Iklim Investasi Positif, Portofolio Investasi Jadi Lebih Dinamis

ist
Bank Commonwealth merekomendasikan investor untuk lebih dinamis lagi dalam mengalokasikan portofolio investasinya ke instrumen obligasi maupun reksadana saham dengan tetap memperhatikan profil risiko para investor.

JAKARTA (global-news.co.id)-Perundingan perdagangan AS-Tiongkok Oktober lalu berakhir dengan  nada  optimistis,  kedua  belah  pihak  masing-masing  memiliki  kepentingan  untuk  menyudahi ketegangan  yang  sudah  berlangsung  lebih  dari  satu  tahun.  Selanjutnya  pertemuan  dijadwalkan  akan dilanjutkan  Desember ini  dan  terlihat  kedua  belah  pihak  berkeinginan  untuk  mencapai  kesepakatan perdagangan  tahap  pertama  tersebut.

Melihat  hal  itu,  Bank  Commonwealth  merekomendasikan  investor untuk lebih dinamis lagi dalam mengalokasikan portofolio investasinya ke instrumen obligasi maupun reksadana saham dengan tetap memperhatikan profil risiko para investor.

Mayoritas  hasil  laporan  pendapatan  perusahaan  penghuni  indeks  S&P  500  menunjukkan  hasil  yang  lebih positif dibandingkan dengan perkiraan, ditambah dengan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga membuat sentimen positif untuk pasar investasi.

Pada Oktober lalu investor juga melihat perkembangan Brexit dengan hati yang tenang, seiring dengan diterimanya  usulan  kesepakatan  antara Inggris  Raya dan  Uni  Eropa,  walaupun masih  belum  mendapatkan persetujuan  dari  parlemen  Inggris,  sehingga  Uni  Eropa  kembali  menyetujui  permohonan  Inggris  untuk memperpanjang tenggat waktu Brexit hingga Januari 2020.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia merespon kebijakan The Fed dengan memangkas suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo sebesar 25 basis poin ke angka 5,00%, ditambah dengan optimisme pelantikan kabinet Indonesia Maju yang pernuh warna menjadi sentimen positif untuk pasar investasi.  Meski demikian, ada hal-hal yang harus diperhatikan para investor pada November ini yakni perkembangan rencana  perundingan  lanjutan  antara  Amerika  Serikat  dan  Tiongkok  terkait  perang  dagang  dan  data pertumbuhan  ekonomi  kuartal  III-2019  tiap  negara  yang  dijadwalkan  akan  dirilis  di  bulan  ini.

“Data pertumbuhan ini akan menunjukkan apakah perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia lebih buruk atau lebih baik  dari  ekspektasi.  Pertumbuhan  ekonomi  dunia  yang  melambat  disebabkan  tensi  perang  dagang  yang belum usai, namun berbagai bank sentral saat ini melonggarkan kebijakan moneter untuk mendorong dana yang mengendap di tabungan dapat masuk ke investasi atau konsumsi, sehingga dapat memicu pertumbuhan ekonomi,” jelas Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya di Jakarta, Rabu (13/11/2019).

Ivan menambahkan, laporan pertumbuhan laba emiten kuartal-III 2019 sudah dimulai pada  Oktober lalu,  dengan  mayoritas  perusahaan  memiliki  hasil  pertumbuhan  laba  di  atas  perkiraan.  Hal  tersebut  juga merupakan sentimen positif bagi pasar investasi. Laporan pertumbuhan laba yang di atas ekspektasi, ditambah dengan pertumbuhan ekonomi yang melaju sedikit lebih baik dari perkiraan serta perkembangan positif atas perundingan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok diharapkan mampu menunjang iklim pasar investasi pada November ini tetap positif.  Dengan kondisi  yang bergerak  ke arah  positif ini,  alokasi portofolio  investasi  dapat menjadi  lebih dinamis, namun tetap memperhatikan profil risiko setiap nasabah.

“Untuk profil risiko Balanced, Bank Commonwealth menyarankan untuk membagi porsi portofolio sebanyak 30% di reksa dana fixed income dan 30% di reksa dana saham, dengan mengambil posisi di tengah era suku bunga rendah. Sedangkan untuk profil risiko Growth kami tetap memilih porsi lebih besar di reksa dana saham dengan alokasi sebesar 70%, mempertimbangkan iklim investasi tetap positif di kuartal IV-2019,” ujar Ivan.

Untuk dapat mengoptimalkan investasi para nasabah, Bank Commonwealth menyediakan aplikasi CommBank SmartWealth yang merupakan aplikasi pertama di Indonesia yang berfokus pada solusi wealth management secara komprehensif dan dilengkapi dengan fitur robo-advisory yang dapat memberikan rekomendasi alokasi aset investasi untuk membantu mengoptimalkan investasi nasabah sesuai dengan profil risikonya di mana saja dan kapan saja. Aplikasi ini dapat membantu para nasabah mengantisipasi dampak dari perubahan kondisi ekonomi khususnya kondisi pasar dan mengoptimalkan investasi mereka.  Aplikasi CommBank SmartWealth kini juga dilengkapi dengan fitur baru untuk makin melengkapi kebutuhan investasi nasabah yakni dengan fitur pembelian SBN Ritel Online yang baru diluncurkan pada awal Oktober lalu dengan menawarkan seri ORI016. ttw