16 Ribu Ibu Rumah Tangga Terinfeksi HIV

SURABAYA (global-news.co.id) – Ibu rumah tangga menjadi kelompok paling berisiko terjangkit virus Human Immunodeficiency Virus (HIV).  Jadi bukan hanya pekerja seks dan pelanggannya saja yang berpotensi  terinfeksi kuman yang belum bisa disembuhkan ini.

Plt Direktur Kesehatan Reproduksi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), drg Widwiono mengatakan, mendasarkan data Kementerian Kesehatan, terdapat 16.844 ibu rumah tangga yang terinveksi HIV.  “Penyebaran HIV saat ini tidak hanya menyerang orang berperilaku risiko tinggi, melainkan juga kepada ibu rumah tangga yang aktivitasnya banyak di rumah mengurus anak-anak, namun tertular oleh suami mereka sendiri yang melakukan hubungan seksual tidak aman atau memakai jarum suntik tidak steril. Dari ibu yang tidak tahu apa-apa akan menularkan kepada bayinya. Inilah yang menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus HIV di Indonesia,” ujarnya dalam acara Hari AIDS Sedunia di BKKBN, Jakarta, Senin (9/12/2019).

Ditambah kurangnya pengetahuan mereka tentang pencegahan dan faktor penyebab penularan HIV/ AIDS.  Untuk diketahui  penularan terhadap anak  bisa terjadi selama kehamilan, persalinan atau postnatal melalui ASI.

Widwiono menegaskan, penggunaan jarum suntik kerap  mendominasi penyebaran HIV/AIDS di masyarakat.  “Itu yang paling mendominasi penularan HIV karena digunakan sembarangan, bisa dari suntik narkoba.  Mereka biasanya menggunakan jarum suntik nggak pandang bulu, jarum suntik bekas digunakan.  Potensi penularan yang paling tingginya itu ya di situ. Makanya harus menggunakan jarum suntik yang disposable (sekali pakai),” terangnya.

Terkait penularan virus HIV dari ibu kepada anak, lanjut Widwiono, penanganan lewat peran keluarga menjadi fokus utama dalam program BKKBN. Dia berharap para kader pengelola program keluarga berencana (KB) dan pembangunan keluarga nantinya dapat memaksimalkan sosialisasi program tersebut karena terlibat secara langsung dalam mencegah dan mengendalikan HIV AIDS di masyarakat, khususnya di keluarga.

“Fungsi keluarga dapat terwujud melalui peran suami istri secara bersama-sama untuk memproteksi diri dari penularan HIV,” kata Widwiono.

Penyebaran HIV/AIDS di Indonesia saat ini semakin memprihatinkan sehingga memerlukan perhatian dari lintas sektor. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI Triwulan II tahun 2019 secara kumulatif terdapat 117.064 kasus AIDS dan 349.882 kasus HIV positif.  Faktor risiko penularan HIV terbanyak adalah melalui hubungan seks berisiko pada heteroseksual (70.2%), pengguna jarum suntik atau penasun (8.2 %), homoseksual (7%), dan penularan melalui perinatal (2.9%).

Ada lima provinsi di Indonesia tertinggi kasus HIV yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Papua, dan Jawa Tengah. Sedangkan lima provinsi dengan jumlah AIDS terbanyak yaitu Papua, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Bali.

Peringatan Hari AIDS Sedunia tahun ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran, kepedulian, dan keterlibatan seluruh masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi HIV/AIDS untuk mencapai target three zero pada 2030 nanti. Tiga target tersebut yaitu tidak ada lagi penularan HIV, tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan tidak ada lagi stigma atau diskriminasi pada ODHA (orang dengan HIV/AIDS).ret