Industri Jasa Keuangan di Jatim Tumbuh Positif

SURABAYA (global-news.co.id) – Kinerja industri jasa keuangan di Jawa Timur sampai dengan triwulan tiga 2019 menunjukkan hal yang positif. Hal ini tercermin dari penyaluran kredit yang naik 5,79 %, dana pihak ketiga naik 8,76%, dan total aset bank meningkat 8,45 %.

Heru Cahyono

“Intermediasi perbankan juga cukup baik dengan LDR sebesar 84,40 % dengan NPL yang masih terjaga sebesar 3,56%,” kata Kepala OJK Regional 4 Jawa Timur, Heru Cahyono, dalam rilisnya menyambut HUT ke-8 OJK, Sabtu (23/11/2019).

Heru juga menunjukkan kinerja pasar modal yang positif. Ini terlihat pada peningkatan jumlah investor saham sebesar 38,99%, lebih tinggi dibandingkan dengan nasional yang hanya sebesar 34,11%.

“Jumlah investor saham di Jawa Timur sebesar 12,89% dari total investor saham secara nasional,” ungkapnya.

Kinerja sektor perbankan yang membaik ini juga ditunjukkan oleh industri keuangan lainnya. Sektor asuransi misalnya, OJK Regional 4 Jawa Timur mencatat pendapatan premi asuransi tumbuh 2,69%. Sedangkan piutang perusahaan pembiayaan tumbuh 4,62%, dengan NPF yang terjaga pada poin 1,85%.

Selain itu perkembangan dana pensiun juga menunjukkan tren positif. Pertumbuhan aset bersih serta investasi masing-masing sebesar 12,58% dan 12,01%.

Lebih lanjut, Heru menjelaskan, OJK Regional 4 Jawa Timur telah melakukan upaya yang masif dan intensif untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan. Di antaranya melalui fungsi edukasi dan perlindungan konsumen, serta optimalisasi Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).

“Edukasi kepada masyarakat dilaksanakan melalui 142 kegiatan sosialisasi dengan peserta edukasi sebanyak 24.145 peserta yang terdiri dari berbagai profesi, pelaku UMKM, pegawai, pelajar, akademisi dan ibu rumah tangga,” ungkapnya.

Peningkatan inklusi sampai dengan triwulan tiga tahun 2019 telah dilakukan beberapa cara. Seperti, pendirian 15 LKMS bank wakaf mikro di sejumlah lokasi pondok pesantren.

“Ini bertujuan untuk memberdayakan ekonomi masyarakat miskin di sekitar pondok pesantren dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada rentenir,” kata Heru menjelaskan.ret