Antisipasi Banjir, Komisi B Minta Dishut Jatim Segera Rehabilitasi Lahan Hutan yang Terbakar

SURABAYA (global-news.co.id) – Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur dr Agung Mulyono meminta agar Dinas Kehutanan (Dishut) Jatim segera melakukan langkah pencegahan terhadap potensi banjir di Jatim dengan merehabilitasi kawasan hutan yang rusak akibat kebakaran pada musim kemarau 2019 lalu.

Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur dr Agung Mulyono

Pasalnya, jika tidak segera direhabilitasi, lahan rusak yang sebagian besar di area pegunungan itu bisa menyebabkan longsor dan banjir bandang, seperti yang terjadi di Jakarta pada pekan lalu.

“Harus segera berkoordinasi dengan instansi terkait seperti perhutani bagaimana secepatnya melakukan rehabilitasi. Saya melihat kebakaran hutan itu kan sebagian besar di wilayah pegunungan, kalau lahan tersebut dibiarkan maka bisa berpotensi menyebabkan longsor dan banjir bandang. Jangan sampai banjir yang terjadi seperti di Jakarta terjadi di Jatim dan salah satunya karena faktor ini,” katanya, Senin (6/1/2020).

Pria yang juga Ketua Pusat Kajian Strategis Pengurus Harian Demokrat Jatim itu mendukung upaya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang akan menebar biji di sekitar lahan rusak akibat kebakaran hutan.

Akan tetapi, selain penebaran biji, di beberapa lokasi rawan yang wilayahnya terbakar, harus segera ditanam kembali dengan bibit pohon agar lahan yang gundul segera tertutup.

“Saya kira kebijakan itu sangat bagus. Tapi saya berharap di beberapa lokasi rawan harus segera diutamakan direhabilitasi. Karena musim penghujan pada tahun ini kan cukup panjang,” tandas pria kelahiran Banyuwangi itu.

Mantan Ketua Komisi E DPRD Jatim itu menilai, selain melakukan rehabilitasi hutan, ke depan harus ada pencegahan dini terhadap potensi kebakaran hutan di Jatim agar, kerusakan hutan yang semakin parah bisa dihindari.

Menurut dia, pencegahan itu harus bekerjasama dengan instansi terkait seperti Perhutani dan BPBD di Kabupaten/Kota. Pasalnya, wilayah hutan di Jatim sangat luas dan medannya cukup terjal.

“Kalau kemarin kan kebakaran hutan meluas karena ada hembusan angin yang kencang dan kurangnya pasokan air ke atas untuk pemadaman. Saya rasa ke depan harus ada langkah lain agar ada langkah antisipasi untuk menyiasati kondisi tersebut. Mari kita ciptakan Jatim aman dan nyaman. Seperti pepatah mengatakan ikan sepat ikan gabus, makin cepat dilakukan akan semakin bagus,” pungkas dokter yang peduli dengan pertanian itu.

Seperti diketahui, sedikitnya ada tujuh gunung di Jawa Timur yang hutannya terbakar. Gunung-gunung itu adalah Gunung Arjuna, Welirang, Kawi, Wilis, Semeru, Bromo, dan yang terbaru muncul di Gunung Ijen. Hingga Minggu, 20 Oktober 2019, diketahui ada 143 titik api di seluruh Jawa Timur. ani