Hadang Produk Impor, Industri UKM-IKM Perlu Didorong ke Arah Digital

Acara Gathering e-Commerce Jawa Timur 2019, IKM Naik Kelas Menuju Pemasaran Digital yang diselenggarakan oleh Disperindag Jatim di Hotel Grand Mercure Mirama, Selasa (26/11/2019).

SURABAYA (global-news.co.id) – Transaksi e-commerce masih akan mendominasi pada tahun-tahun mendatang dan memberikan kontribusi lebih banyak pada GDP (Gross National Product). Untuk mencapai arah ini, industri UKM – IKM perlu didorong ke arah digital.

Public Policy and Government Relation Manager IDEA (Indonesia E-Commerce Association) Roffi  Uddarojat menjelaskan  pada  tahun 2018 penetrasi ekonomi digital terhadap GDP nasional mencapai 11%.  Angka ini masih kecil, di Tiongkok (China) pada tahun 2018  kontribusi ekonomi digitalnya telah mencapai 40%. Namun seiring pesatnya perkembangan ekonomi digital di Indonesia, diperkirakan dalam tiga tahun mendatang kontribusi ini akan naik hingga tiga kali lipat. Apalagi kesadaran pelaku UKM – IKM untuk memanfaatkan teknologi dalam proses kerjanya juga terus meningkat.

Karena itu UKM-IKM di Indonesia perlu didorong untuk makin aktif ke arah digital. Apalagi saat ini momen pas, produk impor merajalela. “Industri bisa berjaya jika UKM-IKM yang menjadi backbone ekonomi kita juga berjaya. Jika mereka berjaya, saya yakin mampu menghadang laju produk impor karena UKM luar negeri juga gencar memanfaatkan pemasaran digital,” kata Roffi Uddarojat pada acara Gathering e-Commerce Jawa Timur 2019, IKM Naik Kelas Menuju Pemasaran Digital yang diselenggarakan oleh Disperindag Jatim di Hotel Grand Mercure Mirama, Selasa (26/11/2019).

Acara ini dibuka oleh Kepala Disperindag Jatim Dr Ir Drajat Irawan SE,MT didampingi dengan Kepala Bidang Pengembangan Industri dan Perdagangan  Ir Saiful Jasan. Acara dihadiri 100 IKM di Jatim.

Menurut Roffi jumlah pengguna belanja online di Indonesia mencapai 35,5 juta orang pada tahun 2019. Sementara itu platform  yang paling banyak diminati  untuk berjualan secara online lebih didominasi oleh aplikasi media sosial, seperti WhatsApp, Instagram dan Facebook.  ”Artinya mereka sudah sadar media sosial, namun masih butuh dorongan kuat agar makin agresif memanfaatkan media sosial untuk memacu industri perdagangan. Dan prasyarat tumbuhnya UKM-IKM digital adalah dukungan penyediaan internet ke berbagai pelosok serta regulasi pemerintah yang memudahkan mereka,” katanya.

Sedangkan kesulitan atau hambatan yang dihadapi IKM  dan UKM untuk masuk pasar digital adalah pengoperasian aplikasi dan cara menyajikan gambar/foto produk yang menarik konsumen.

IDEA didirikan sejak Me 2012 saat itu baru terdaftar 9 perusahaan. Hingga Februari 2019 jumlah anggota mencapai 320 perusahaan, mulai market place, travel, online retail. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat pesat dalam lima tahun mendatang seiring pemasaran online yang makin diminati masyarakat.

Pembicara lainnya Agung D Kurnianto dari CV Revolt Industry mengudar soal  kisah sukses IKM dalam memanfaatkan e-commerce. Agung yang awalnya menekuni dunia fotografi tertarik banting setir ke dunia bisnis olahan kulit pada tahun 2014. Dengan modal pinjaman Rp 20 juta, Agung pun terjun ke dunia kulit. Pengetahuannya tentang bisnis terutama kulit masih nol besar saat itu. Namun dia berusaha untuk belajar agar bisa mengembangkan dan membangun usahanya ini. Jatuh bangun dalam merintis usaha dia alami hingga usahanya pernah mengalami kebakaran.

Namun dia tak pantang menyerah dan terus untuk bangkit lagi. Bermodal belajar dari Youtube dan relasi-relasi kenalannya, Agung pun terus meningkatkan kualitas dan penetrasi produk andalannya yakni mulai dari dompet, ID card holder, tas, hingga jaket. “Saya akhirnya menyadari apa yang kita share di media ternyata nyampai ke kastemer,” katanya seraya menjelaskan dengan berbagai media sosial yang digunakan untuk strategi pemasaran, konsumennya tak hanya dating dari dalam negeri, juga berasal dari luar negeri.

Karena itu dia mengajak agar pelaku UKM-IKM konsisten dan inovatif dengan apa yang diupload di media sosial. Sehingga ada kepercayaan akan konten yang dipasarkan.  “Konsisten dan inovatif, kunci sukses berusaha. Yang utama bukan modal. Ada modal kalau tidak ada ide, inovasi ya sama saja,” katanya.

Sementara itu saat membuka acara, Kepala Disperindag Jatim Drajat Irawan menjelaskan untuk mendukung IKM go digital Pemprov Jatim telah mengawali melakukan MoU dengan Bukalapak. Kerjasama ini untuk memberikan solusi bagi kebutuhan masyarakat Jatim serta memberdayakan UKM dan IKM setempat. Channel kerjasama terus dibuka dengan marketplace yang lain di antaranya Bukalapak, Tokopedia. “Eksisting startup  Jatim yang dibantu Bukalapak sampai saat ini mencapai 1.407,” katanya.

Disperindag Jatim menargetkan dalam 5 tahun ke depan bisa mengedukasi sekitar 270.000 IKM untuk masuk ke pasar digital secara bertahap. Saat ini mitra binaan IKM Jatim yang sudah mendapatkan edukasi dan masuk pasar digital mencapai 1.249 IKM.

“Sebetulnya IKM kita sudah banyak yang masuk di marketplace digital karena ada yang sudah mandiri. Namun yang mendapatkan edukasi dari Disperindag Jatim memang belum banyak. Ini yang jadi fokus kami dalam tahun-tahun mendatang,” katanya.

Dia mengatakan selama ini IKM  yang masuk pasar digital kebanyakan ada di marketplace Bukalapak. Pemprov Jatim sendiri sudah melakukan konsolidasi dengan sejumlah marketplace lainnya agar mau memberikan ruang lebih banyak bagi produk-produk IKM Jatim, ketimbang produk impor.

Pembicara lain yang dihadirkan dalam sesi kedua adalah Gapura Digital yang mengulas cara menggunakan Google Bisnis untuk meningkatkan kinerja dan Tokopedia yang menjelaskan cara membuka dan mengelola toko di marketplace. tis