Survei Cawali Surabaya 2020, Eri Cahyadi Masuk Tiga Besar

SURABAYA (global-news.co.id) – Pilkada Surabaya baru dilakukan tahun depan, namun bursa bakal calon sudah banyak dilakukan. Dalam berbagai survey maupun polling, nama  Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Eri Cahyadi masuk urutan tertinggi atau tiga besar, meski dia belum mendaftar di partai manapun.

Eri Cahyadi

“Banyak faktor X-nya, baik dari sisi sosiologis, psikologis maupun rasional. Ada juga momentum,”  kata Peneliti Surabaya Survey Center (SSC) Surokim Abdussalam di Surabaya, Jumat (22/11/2019).

Seperti halnya polling yang digelar pollingkita.com sejak Jumat yang menyebut Eri Cahyadi  berada di urutan ketiga dengan raihan 7,2 persen. Tepat di atas Eri ada nama Fandi Utomo dengan 44,5 persen dan Laksamana Untung Suropati dengan 15 persen.

Menurut Surokim, sosok Eri yang juga disebut sering diendorse Wali Kota Risma bahkan melewati beberapa nama lain yang santer disebut di bursa Pilkada Surabaya 2020 seperti halnya Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana, Wakil Ketua DPD Golkar Provinsi Jatim Zahrul Azhar As’ad atau akrab dipanggil Gus Hans. Bahkan hasil polling Eri juga jauh melebihi cucu Bung Karno, Puti Guntur.

“Politik jelang Pilkada Surabaya 2020 akan selalu berjalan dinamis,” kata Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Universitas Trunojoyo Madura (UTM) ini.

Selain itu, pihaknya menilai sejumlah nama bakal cawali Surabaya dari kalangan milenial atau anak-anak muda merupakan identik dengan perubahan.

Menurut dia, kebutuhan Kota Surabaya masa depan yang mendesak adalah kepemimpinan adaptif progresif. Kecepatan mengikuti perubahan zaman menjadi kunci. Pemimpin yang akseleratif, adaptif, dan inovatif yang akan melahirkan daya saing kompetitif dimasa kini dan mendatang.

Selain itu, kata dia, kaum muda itu lebih dekat dengan perubahan, surplus energi positif, lebih identik dengan harapan dan ekspektasi baru. Berkaca dari sejarah, pemimpin progresif indonesia berasal dari kaum muda, Soekarno ketika membacakan pledoi Indonesia menggugat yang legendaris itu berusia 29 tahun dan Hatta berusia 30 tahun saat mendampingi Soekarno di era tersebut. pur, ntr