Erick Thohir Tunjuk Mulyono Jadi Direktur Logistik, Supply Chain, dan Infrastruktur (LSCI) PT Pertamina

Dr Mulyono usai dikukuhkan sebagai doktor Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) Institut Teknologi 10 November Surabaya ke-35 pada Kamis (26/1/2017) lalu.

JAKARTA (global-news.co.id) – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir merombak jajaran Direksi PT Pertamina (Persero). Salah satunya posisi Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur (LSCI) PT Pertamina (Persero) dijabat Dr Mulyono menggantikan pejabat lama Gandhi Sriwidodo.

Susunan direksi baru Pertamina tersebut tertuang dalam Salinan Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor SK-336/MBU/12/2019 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota Direksi Perseroan (Persero) PT Pertamina yang ditetapkan pada 26 Desember 2019. Dalam Surat Keputusan tersebut, pemegang saham juga memberhentikan dengan hormat Gandhi Sriwidodo dari jabatan Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur (LSCI) PT Pertamina (Persero). Gandhi menempati posisi itu sejak 29 Agustus 2018.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, mengatakan, Pertamina telah menerima salinan surat keputusan dari pemegang saham terkait perubahan susunan direksi Pertamina.

“Direksi diangkat dan diberhentikan oleh RUPS. Pergantian direksi ini merupakan salah satu kewenangan pemegang saham,” kata Fajriyah dalam keterangan tertulisnya Kamis (26/12/2019).

Sebelum ditunjuk sebagai Direktur LSCI PT Pertamina (Persero), Mulyono menjabat sebagai Senior Vice President Asset Strategic Planning & Optimization PT Pertamina (Persero).

Selama ini seluruh jenjang jabatan Mulyono selalu di lingkungan Pertamina.

Lahir di Bojonegoro pada 11 September 1967, Mulyono mengenyam pendidikan Strata Satu di Fakultas Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Menyelesaikan pendidikan magister di dua lembaga yakni Magister Manajemen Jakarta dan Magister Teknik Industri UI – QUT Australia, serta mendapatkan Graduate Certificate in Engineering Management UI. Jenjang pendidikannya dituntaskan dengan meraih gelar Doktor Sistem Transportasi Laut di ITS, Surabaya.

Dr Mulyono bersama keluarga di ITS.

Sebelumnya di sela aktivitasnya yang super sibuk sebagai Senior Vice President PT. Pertamina Shipping saat itu, Mulyono dikukuhkan sebagai doktor Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) Institut Teknologi 10 November Surabaya ke-35 pada Kamis (26/1/2017) lalu.

Gelar doktor diperoleh setelah dalam sidang disertasi terbuka yang digelar di ruang sidang utama gedung rektorat ITS, Mulyono dinyatakan lulus dengan nilai cum laude.

Dalam desertasinya, Mulyono melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Model Terintegrasi Berbasis Theory Of Constraint untuk Meningkatkan Kinerja Sistem Transportasi Laut: Studi Kasus PT. Pertamina

Menurut Mulyono, efektivitas dan produktivitas kinerja sistem transportasi laut dibutuhkan pengembangan model terintegrasi yang berbasis Theory of Constraints (TOC). Pasalnya, penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya masih terfokus pada optimalisasi komponen-komponen dari sistem pengangkutan laut secara terpisah, atau disebut local optimum.

“Jadi, belum ada yang mengintegrasikan antara variabel strategis dan operasional dari sistem transportasi laut secara komprehensif,” tutur Mulyono.

Desertasi yang dipaparkan pria kelahiran 11 September 1967 ini menyebut, konsep model terintegrasi berbasis TOC pada sistem transportasi laut tersebut meliputi integrasi komponen sistem, integrasi ukuran kinerja, integrasi Time Horizon, dan integrasi Output.

Pria yang program S-2 nya mengambil jurusan Teknik Mesin dan Magister Manajemen Universitas Indonesia ini menambahkan, setiap sistem dalam sistem terbuka merupakan gabungan dari subsistem. “Dimana dalam satu subsistem yang berantai minimal ada satu konflik. Dengan begitu, output dari sistem bukan mengikuti yang kuat, tapi yang lemah,” urai Mulyono.

Melalui disertasi yang dipromotori almarhum Prof Ir Djauhar Manfaat MSc PhD dengan co-promotor Ir Tri Achmadi PhD, ayah dua putri ini lantas melakukan penelitian untuk mendefinisikan dan merumuskan ulang tujuan dari sistem transportasi laut. Selain itu, ia juga melakukan penerjemahan beberapa terminologi TOC.

“TOC itu merupakan suatu tahapan. Tahapan yang dimaksud adalah dimulai dari mendefinisikan goal sistem, kemudian menentukan ukuran kinerja pada TOC. Pada tahap ini, saya melakukan pendefinisian ulang untuk ukuran kinerja TOC, meliputi Throughput, Inventory, Operating Expense, Productivity, dan Net Benefit,” paparnya.

Tahapan selanjutnya, kata Mulyono, TOC mendefinisikan system’s constraint dengan tiga metode penelitian, yakni process map, identifikasi constraints berbasis uji statistik, dan identifikasi biaya constraint. Terkait penelitian constraint yang dilakukan Mulyono pada sistem transportasi laut di PT Pertamina adalah setelah constraint diidentifikasi dengan cara standarisasi satuan sistem menjadi KL/hari.

“Diketahui penyebab constraint adalah terbatasnya kapasitas jetty, cargo, pump, dan port draft. Apabila, kapasitas constraint tidak ditingkatkan, biaya congestion, deadfreight, dan slow pumping akan membebani kinerja perusahaan tersebut,” katanya.

Solusinya, lanjut Mulyono, adalah solusi jangka pendek, dengan meningkatkan kapasitas jetty dari dua menjadi tiga unit. Kemudian, meningkatkan kapasitas draft dari 4,5 meter menjadi 6 meter, dan meningkatkan kapasitas cargo pump dari 500 KL per jam menjadi 550 KL per jam.

Sedangkan, solusi jangka panjangnya, adalah dengan cara meningkatkan kapasitas jetty menjadi 5 unit, kapasitas draft menjadi 6 meter, dan cargo pump menjadi 550 KL/jam,” tutur Mulyono.

Mulyono juga mengungkapkan kebijakan ‘BBM Satu Harga’ yang dicanangkan Presiden Joko Widodo bisa diwujudkan bila biaya transportasi laut bisa diefisienkan.

Bagaimana kita mengurai masalah infrastruktur, kapasitas, persoalan-persoalan dalam angkutan laut dengan alat (tool) Theory of Constraint yang mengintegrasikan aktivitas operasional dan strategis. Karena itu dalam penelitian ini ada net profitnya.

“Angkutan laut menyumbang cost sangat besar kontribusinya dalam harga produk sehingga harus diefisienkan. Efisiensi bisa mencapai 20 persen,” papar Mulyono.

Persoalan yang dihadapi adalah keterbatasan infrastruktur seperti pekerjaan dermaga, dermaganya terbatas, kebutuhannya banyak tapi hanya punya dua dermaga.

Selain itu alur pelayarannya. “Jadi rute pelayaran yang dilalui dangkal, jadi kapal yang seharusnya bisa membawa (BBM) penuh, tapi karena dangkal tidak bisa bawa penuh,” ujar pria kelahiran Bojonegoro ini.

Suami Ir Primarini MT ini mengatakan, kalau kedalaman dermaga bisa mencapai 6 meter, maka tanker dengan 5000 ton BBM bisa merapat. “Kalau Cuma 4,5 meter, ya hanya mampu membawa 3000 ton,” jelas Mulyono. Menurut Mulyono, hal ini sangat tidak menguntungkan karena ada tempat tanker yang kosong. “Padahal biayanya sama mengirimkan 3000 ton dengan 4500 ton,” ujar Mulyono. (fan)