Bangun ‘Singapore of Surabaya’, Ciputra Meninggal di Singapura

JAKARTA (global-news.co.id) – Pengusaha nasional sekaligus founder Ciputra Group, Dr (HC)  Ir Ciputra, meninggal dunia Rabu (27/11/2019) dini hari tadi.  Raja properti itu meninggal di Singapura dalam usia 88 tahun. Pria kelahiran Parigi Sulawesi Tengah itu meninggalkan seorang istri dan empat orang anak.

Ir Ciputra

Jejak Ciputra bisa dilihat lewat karya-karyanya, salah satunya Taman Impian Jaya Ancol Jakarta berikut fasilitas rekreasi lainnya. Sedang di Surabaya, keluarga taipan ini membangun Citraland Surabaya dan menjadikannya sebagai Singapore of Surabaya.

Tak sedikit ide dan karya Ciputra yang sampai hari ini masih terus dapat dinikmati. Ciputra merupakan begawan properti paling berpengaruh di Indonesia. Sosok yang menginspirasi banyak orang dan dihormati, tak hanya oleh kawan, tapi juga para pesaing.

Sebagai pengusaha, Pak Ci –begitu dia biasa dipanggil– sempat dianggap sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia dan juga di dunia. Pada Maret lalu, majalah Forbes memasukkan keluarga Ciputra dalam daftar 100 orang terkaya di dunia. Total kekayaan keluarga Ciputra ditaksir mencapai 1,1 miliar dollar Amerika atau sekitar Rp 15,4 triliun.

Pak Ci memulai kariernya di Jaya Group, perusahaan daerah milik Pemprov DKI pada 1966-an. Di sana, ia menjabat direksi sampai usia 65 tahun dan setelah itu sebagai penasihat.  Kemudian, bersama Sudono Salim (Liem Soe Liong), Sudwikatmono, Budi Brasali, dan Ibrahim Risjad, Ciputra mendirikan Metropolitan Group yang membangun perumahan mewah Pondok Indah dan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai. Pada masa itu, Ciputra duduk sebagai direktur utama di Jaya Group dan di Metropolitan Group sebagai presiden komisaris.

Pria yang meraih gelar insinyur dari Institut Teknologi Bandung ini kemudian mendirikan grup perusahaan keluarga, Ciputra Group. Lewat  perusahaan keluarga inilah dia membangun properti di berbagai kota di Indonesia bahkan mancanegara. Sebut saja Ciputra Hanoi International City, Grand Phnom Penh International City di Kamboja, dan Grang Shenyang International City di China.

“Banyak sekali jasa beliau dalam pembangunan Ancol sebagai kawasan rekreasi terpadu,” kata Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Teuku Sahir Syahali, Rabu (27/11/2019).

Selain dikenal sebagai taipan properti ulung, suami Dian Sumeler ini juga populer sebagai filantropis yang bergerak di bidang pendidikan dengan mengembangkan sekolah dan Universitas Ciputra. Karena kiprah dan pemikiran-pemikirannya inilah, Channel News Asia memberikan apresiasi kepada Ciputra berupa “Lifetime Achievement Luminary Award 2013”.

Pelopor real estate Indonesia itu memulai bisnisnya tanpa modal. Dia hanya mengandalkan kredit ke bank-bank di awal karirnya.

Menurut  Pak Ci, entrepreneurship merupakan ilmu kehidupan. Lima puluh tahun silam, kata dia dalam sebuah jejak wawancara, dirinya “buta” tentang entrepreneur. “Tapi, setelah saya menjalankannya, saya bisa,” katanya pada 17 Februari 2019 lalu.

Sejak duduk di bangku SMP hingga kuliah, Ciputra berjualan rupa-rupa dari kelelawar hingga perabot rumah tangga. “Entrepreneur sesungguhnya tidak belajar di belakang meja, tetapi langsung praktek di lapangan,” kata dia.

Resep menjadi pengusaha yang berhasil, katanya, wajib punya keinginan kuat, semangat, dan keberanian mengambil risiko. Sebab, sukses-tidaknya seorang entrepreneur juga ditentukan dari kemauannya untuk belajar dengan melihat pengalaman orang lain yang sukses. “Sampai sekarang saya selalu melihat dan mempelajari orang-orang yang berhasil,” ujarnya.

Ciputra juga menekankan jiwa kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang entrepreneur. Sikap ini, menurut dia, menjadi modal seorang entrepreneur untuk meraih kesuksesan di pasar lokal juga pasar global. “Kalau belum bisa jadi leader di pasar dalam negeri, jangan coba-coba bersaing di pasar luar negeri,” kata Ciputra.ret