Potensi Melimpah, Panas Bumi Jadi Andalan Atasi Hantu Byar Pet Listrik

ist
Total kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) saat ini sebesar 1.948 MW. Jumlah ini menjadikan Indonesia sebagai negara produsen energi panas bumi terbesar kedua setelah Amerika Serikat 3.591 MW.

 

Ada alasan penting yang mendorong pemerintah untuk mengembangkan energi baru terbarukan. Pertama energi fosil makin lama makin habis dan tidak bisa digantikan. Kedua penggunaan energi fosil berlebihan dapat menimbulkan dampak pemanasan global.

Tak hanya di Indonesia,  upaya untuk menggali sumber energi baru yang ramah lingkungan serta mampu menggantikan ketergantungan pada energi fosil yang akan segera habis seperti minyak bumi, gas dan batubara juga dilakukan oleh banyak negara. Mereka menyadari berkurangnya produksi energi fosil terutama minyak bumi serta komitmen global dalam pengurangan emisi gas rumah kaca, perlu upaya agresif untuk meningkatkan peran energi baru dan terbarukan.

Sayangnya saat ini, untuk memenuhi kebutuhan energi, Indonesia masih mengandalkan sumber energi fosil sebanyak 94%, dan sisanya 6% menggunakan energi terbarukan. Guna menjaga ketahanan dan kemandirian energi, pemerintah melalui PP No 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional menargetkan porsi penggunaan energi terbarukan di Indonesia mencapai 23% pada tahun 2025 dan naik menjadi 31% pada tahun 2050. Sebaliknya, penggunaan energi dari minyak bumi pada tahun 2050 diturunkan separonya dari saat ini 40%.

Bicara soal energi terbarukan, sebenarnya Indonesia memiliki potensi energi terbarukan melimpah, salah satunya geotermal (panas bumi) yang disebut-sebut terbesar di dunia. Sayangnya pemanfaatan potensi tersebut belum maksimal sampai saat ini. Inilah yang menjadi tantangan besar bagi pengembangan energi di Indonesia.

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H Samsu menjelaskan Indonesia memiliki 40 persen dari potensi panas bumi di dunia atau setara 29 ribu MW. Namun, saat ini baru sekitar 6% dari potensinya di Indonesia yang telah digarap. “Pertamina sebagai BUMN yang diamanatkan mengelola energi nasional berkomitmen memenuhi target pemerintah untuk menekan porsi penggunaan energi fosil,” katanya.

Panas bumi yang selama ini adalah hartu karun yang kurang dimaksimalkan, bakal jadi andalan masa depan energi Indonesia. Ini mengingat panas bumi memiliki banyak keunggulan dalam mewujudkan green energy, yakni tidak menyebabkan pencemaran, tidak menghasilkan emisi karbon, dan tidak menghasilkan material beracun lain.

Melihat hal ini, Pertamina melalui anak usaha sektor hulu, Pertamina Geothermal Energy (PGE) terus menggenjot produksi energi panas bumi dari 14 wilayah kerja kuasa pengusahaan dan dua wilayah kerja izin panas bumi. Dari seluruh wilayah kerja tersebut, total kapasitas terpasang mencapai 1.877 Megawatt (MW).

Dari 14 wilayah kerja tersebut, lima area panas bumi sudah berproduksi dan satu proyek sudah selesai dengan konstruksi dioperasikan sendiri oleh PGE, lima area secara joint operation, tiga dalam fase pengembangan proyek panas bumi, dan tiga wilayah kerja panas bumi dalam tahap eksplorasi.

“Dengan total kapasitas terpasang sebesar itu, anak usaha Pertamina ini menduduki posisi ke-6 di antara perusahaan panas bumi terbesar di dunia. Kami optimistis ke depan akan mencapai target yang lebih besar,” jelas Dharmawan.

Menurut Dharmawan, dari proyek tersebut kapasitas terpasang yang dioperasikan sendiri oleh PGE (own operation) sebesar 672 MW dan dilakukan melalui skema upstream project dan total project. Proyek berada di Area Kamojang Jawa Barat dengan kapasitas terpasang sebesar 235 MW, area Lahendong Sulawesi Utara (120 MW), Karaha–Jawa Barat (30 MW), Ulubelu–Lampung (220 MW), Sibayak–Sumatra Utara (12 MW), serta proyek Lumut Balai–Sumatera Selatan dengan pekerjaan konstruksi Unit I (55 MW) dan telah diselesaikan dengan skema total project.

Rencana jangka panjang mulai 2021 sampai dengan tahun 2026, Pertamina melalui PGE akan mengucurkan investasi sebesar 2,68 miliar dolar AS atau Rp 38 triliun lebih untuk pengembangan wilayah kerja yang ada.  Dengan pengembangan wilayah kerja baru, kapasitas terpasang own operation PLTP akan naik hampir dua kali lipat dari 672 MW menjadi 1.112 MW. Dengan demikian PGE optimistis dapat meningkatkan cadangan menjadi 2.175 MW dan produksi listrik menjadi 7.455 GWh.

Menurut Dharmawan, dari total kapasitas terpasang saat ini pemanfaatan energi panas bumi tersebut berpotensi dapat menerangi 1.344.000 rumah dan menghemat cadangan devisa migas sekitar 31.785 BOEPD serta pengurangan emisi sebesar 3,4 ton CO2 per tahun.

Jumlah potensi sumber daya panas bumi Indonesia sekitar 11.073 MW dan cadangannya sekitar 17.506 MW. Kapasitas pembangkit listrik secara nasional pada akhir 2016 memproduksi listrik 59,6 GW atau 59.600 MW. Jika potensi tersebut digunakan semua sebagai pembangkit listrik, maka menambah kapasitas 18% dari total produksi listrik saat ini.

Penyebaran sumber energi panas bumi di Indonesia hampir merata, bisa ditemukan lebih dari 300 titik dari Sabang sampai Merauke.  Di Jatim, juga punya potensi panas bumi sebesar 1.012 MW. Gubernur Jatim Khofifah Indah Parawansa memaparkan potensi energi surya di Jatim adalah yang paling besar yakni mencapai 10.335 MW. Setelahnya ditempati oleh energi angin yaitu sebesar 7.907 MW, bioenergi sebesar 3.402 MW, panas bumi sebesar 1.012 MW dan air 525 MW.

Untuk mengatasi kebutuhan energi tersebut, lanjut Khofifah, Pemprov Jatim menetapkan target bauran energi baru terbarukan sebesar 4,9 persen sampai dengan 2020, 12,6 persen sampai dengan2025 dan dan 14 persen sampai dengan  2050. “Jatim akan mengoptimalkan segala potensi energi yang ada untuk menjamin ketahanan energi jangka panjang. Utamanya, mendorong pengembangan pembangkit panas bumi, pembangkit air dan pembangkit surya,” tuturnya.

Khofifah menambahkan, di Jawa Timur hingga kini belum semua rumah teraliri listrik. Dari data yang dimiliki Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (Dinas ESDM) Provinsi Jawa Timur, sedikitnya 568.030 rumah masih dalam kondisi gelap gulita. Dari jumlah tersebut 56.000 rumah tangga miskin. Daerah yang belum teraliri listrik terbanyak adalah Kabupaten Sumenep karena banyak kepulauan, Sampang, Situbondo, Bondowoso dan Jember. “Kami akan terus berkoordinasi dengan PLN untuk melakukan percepatan pembangunan jaringan listrik di wilayah-wilayah tersebut agar permasalahan listrik di Jatim teratasi,” imbuhnya.

Pakar Energi Terbarukan dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Ahmad Agus Setiawan menyebutkan energi panas bumi dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan energi listrik dan dapat mengurangi ketergantungan pada BBM sebagai sumber tenaga listrik. “Kebijakan pemanfaatan energi panas bumi secara serius akan dapat mengatasi krisis listrik  yang saat ini sangat menghantui masyarakat Indonesia. Harus diakui masih ada beberapa daerah di Indonesia yang listriknya masih byar pet (padam, Red),” katanya.

Ditegaskannya panas bumi satu sumber energi paling bersih dan ramah lingkungan. Salah satu keunggulannya yaitu dari energi ini tidak menyebabkan pencemaran (baik pencemaran udara, pencemaran suara, serta tidak menghasilkan emisi karbon, dan tidak menghasilkan gas cairan, maupunmaterial beracun lainnya. Energi panas bumi juga tidak menyebabkan pencemaran karena limbah yang dihasilkan berupa uap air.

“Energi  panas bumi merupakan sumber energi lokal yang tidak dapat diekspor dan sangat bermanfaat untuk membangkitkan energi listrik. Bisa menjadi pengganti BBM yang selama ini banyak digunakan sebagai sumber tenaga listrik. Ini artinya bisa menghemat cadangan devisa migas,” katanya.

Sulit Bersaing

Merujuk publikasi Outlook Energi Indonesia 2019 terbitan Sekjen Dewan Energi Nasional, disebutkan potensi energi baru terbarukan Indonesia masih sangat tinggi. Total potensi energi terbarukan ekuivalen 442 GW digunakan untuk pembangkit listrik, sedangkan BBN dan Biogas sebesar 200 ribu Bph digunakan untuk keperluan bahan bakar pada sektor transportasi, rumah tangga, komersial dan industri.

Sayangnya, pemanfaatan energi baru terbarukan untuk pembangkit listrik sepanjang 2018 baru mencapai 8,8 GW atau 14% dari total kapasitas pembangkit listrik (fosil dan non fosil) yaitu sebesar 64,5 GW. Total potensi energi terbarukan ekuivalen 442 GW digunakan untuk pembangkit listrik, sedangkan BBN dan Biogas sebesar 200 ribu Bph digunakan untuk keperluan bahan bakar pada sektor transportasi, rumah tangga, komersial dan industri.

Sekjen Dewan Energi Nasional Djoko Siswanto mengakui, minimnya pemanfaatan energi baru terbarukan untuk ketenagalistrikan disebabkan masih relatif tingginya harga produksi pembangkit berbasis energi terbarukan, sehingga sulit bersaing dengan pembangkit fosil terutama batubara. Selain itu, kurangnya dukungan industri dalam negeri terkait komponen pembangkit energi terbarukan serta masih sulitnya mendapatkan pendanaan berbunga rendah, juga menjadi penyebab terhambatnya pengembangan energi terbarukan.

Djoko Siswanto menjelaskan ada beberapa kiat yang bisa  ditempuh untuk mengembangkan energi baru terbarukan. Pertama, Indonesia perlu mempercepat penggunaan energi terbarukan untuk bahan bakar, salah satunya melalui bahan bakar nabati (BBN) B30 yang rencananya akan diterapkan pada awal 2020. Kedua, memperbanyak pembangkit listrik panas bumi. Ketiga, Indonesia harus terus mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin. Keempat, membangun pembangkit listrik tenaga air termasuk mikrohidro. Kelima, ketergantungan pada energi fosil bisa diatasi dengan mewajibkan semua gedung dan rumah menggunakan solar cell.

Di Indonesia, pengembangan energi panas bumi untuk pembangkit tenaga listrik dimulai pada 1978 dengan pengembangan Monoblok 250 kW di Lapangan Kamojang Garut, Jawa Barat, sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama di Indonesia. Namun, lapangan/tempat panas bumi pertama yang beroperasi secara komersial baru dibuka pada 1983 seiring dengan beroperasinya Unit I sebesar 30 MW di Lapangan Kamojang.

Perkembangan berikutnya adalah pengembangan lapangan panas bumi di Dieng Jawa Tengah (60 MW), Lahendong Sumatra Utara (60 MW), Salak Sukabumi (377 MW), Darajat Garut (260 MW), Wayang Windu Bandung (227 MW) diikuti oleh pengembangan lapangan-lapangan panas bumi di Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur.

Total kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) saat ini sebesar 1.948 MW. Jumlah ini menjadikan Indonesia sebagai negara produsen energi panas bumi terbesar kedua setelah Amerika Serikat (3.591 MW).

Keberadaan area-area prospek panas bumi di Indonesia yang kebanyakan di wilayah pegunungan dan pulau-pulau kecil memungkinkan pengembangan energi listrik untuk memenuhi kebutuhan rakyat di daerah terpencil.  Selain di Pulau Jawa dan Sumatera, pengembangan energi panas bumi juga dilakukan oleh pemerintah di pulau-pulau kecil seperti di Halmahera dan Pulau Bacan (Maluku Utara), Pulau Ambon (Maluku), Pulau Flores, Pulau Lembata (Nusa Tenggara Timur), Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), dan pulau-pulau kecil lain. Saat ini, pemerintah aktif menggelar survei pendahuluan di wilayah-wilayah tersebut, baik dilakukan sendiri melalui Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral maupun survei pendahuluan oleh BUMN maupun perusahaan swasta.

Meskipun panas bumi akan terus menjadi andalan transisi ke energi berkelanjutan, pemerintah terutama PLN harus tetap memperhatikan pentingnya prinsip kehati-hatian dalam pengembangan panas bumi. Ini bisa dilakukan dengan meminimalisir atau menghindari dampak negatif terhadap lingkungan dan perlindungan hutan bernilai konservasi tinggi, menjaga dan membangun nilai kearifan lokal masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam di sekitar area panas bumi. Juga meningkatkan keberlanjutan produksi panas bumi dan peran industri panas bumi dalam upaya konservasi. tis

 

WILAYAH KERJA PANAS BUMI YANG DIOPERASIKAN PGE

Lokasi                                                                                   Kapasitas (617 MW)

Kamojang Unit I-V Jawa Barat                                               235 MW

Lahendong Unit I – VI Sulawesi Utara                                    120 MW

Sibayak Unit I & II dan Monoblok Sumatera Utara                 12 MW

Ulubelu Unit I –IV Lampung                                                   220 MW

Karaha Unit I Jawa Barat                                                           30 MW

 

PROYEKSI PANAS BUMI

Lokasi                                                                                  Kapasitas

Lumut Balai Sumatera Selatan                                             2 x 55MW

Hululais Bengkulu                                                                2 x 55MW

Sungai Penuh Jambi                                                            1 x 55MW

 

PROGRAM JANGKA PANJANG

  • Meningkatkan cadangan 2.175 MW tahun 2026
  • Meningkatkan kapasitas PLTP terpasang menjadi 1.112 MW tahun 2026
  • Meningkatkan produksi listrik 7.455 GW tahun 2026
  • Mengucurkan investasi hingga 2,68 miliar dolar AS untuk pengembangan wilayah kerja hingga tahun 2026