Banjir Impor Ayam, Peternak Rugi Rp 2 Triliun

Demo para peternak ayam hidup yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) ke Kantor Kementerian Perdagangan di Jakarta, Rabu (27/11/2019).

JAKARTA (global-news.co.id) – Para peternak ayam hidup yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) mengadu ke Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga. Pengaduan terkait kerugian yang mereka derita akibat penurunan harga ayam hidup di pasar dan perusahaan integrator.

Peternak mengklaim penurunan harga ayam belakangan ini telah merugikan mereka sampai dengan lebih dari Rp 2 triliun.  Salah satu anggota paguyuban dari Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jawa Tengah Parjuni menjelaskan kerugian terjadi akibat harga jual ayam hidup berada di kisaran Rp 16 ribu sampai Rp 17 ribu per ekor. Padahal, Harga Pokok Penjualan (HPP) dari pemerintah berada di angka Rp 18 ribu per ekor.

“Harga sekarang sebenarnya sudah lebih baik dari Juli lalu, sekitar Rp 5 ribu sampai Rp10 ribu per ekor, tapi harga yang masih lebih rendah dari HPP ini membuat peternak tetap merugi karena harga bibit dan pakan pun cukup tinggi,” ujar Parjuni, Rabu (27/11/2019).

Ia merinci harga bibit berada di kisaran Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu saat ini. Sementara harga pakan berupa jagung mencapai Rp 7.000 sampai Rp 7.300 per kilogram. Padahal, peternak masih perlu mengeluarkan biaya lain untuk merawat ayam hingga siap dijual. Perhitungannya, harga ideal untuk bibit seharusnya berada di bawah Rp 5 ribu per bibit, sedangkan harga pakan di kisaran Rp 4 ribu per kg.

“Untuk harga bibit saja, seharusnya maksimal hanya 30 persen dari harga jual ayam hidup. Misalnya, harga ayam Rp 15 ribu per ekor, maka seharusnya harga bibit tidak sampai Rp 5 ribu per kg, tapi sekarang lebih tinggi,” ujarnya.

Selain persoalan harga bibit dan pakan, Parjuni mengatakan penurunan harga jual ayam hidup juga terpengaruh oleh peningkatan pasokan. Ini terjadi karena kebijakan impor dari pemerintah sebanyak 707 ribu ekor per tahun.

Padahal, rata-rata hasil produksi ayam di dalam negeri berkisar 68 ribu sampai 70 ribu per minggu. Jumlah ini, kata Parjuni, sejatinya sudah mencukupi kebutuhan masyarakat sekitar 55 juta sampai 57 juta per minggu. “Impor ini diduga karena ada perusahaan tertentu yang nakal meminta di atas kuota dengan alasan ini dan itu, padahal jumlahnya mengganggu kami. Makanya kami minta ini dilihat lagi,” tuturnya.

Di sisi lain, sambungnya, kebijakan impor membuat perusahaan integrator lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan mereka dari impor. Akhirnya, perusahaan mengurangi pembelian ayam hidup dari peternak nasional.

Berdasarkan catatannya, jumlah pemotongan ayam hidup dalam beberapa bulan terakhir hanya sekitar 5 juta ekor per minggu. Padahal, menurut Parjuni, seharusnya mencapai 7 juta sampai 10 juta per minggu.

“Kami minta mulai bulan depan, pemerintah harus sudah bisa kembali membuat pemotongan ayam mencapai 10 juta ekor per minggu. Kalau tidak kami terus merugi,” katanya.

Ketika dimintai tanggapan, Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga bakal mengkaji sejumlah tuntutan peternak ayam yang disampaika. Dalam pertemuan tersebut, Kemendag menerima banyak masukan terkait usaha peternakan ayam. Terutama yang menghambat bisnis. “Tidak hanya harga, tapi mungkin kondisi-kondisi para pedagang dalam hubungannya dengan peternak,” kata dia di Kementerian Perdagangan Jakarta.

Selain itu ada juga masukan terkait perlu direvisinya sejumlah peraturan. Mengenai hal ini, Jerry belum bisa memberikan kepastian apakah aturan-aturan yang dimaksud peternak bakal direvisi. Sebab, dia harus berkoordinasi dengan Menteri Perdagangan. “Jadi kami mau melihat dulu, identifikasi, kedua mencari solusi pastinya. Tapi yang penting kita mendengar dulu apa yang menjadi keluh kesah, yang menjadi aspirasi mereka. Dan kami akan coba temukan itu semuanya,” ujarnya.

Selain itu, ada pula permintaan peternakan agar pemerintah membuat segmentasi pasar yang jelas antara pedagang besar dan kecil. Dengan demikian, kompetisi berjalan seimbang. “Kita intinya dengar semuanya. Siapa pun yang datang ke kami, kami dengar. Kami perhatikan isunya, tapi yang paling penting jangan sampai bergesekan kepentingannya. Intinya kepentingan rakyat diutamakan,” ujar Jerry. jef, rol,ins