OJK-TPAKD Jatim Dorong Akses Keuangan pada Pembudidaya Ikan Patin di Tulungagung

Kepala OJK Regional 4 Jatim, Heru Cahyono, (8 dari kiri) bersama beberapa pembudidaya ikan patin peserta Business Matching dan PETIK Keuangan di Tulungagung, Selasa (19/11/2019).

TULUNGAGUNG (global-news.co.id) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 4 Jawa Timur bersama Biro Perekonomian Jatim, Dinas Perikanan Provinsi Jatim, Asuransi Jasindo, dan BPD Jawa Timur yang tergabung dalam Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan “Business Matching Percepatan Akses Keuangan serta Pelatihan, Literasi dan Inklusi (PETIK) Keuangan” kepada para pembudidaya ikan patin di Kabupaten Tulungagung, Selasa (19/11/2019).

Kepala OJK Regional 4 Jatim, Heru Cahyono, mengatakan, pada 2019 ini TPAKD Jatim memiliki 7 sasaran komoditas prioritas yang akan diberikan pendampingan dan perluasan akses keuangan terutama kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Salah satunya adalah komoditas ikan patin di Kabupaten Tulungagung.

Ikan patin termasuk komoditas unggulan Kabupaten Tulungagung, selain ikan gurami, nila, dan lele. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, produksi ikan patin daerah ini juga untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke berbagai negara. Ini lantaran kualitasnya yang lebih baik dibanding ikan patin dari daerah lain. Selain dagingnya yang berwarna putih juga tidak bau tanah.

Heru menyebut TPAKD Jawa Timur merupakan forum koordinasi antar instansi dan stakeholders untuk meningkatkan percepatan akses keuangan di daerah dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera. Tim ini terbentuk atas Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/234/KPTS/2016 tentang Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) pada tanggal 30 Maret 2016.

Pada kesempatan tersebut, selain merealisasi akses keuangan kepada pembudidaya ikan patin, juga dilakukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan pada para pembudidaya ikan patin di Kabupaten Tulungagung. Mereka ini diajari bagaimana membuat perencanaan keuangan, pengenalan kredit modal kerja, dan dikenalkan pada produk asuransi perikanan serta cara budidaya ikan yang baik.

Heru berharap pencairan kredit kepada pembudidaya ikan patin hendaknya digunakan untuk tujuan produktif dalam rangka meningkatkan produksi dan kualitas ikan patin, dan tidak digunakan untuk tujuan konsumtif.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan OJK pada 2016, indeks literasi keuangan Nasional sebesar 29,7% dan indeks inklusi keuangan Nasional sebesar 67,8%. Jawa Timur memiliki indeks literasi dan inklusi keuangan yang lebih tinggi dari Nasional yaitu indeks literasi keuangan sebesar 35,58% dan indeks inklusi keuangan sebesar 73,25%.

Pada 2019 OJK kembali melakukan SNLIK yang hasilnya menunjukkan peningkatan yaitu indeks literasi keuangan menjadi sebesar 38,03% dan indeks inklusi keuangan menjadi 76,19%.  Di Jatim, angkanya masih tetap lebih tinggi, indeks literasi keuangan meningkat jadi 46,95% dan indeks inklusi keuangan jadi 87,96%.

Sesuai Peraturan Presiden RI nomor 82 tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI), indeks inklusi keuangan secara Nasional ditargetkan sebesar 75% pada akhir tahun 2019, sementara indeks literasi keuangan ditargetkan sebesar 35% sebagaimana tercantum dalam Perpres nomor 50 tahun 2017 tentang Strategi Nasional Perlindungan Konsumen.

Pada kesempatan tersebut dilakukan juga pemberian kredit secara simbolis kepada 8 pembudidaya ikan patin dengan nilati total Rp 1,5 miliar.ret