Ketika Surabaya Belajar Wisata dan Transportasi Air di Bangkok

GN/Purnomo Siswanto
Sungai Chao Phraya menjadi destinasi wisata air terbaik di Bangkok, Thailand yang terkenal hingga Eropa.

 

Pemerintah Kota Surabaya terus berusaha mengembangkan dunia pariwisatanya. Salah satunya  mengoptimalkan pengembangan kawasan Sungai Kalimas. Untuk itu Surabaya   belajar mengelola wisata  transportasi air di Kota Bangkok, Thailand.

 

LAPORAN Purnomo Siswanto dari Bangkok, Thailand

 

SUNGAI  Chao Phraya di Bangkok sebenarnya tidak jauh beda dengan Kalimas di Surabaya. Sama-sama jadi objek wisata sungai. Tentu ada bedanya.  Sungai utama di kota Bangkok ini terkenal sebagai destinasi wisata air lantaran dikelola secara profesional. Karena itu wisata sungai di kota ini cukup terkenal. Bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di kawasan Asia Tenggara hingga Eropa.

Sejumlah turis asing, termasuk rombongan dari Pemkot Surabaya,  pun tampak menikmati berlayar dengan kapal menyusuri sungai yang airnya jernih melimpah itu. Menikmati gemerlap indahnya kota.

“Sungai di Kota Bangkok sudah menjadi destinasi wisata air yang dikenal di Asia Tenggara. Bahkan di dunia. Karena itu kami perlu belajar pengelolaan wisata air di Kota Bangkok ini,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Muhammad Fikser, usai menggelar pertemuan di Balai Kota Bangkok, Thailand, Senin 28 Oktober 2019.

Fikser tengah memimpin rombongan sejumlah pejabat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota Surabaya dan wartawan saat melakukan studi banding transportasi air di Bangkok.  Dia dan sejumlah pejabat lain dalam rombongan itu terlihat memantau dengan serius detail pengelolaan pariwisata dan transportasi air di kota ini.  Sungai Chao Phraya memang menawan untuk berpelesir sambil melihat pemandangan kota.

“Ada beberapa hal yang kita pelajari untuk dijadikan referensi pembangunan di Surabaya. Utamanya pariwisata dan transportasi airnya. Wisata air di Bangkok sudah maju dan diminati wisatawan Asia dan Eropa. Terbukti banyak turis Asia dan Eropa telah mengunjungi wisata sungai ini,” katanya.

Dipilihnya Bangkok sebagai tempat studi banding pengembangan pariwisata dan transportasi air karena Bangkok menjadi kota destinasi wisata terbaik di Asia. Bahkan, sektor pariwisata tersebut telah penyumbang pemasukan devisa tertinggi bagi negara Gajah Putih tersebut. Bukan hanya wisata pantai dengan gemerlap kehidupan modernya, tapi juga wisata sungai yang unik.

Sungai Chao Phraya cukup besar. Sungai ini menghubungkan beberapa provinsi di Thailand sehingga airnya melimpah. Pemandangan di pinggir sungai juga dibuat menarik, sehingga wisatawan bisa terpesona.

Fikser berharap Pemkot Surabaya bisa mengadopsi konsep wisata Sungai Chao Phraya yang diterapkan di Sungai Kalimas Surabaya.  “Kami ingin tahu cara pengelolaannya. Karena kita punya Sungai Kalimas yang bisa dikembangkan jadi sarana transportasi dari daerah Tanjung Perak sampai ke tengah kota Surabaya. Itu juga bisa dikembangkan pariwisatanya,” kata Fikser.

 

Kondisi Sungai Berbeda  

Namun, ada perbedaan antara Sungai Chao Phraya di Bangkok dengan Sungai Kalimas di Surabaya. Salah satunya terkait keberadaan jembatan-jembatan yang melintas di atas sungai Kalimas yang memang tidak disiapkan untuk kapal-kapal untuk melintasi sungai.

Dia menuturkan, tidak banyak jembatan melintas di atas sungai di Bangkok sehingga bisa digunakan untuk kapal melayarinya. Hal itu berbeda dengan di Surabaya yang banyak jembatan  di atas Sungai Kalimas, tapi tidak tinggi, sehingga tidak bisa dilewati kapal kecuali hanya perahu ukuran kecil.  Yang jadi masalah  jembatan-jembatan tersebut memiliki nilai sejarah tinggi sehingga tidak mungkin dihilangkan. Misalnya Jembatan Merah.

“Ada jembatan yang punya nilai sejarah sangat tinggi. Sementara posisi jembatannya juga terlalu pendek. Ketika ada air pasang, sungai penuh air, hingga  di bawah jembatan tersebut tidak bisa dilalui perahu wisata. Nah, untuk mewujudkan wisata sungai di Surabaya harus kita sesuaikan kondisi jembatan tersebut,” katanya.

Perbedaan itu membuat  wisata sungai di Surabaya tidak mesti sama seperti di Bangkok. Harus disesuaikan dengan kondisi yang ada di Surabaya. Salah satu upaya untuk mewujudkan wisata sungai tersebut kini sedang dibangun pintu air yang posisinya berada di utara Jembatan Petekan.

Pintu air di kawasan Surabaya utara ini untuk mengatur kondisi pasang surut air laut sehingga ketika posisi air laut surut air Sungai Kalimas tidak ikut surut hingga perahu atau kapal pun masih  bisa berlayar. Sebaliknya, ketika air laut pasang, Sungai Kalimas juga tidak dipenuhi air laut yang membuat posisi air mendekati jembatan. Kondisi ini tidak memungkinkan dilewati perahu wisata.

Terkait pengelolaan Sungai Kalimas, Fikser mengakui melibatkan banyak pihak, di antaranya Balai Besar Sungai Brantas, dan Perum Jasa Tirta. Untuk itu, Fikser berharap semua pihak bisa mendukung pengembangan pariwisata dan transportasi air Sungai Kalimas.

“Itu sebabnya, kami terus berupaya mengelola Kalimas untuk wisata air Surabaya. Alasannya,   wisata air ini bakal membawa manfaat banyak bagi masyarakat Surabaya. Bahkan, untungnya bukan untuk pemerintah kota saja, tapi masyarakat. Kita harapkan bisa saling bersinergi dengan semua pihak terkait,” ujar Fikser.

 

Gemerlap Kota

Sejumlah wisatawan mengaku tak lengkap rasanya jika mengunjungi Bangkok tanpa menyusuri sungai Chao Phraya. Sungai ini membelah kota Bangkok dari utara hingga selatan.

Memiliki air yang tenang berwarna coklat pekat, sungai Chao Phraya selalu ramai baik siang maupun malam. Saat siang, sungai ini dipenuhi kapal-kapal pengangkut barang. Namun beranjak gelap, sungai tampak meriah dengan kapal-kapal wisata malam.

Wartawan Global News berkesempatan menikmati sungai yang memiliki arti “Sungai Raja” ini bersama rombongan dari Pemkot Surabaya untuk studi banding transportasi dan wisata air di Bangkok.

Pada siang hari, sejumlah tempat legendaris bisa ditemui di sepanjang aliran sungai. Mulai dari Grand Palace di area Rattanakosin, Wat Pho, atau patung Buddha sedang istirahat (konon terbesar di dunia), Wat Arun, dan Chinatown.

Tak sulit menikmati wisata di sepanjang sungai. Banyak dermaga kecil dan ratusan perahu siap mengangkut wisatawan. Harganya pun penuh pilihan. Untuk turis asing disediakan perahu berbendera biru yang artinya bisa digunakan turis dilengkapi pemandu wisata.

Perahu mulai beroperasi mulai pukul 06.00 WIB hingga 19.00 WIB. Tapi jika Anda mau lebih ingin leluasa, banyak disediakan kapal khusus wisata yang bisa disewa dengan tarif 500 baht per orang. Saat malam tiba, ratusan orang akan memenuhi dermaga-dermaga di pinggir sungai. Mereka menunggu giliran untuk diangkut kapal wisata malam.

Makan malam dan awak kapal sudah menanti dari kejauhan. Gemerlap lampu-lampu hias dan suara alunan musik menambah suasana lebih ramai. Sambil menikmati gedung pencakar langit yang menghiasi kota Bangkok, di atas kapal bisa merasakan angin malam yang dingin.

Sudah ratusan tahun sungai Chao Phraya menjadi alternatif rute transportasi bagi penduduk Bangkok. Mengarungi sungai Chao Praya menjadi aktivitas wajib jika kita bertandang ke negeri Gajah Putih.

Sungai Chao Phraya merupakan sungai terpanjang dan terpenting di negara Thailand. Memiliki panjang 372 kilometer yang mengalir dari utara Thailand menuju ke Teluk Thailand (Teluk Siam) di selatan. Hulu sungai Chao Phraya ini berada di Sungai Ping.

Jika ditelisik lebih jauh, Bangkok menjadi pesat dalam pembangunan seperti sekarang tak lain karena adanya sungai ini. Sungai ini terus dibangun untuk mengatasi masalah banjir di Thailand terutamanya di Bangkok. Ribuan empang dibuat agar bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Namun semua itu butuh proses panjang. Nah, proses bagaimana sungai Chao Phraya bisa menjadi seperti sekarang—di mana dikunjungi banyak wisatawan asing dan menggerakkan ekonomi warga setempat–itulah yang dipelajari oleh para pejabat Pemkot Surabaya. Selanjutnya diterapkan untuk mengembangkan wisata air di Sungai Kalimas. (*)