Satu Sabuk Satu Jalan, Disambut Dunia


Ketua Pemrakarsa Kehormatan Perdagangan Dunia, Wang Fuguan, menyerahkan surat penunjukan Ketua Kehormatan, Kepala Penasihat, Penasihat Senior.

BALI (global-news.co.id) – Sejak diprakarsainya “Satu Sabuk Satu Jalan”, hubungan Tiongkok dengan dunia sedang mengalami perubahan bersejarah. Diiringi dengan terus berkembangnya inisiatif kerjasama kenegaraan tingkat tinggi “Satu Sabuk Satu Jalan”, banyak negara di dunia menyambut baik dan ikut bergabung, serta turut mendorong perkembangan berkelanjutan dunia secara efektif. Tujuannya, menghasilkan globalisasi yang lebih adil, mendorong pertumbuhan dan kemakmuran bersama dari setiap negara di dunia.

Minggu, 10 November 2019, konferensi pertama dan forum tingkat tinggi Asosiasi Perdagangan Satu Sabuk Satu Jalan Dunia diadakan di Bali, Indonesia. Forum ini dihadiri oleh undangan dan perwakilan dari berbagai negara. Mereka bersama-sama mendiskusikan kesempatan dan kemakmuran yang didatangkan oleh “Satu Sabuk Satu Jalan”, dengan aktif masuk ke dalam perkumpulan “Satu Sabuk Satu Jalan” tersebut.

Menurut laporan, Asosiasi Perdagangan Satu Sabuk Satu Jalan Dunia (selanjutnya di artikel ini akan disingkat “Perdagangan Dunia”) telah berhasil terdaftar di Hongkong pada 13 Agustus 2018, dan upacara persiapan awal konstruksi batu pertama diadakan pada 20 Oktober di Fuzhou, Tiongkok. Tujuan dari Perdagangan Dunia ini adalah menyerukan inisiatif dari Presiden Xi Jinping, mempersatukan asosiasi kamar dagang dan pengusaha di dalam dan luar negeri, guna mengambil kesempatan besar yang dibawa oleh program “Satu Sabuk Satu Jalan”, memperkuat kemampuan pengusaha untuk ikut serta dalam program tersebut, membantu mendorong berbagai perkembangan pembangunan “Satu Sabuk Satu Jalan”.

Pada upacara pelantikan Dewan Perdagangan Dunia ini, Wakil Ketua Persahabatan Luar Negeri Propinsi Fujian, Weng Xiongyu, menyerahkan Sertifikat Ketua Pemrakarsa Perdagangan Dunia kepada Profesor Alim Markus (Lin Wenguang). Saat ini, telah ada 52 grup member dan 222 member perseorangan. Chen Shijin dari Argentina, mendapat kehormatan menjabat Wakil Ketua Asosiasi Perdagangan “Satu Sabuk Satu Jalan” Dunia yang ke-1.

Setelah itu, Ketua Pemrakarsa Perdagangan Dunia, Profesor Alim Markus, menyerahkan surat penunjukan Ketua Kehormatan dan Wakil Ketua Eksekutif serta Wakil Ketua kepada Xue Mingji dari Indonesia dan Yuyi dari Hongkong. Ketua Pemrakarsa Kehormatan Perdagangan Dunia, He Wenjin, menyerahkan surat penunjukan bagian Sekretaris dan Keuangan kepada Lin Wenzhu dari Indonesia dan Zhou Hongli dari Indonesia. Kemudian Ketua Pemrakarsa Kehormatan Perdagangan Dunia, Wang Fuguan menyerahkan surat penunujukan Ketua Kehormatan, Kepala Penasihat, dan Penasihat Senior. Ketua Pemrakarsa Kehormatan Perdagangan Dunia, Chen Bisong, menyerahkan surat penunjukan Dewan Eksekutif.
Tiga perkumpulan yang dibawahi oleh Perkumpulan Fuqing di Argentina mendonasikan sebuah gedung ajar “Gedung Yu Rong” di sekolah muslim di Pulau Lombok, Propinsi Nusa Tenggara yang terkena gempa pada Agustus 2018, serta mendonasikan dana sebesar RMB 120.000. Chen Shijin dari Argentina menerima penghargaan “Sertifikat Kehormatan Cinta Kasih”.

Kontribusi Ekonomi

Di forum tingkat tinggi “Satu Sabuk Satu Jalan” yang dilaksanakan pada hari itu, Ketua Pemrakarsa Perdagangan Dunia, Alim Markus, para pimpinan serta pengusaha memberi sambutan masing-masing. Mereka dengan semangat memberi penilaian atas kontribusi yang telah dilakukan dari program “Satu Sabuk Satu Jalan”, meneliti dan menilai kesempatan emas dari inisiatif ini.

Alim Markus menyatakan bahwa inisiatif “Satu Sabuk Satu Jalan” dikemukakan 6 tahun lalu oleh Presiden Tiongkok, Xi Jinping, yaitu inisiatif yang memiliki makna membuka era baru, dan telah mendapat tanggapan dan diikuti oleh lebih dari 100 negara, serta membuahkan hasil yang menggembirakan.

“Satu Sabuk Satu Jalan” merupakan panggung yang sangat bagus, dalam bisnis, jika ada platform ini untuk berkomunikasi maka sangat menguntungkan bagi kita, dan pemerintah Indonesia pun menyambut hal ini dengan baik. Semoga teman-teman pengusaha banyak berusaha, ini merupakan tanggung jawab kemasyarakatannya pengusaha untuk menyelesaikan masalah masyarakat, mencari keuntungan bagi perusahaannya, maka dari itu kenapa tidak dilaksanakan. Semoga para pengusaha lebih aktif lagi, lebih berani, saat berkomunikasi memanfaatkan kesempatan bisnis dan mengelolanya dengan baik, agar dapat memberi kontribusi bagi pembangunan ekonomi dan kemakmuran masyarakat di negara sepanjang rute “Satu Sabuk Satu Jalan”,” harap Alim Markus.

Wakil Ketua Persahabatan Luar Negeri Propinsi Fujian, Weng Xiongyu, berpendapat, Indonesia adalah daerah inisiatif pertama jalan sutera laut pada abad 21. Beberapa tahun terakhir ini Tiongkok-Indonesia bersama-sama membangun kemajuan “Satu Sabuk Satu Jalan” dengan stabil. Dengan diadakannya konferensi pertama Perdagangan Dunia dan forum tingkat tinggi “Satu Sabuk Satu Jalan” (Bali), bisa dikatakan tepat waktu dengan potensi yang tepat, harus mendorong asosiasi perdagangan berbagai negara dan daerah sepanjang rute ini untuk memperkuat kerjasama dan komunikasi, mempererat persatuan dan keharmonisan, demi memperbesar kekuatan pembangunan “Satu Sabuk Satu Jalan”, dan memainkan peranan yang aktif.

Ada 15.800.000 kerabat yang asalnya dari propinsi Fujian tersebar di 188 negara dan daerah, dan kurang lebih 80% ada di daerah “jalur laut sutra”, dan melalui kerja kerasnya, mereka dihargai dan mendapat pengakuan dari masyarakat setempat. Ini, menjadi kekuatan penting pembangunan dan kemakmuran di negara tinggalnya, menjembatani kampung halaman dengan negara tinggalnya. Pada 5 tahun yang lalu, GDP rata-rata per tahun Fujian naik 9.1%, Fujian mendapatkan kesempatan bersejarah sekali seumur hidup, Fujian menjadi daerah yang memiliki semangat membangun di seluruh Tiongkok, dan menjadi salah satu propinsi yang memiliki potensi pembangunan. Beberapa tahun ini, seluruh propinsi Fujian mengikuti perencanaan dan tata letak “Satu Sabuk Satu Jalan” dari pusat, dengan solid memajukan 8 program utama yaitu “jalan sutra logistik laut”, “jalan sutra udara”, “jalan sutra internet/digitalisasi”, “jalan sutra investasi”, “jalan sutra perdagangan”, “kebudayaan”, “ekologi”, “budaya teh”.

Semoga para kerabat bisa mengambil kesempatan besar membangun “Satu Sabuk Satu Jalan” dan kesempatan berharga dari pembangunan di Fujian, sering-sering pulang ke kampung halaman untuk jalan-jalan, melihat-lihat, demi memajukan komunikasi, kerjasama perdagangan, menjalin hungan dan jembatan kebudayaan antar negara dan daerah di sepanjang jalur “Satu Sabuk Satu Jalan”, agar penduduk dari negara-lain bisa lebih memahami inisiatif “Satu Sabuk Satu Jalan”.

Bukan Jebakan Utang

Dekan Institut “Satu Sabuk Satu Jalan” Malaysia, Chen Yongquan, menyebutkan, bahwa “Satu Sabuk Satu Jalan” sama sekali bukanlah “jebakan utang”, tetapi merupakan kesempatan untuk maju bersama. “Satu Sabuk Satu Jalan” akan menambal “kayu yang pendek”, bukannya berebut “kayu panjang”. Menambal kayu pendek akan diterima oleh masyarakat setempat, berdirinya Perdagangan Dunia ini sangatlah baik, Indonesia adalah negara dengan penduduk keturunan Tionghoa terbesar, jika bisa mengintegrasikan sumber daya, maka akan sangat menguntungkan.

Inisiatif “Satu Sabuk Satu Jalan” secara konsisten berorientasi pada kemajuan, berprinsip pada membangun bersama dan dinikmati bersama, mendorong terwujudnya “komunikasi kebijakan, terhubungnya fasilitas, perdagangan lancar, dana berputar dengan lancar, hati masyarakat bersatu”. Selama 6 tahun inisiatif ini dari sebuah ide berubah menjadi gerakan bersama Tiongkok dengan negara terkait, dari visi berubah menjadi kenyataan, sebuah naskah dari tahap kerangka karangan menjadi tahap pengembangan secara intensif. Chen Liyuan