Lifting Minyak dari Jabanusa Lampaui Target, 4 Proyek Ditarget Selesai Tepat Waktu

Kepala SKK Migas Jabanusa (Jawa, Bali, Nusa Tenggara) Nurwahidi saat menjadi pembicara dalam kegiatan lokakarya Media Periode III SKK Migas Jabanusa-K3S dengan pimpinan media massa dari Jatim dan Jateng, Selasa (19/11/2019).

DENPASAR (GN) –Target lifting minyak dari Jabanusa (Jawa, Bali dan Nusa Tenggara) pada 2019 sebesar 258,169 ribu barel per hari dan hingga jelang tutup tahun tercapai 100,87 persen dari target.  Lapangan Banyuurip yang dioperatori ExxonMobil memberikan kontribusi signifikan atas pencapaian ini.

“Saat ini produksi minyak di Jatim, mampu menggeser posisi Riau yang sebelumnya sebagai produsen terbesar di Tanah Air. Target yang ditetapkan pemerintah telah melampaui target. Ini menjadi bukti secara nasional lifting migas Jabanusa penting dan jadi backbone,” kata Kepala SKK Migas Jabanusa Nurwahidi pada kegiatan lokakarya Media Periode III SKK Migas Jabanusa-K3S dengan pimpinan media massa dari Jatim dan Jateng, Selasa (19/11/2019).

Saat ini sebanyak 15 kontraktor kontrak kerja sama (K3S) di kawasan SKK Migas Jabanusa sedang menjalankan eksploitasi migas. Selain itu, ada 6 K3S menjalankan aktivitas eksplorasi.  Data 2018 menunjukkan, realisasi lifting minyak dari Jabanusa sebesar 253,822 ribu barel per hari atau mencapai 102,60 persen dari target. Sedang target lifting gas sebesar 753,2 juta kaki kubik per hari. Sedangkan target lifting gas dari Jabanusa pada 2019 sebesar 731,3 juta kaki kubik per hari.

Data menunjukkan total kontribusi K3S di Jabanusa terhadap lifting minyak secara nasional mencapai 40% atau sekitar 300 ribu barel per hari. Lapangan Banyuurip yang dioperatori ExxonMobil memberikan kontribusi sebesar 215 sampai 220 ribu barel per hari terhadap lifting minyak nasional. Sejumlah K3S di Jabanusa kontribusinya sekitar 40% untuk minyak, sedang untuk gas sekitar 10%. Lifting gas terbesar dari Kaltim dan lapangan Tangguh Papua.

Nurwahidi menyebutkan kendati menghadapi banyak tantangan tak ringan kegiatan hulu migas secara nasional, hingga kuartal III 2019, capaian lifting gas secara nasional sebesar 1.050 juta kaki kubik per hari, minyak dengan 745 ribu barel per hari. Untuk capaian investasi hulu migas hingga September 2019 sebesar 8,4 miliar dolar AS dan capaian penerimaan negara dari hulu migas sebesar  10,99 miliar dolar AS.

Karena itu pihaknya berharap empat proyek besar sektor hulu migas di kawasan SKK Jabanusa diharapkan tuntas sesuai jadwal yang ditetapkan.  Sebab, keempat proyek sangat mendukung target capaian lifting minyak dan gas secara nasional. Keempat proyek strategis hulu migas itu adalah proyek Kedung Keris di Kabupaten Bojonegoro dengan operator ExxonMobil Cepu Ltd, proyek Jambaran Tiung Biru di Kabupaten Bojonegoro dengan operator Pertamina EP Cepu, proyek Bukit Tua Phase 3 yang dioperatori Petronas Carigali Ketapang II Ltd di Kabupaten Sampang, dan terakhir proyek TSB Phase 2 dengan operator Kangean Energi Indonesia di Kabupaten Sumenep.

“Kita harapkan keempat proyek tersebut selesai on schedule. Sebab, selesainya proyek sesuai jadwal berpengaruh positif terhadap capaian target lifting yang telah ditetapkan pemerintah,” ujarnya.

Khusus untuk proyek Jambaran Tiung Biru, Nurwahidi menjelaskan, progress proyek secara keseluruhan mencapai 37,72 persen.  Di mana progress untuk pekerjaan engineering proyek dengan 80,72 persen, procurement dengan 40,36 persen dan construction dengan 14,49 persen.

Ditargetkan pada Juni 2021 mendatang, proyek Jambaran Tiung Biru  tuntas dan mulai berproduksi. Dari proyek ini, target maksimal sales gas meningkat 10 persen secara nasional atau setara 192 juta kaki kubik per hari.

Dalam konteks capaian target proyek sesuai jadwal, menurut Nurwahidi, dukungan konstruktif dari semua stakeholder sangat diharapkan, baik pemerintah daerah, tokoh masyarakat, media massa, dan masyarakat secara luas. “Saya juga sampaikan banyak terima kasih atas dukungan media massa kepada SKK Migas selama ini. Hanya satu  persen berita negatif tentang hulu migas di Jabanusa sepanjang 2019, selebihnya positif,” ungkapnya.

Sementara Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro, mengutarakan dalam melihat sektor hulu migas dalam konteks ekonomi nasional kekinian jangan hanya dalam perspektif penerimaan negara yang tergambar secara statistik di APBN. Dibutuhkan analisis input dan output yang bersifat multiplier effect kegiatan investasi hulu migas secara komprehensif.  “Terutama dalam sudut pandang bagaimana investasi dan kegiatan hulu migas memberikan kontribusi pada pembentukan Produk Domestik Bruto) nasional dan porsi tenaga kerja yang terlibat,” jelasnya.

Lebih lanjut Komaidi mengatakan, dari kegiatan investasi hulu migas membutuhkan 73 sektor pendukung dan 45 sektor pengguna. Dari 73 sektor pendukung tersebut memberikan kontribusi PDB sebesar 55,99 persen dan porsi tenaga kerja yang ditarik sebesar 61,53 persen. Untuk sektor pengguna, besar kontribusi PDB yang dihasilkan mencapai 27,27 persen dan porsi tenaga kerja yang ditarik sebesar 19,34 persen. “Dari perspektif ini, posisi hulu migas tetap strategis dan mesti didukung semua stakeholder,” ingatnya.

Di tataran global, tambah Komaidi, kendati kampanye dan inovasi teknologi energi baru terbarukan (EBT) atau energi non fosil terus dikampanyekan, tren demand minyak dan gas secara global cenderung bergerak naik secara konstan. Negara India, China, dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara sampai tahun 2050 menjadi negara konsumen minyak dan gas dalam volume besar, mengingat besaran angka demografi dan pertumbuhan ekonomi mereka yang bergerak konstan.

Menurut Komaidi, jika perang dagang antara Amerika Serikat versus China mereda dan dinamika growth ekonomi global menggeliat kembali, dia memperkirakan demand migas di pasar internasional kembali meningkat juga. “Boleh saja kampanye energi nabati dan EBT terus digeber, tapi konsumen energi memandang energi fosil lebih efisien dan terbukti efektif mendukung growth ekonomi dan mobilitas orang di seluruh dunia.  Nyatanya cost energi nabati jauh lebih mahal dibanding energi fosil,” tegas Komaidi. tis