi, ia bisa menuntaskan pendidikan S3 di salah satu kampus terbaik di Indonesia. “Alhamdulilah, nilai yang saya raih sangat memuaskan. Ini sebuah perjuangan yang luar biasa yang saya lakukan,” ujar Sri Untari.

Dia mengakui lama sebagai orang koperasi, sehingga tahu bagaimanana pemberdayaan perempuan lewat koperasi dengan berbasis tanggung renteng ternyata mampu mengangkat mereka. “Ini setelah saya melakukan kajian dan analisis ternyata koperasi dengan sistem modal tanggung renteng memiliki kekuatan yang sangat luar biasa yaitu kuat, kokoh  dan mandiri,”paparnya.

Melalui pemberdayaan perempuan ini, dalam perjalanannya, SBW dinilai mampu menopang kehidupan keluarga anggotanya. Tentunya hal ini sangat berdampak bagi anggota yang bersuamikan penghasilan tidak menentu maupun jobless.

Ia berharap persolan koperasi yang diteliti secara akademik mampu menjadi referensi bagi para pengambil keputusan maupun bagi para praktisi, tentang konsep berkoperasi yang ideal, yakni menggunakan sistem tanggung renteng. “Di dalam sistem tanggung renteng ini, mengandung nilai-nilai, norma, jejaring, kepercayaan dan timbal balik. Faktor inilah yang menyebabkan koperasi SBW benar-benar kuat yang mempengaruhi pengambilan keputusan,” tandasnya.

Adapun pengujinya dalam desertasinya tersebut tak main-main, yaitu sebanyak sembilan orang yang terdiri dari lima profesor dan empat doktor. “Alhamdulillah akhir 2019 semuanya sudah kelar. Bahkan para penguji  mengatakan jika saya lulusan yang istimewa,”papar Untari.

Untari mampu meraih nilai Indeks Prestasi (IP) 3,89 dengan raihan nilai pada bidang ilmu administrasi. Ia meraih nilai minimal B+ pada semua mata kuliah yang dikuti.  Seperti pada nilai dasar-dasar Teori Adminsitrasi, ia meraih nilai B+, mata kuliah Ekonomi Politik Kebijakan Publik ia meraih nilai A. ani