Rekrutmen Perangkat Desa Cekok Disoal

 

 

Sejumlah warga saat mendatangi gedung DPRD Ponorogo mempersoalkan rekrutmen perangkat desa, Rabu (13/11/2019).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PONOROGO (global-news.co.id) – Puluhan warga Desa Cekok, kecamatan Babadan, Ponorogo mendatangi gedung DPRD setempat, Rabu (13/11/2019). Mereka menyampaikan keluhan atas adanya dugaan praktik nepotisme, dalam proses rekrutmen perangkat Desa Cekok.

”Intinya hasil seleksi yang dilaksanakan belum memuaskan, karena kental akan aroma nepotisme,” kata Adip Ulinuha, koordinator warga Cekok yang datang ke DPRD.

Sebagai bentuk protes atas proses rekrutmen tersebut, puluhan warga setempat menyatakan mosi tidak percaya terhadap hasil seleksi yang dilakukan panitia. Hal ini disampaikan di hadapan anggota Komisi A DPRD Ponorogo.

“Kami mengirimkan mosi keberatan hasil tes perangkat Desa Cekok, baik ke panitia penyelenggara maupun ke Kades. Hingga saat ini belum ada tanggapan, kami akhirnya ke gedung dewan untuk diskusi tentang permasalahan ini,” tutur Adip.

Adip mengungkapkan sebelumnya Pemdes Cekok membuka 10 lowongan perangkat desa. Lowongan tersebut diikuti oleh 55 pendaftar. Hasil tes, 45 orang termasuk Adip dinyatakan gagal dengan nilai rendah, yakni dibawah 50. Sementara 10 pendaftar yang lolos dengan nilai lebih dari 80. ”Apa tidak janggal, 10 orang yang lolos itu semua merupakan kerabat dari perangkat desa dan kades,” katanya.

Dia yang lolos, kata Adip, putra dari Kades jadi perangkat, anaknya Kasun jadi sekretaris desa, dan anak perangkat desa ada yang menjadi staf. Termasuk keponakan-keponakan mereka ada yang jadi staf. ”Nah ini 45 orang yang sebagian sarjana, malah nilainya dibawah 50,” katanya.

Sementara Wakil Ketua Komisi A DPRD Ponorogo Agung Priyanto menerangkan, pihaknya akan memanggil Bapemas, Pemdes, Camat serta Sekda untuk berdiskusi terkait permasalahan ini. Dia berharap proses rekrutmen perangkat desa tidak boleh ada indikasi KKN.

“CPNS aja pakai CAT untuk proses seleksinya, kita ingin juga proses rekrutmen perangkat desa ini juga sudah komputerisasi. Harapannya biar semua puas dengan hasil, yang pintar dapat haknya yang tidak bagus juga tidak punya hak,” imbuh dia.

Agung ingin ke depan tidak ada lagi gejolak seperti ini terjadi di Ponorogo. Pihaknya bakal berkoordinasi mencari jalan keluar terkait permasalahan seleksi perangkat Desa Cekok ini.

“Proses rekrutmen di Ponorogo ini harus sesuai dengan aturan yang ada, jangan sampai ada permainan. Seleksi ini tujuannya untuk mencari SDM unggul yang nantinya mengatur dana desa yang besar jumlahnya. Kita juga tidak ingin ada gejolak atau demo, harus memberikan bukti yang ada,” pungkasnya.  bej, dtk