Aktivitas Bongkar Muat Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo Tumbuh 1.890 Persen

SURABAYA (global-news.co.id)- Sejak mendapatkan pengelolaan penuh terhadap Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo, Pemprov Jatim terus melakukan pembenahan infrastruktur untuk memacu aktivitas bongkar muat pelabuhan. Saat ini aktivitas bongkar muat di pelabuhan yang dikelola oleh PT Delta Artha Bahari Nusantara (DABN), anak usaha PT Petrogas Jatim Utama, BUMD milik Pemprov Jatim menunjukkan peningkatan.

Fattah Jasin

Kepala Dinas Perhubungan Jatim Fattah Jasin menjelaskan sejak dikelola oleh Pemprov Jatim  pada tahun 2015, jumlah bongkar muat pelabuhan di Pelabuhan Tanjung Tembaga atau Pelabuhan Probolinggo tumbuh hingga 1.890%.  Realisasi bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Tembaga hingga September 2019 mencapai 753.874 ton/m3. Rinciannya untuk bongkar mencapai 708.532 ton/m3 dan muat 45.342 ton/m3.

Pada 2015, jumlah bongkar muat  sebanyak 44.387 ton/m3. Tahun berikutnya aktivitas bongkar mengalami peningkatan menjadi 374.253 ton/m3 dan muat 58.35 ton/m3. Tahun 2017 aktivitas bongkar 743.930 ton/m3 dan muat 84.664 ton/m3 dan pada 2018 meningkat lagi yakni untuk bongkar 804.462 ton/m3 dan muat 78.851 ton/m3.

“Pelabuhan Tanjung Tembaga makin diminati kapal besar, tak hanya kapal domestik juga kapal luar negeri banyak yang melakukan bongkar muat di sana karena itu aktivitas bongkar muat terus tumbuh,” kata Kepala Dinas Perhubungan Jatim Fattah Jasin, Rabu (6/11/2019).

Pada 2018 kemarin, sudah ada 32 kapal ukuran besar yang melakukan bongkar muat di Tanjung Temaga setiap bulannya dengan kapasitas 73.609 ton. Tahun-tahun sebelumnya, jumlah kapal yang sandar di Tanjung Tembaga tidak sebanyak itu. Kapal-kapal tersebut memuat barang untuk kebutuhan industri di Pasuruan dan Probolinggo. Karena jarak transportasi dari pelabuhan menuju pabrik lebih dekat.

Dijelaskan Fattah, Pelabuhan Tanjung Tembaga terus dibenahi agar menjadi pelabuhan berstandar internasional.   Keberadaan pelabuhan  ini diplot untuk mendukung dan menyukseskan konsep zonasi pelayanan transportasi moda laut di Jatim. Zonasi bertujuan agar bongkar muat kapal tidak tersentral di Surabaya, menekan biaya transportasi, menumbuhkan pusat ekonomi baru dan menaikkan daya saing Jatim.

“Para pengusaha yang usahanya berada di dekat Probolinggo, silakan menggunakan Pelabuhan Tanjung Tembaga. Infrastruktur pelabuhan terus kami benahi agar setara dengan pelabuhan berstandar internasional guna mendukung keinginan Jatim menjadi pusat logistik,” katanya.

Pelabuhan Tanjung Tembaga, lanjut dia,  membantu mengurangi kepadatan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya karena mampu membantu bongkar muat untuk wilayah Pasuruan-Probolinggo-Situbondo-Bondowoso dan sekitarnya. Dikatakannya, Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya saat ini tak maksimal menjadi pelabuhan internasional karena sedimentasinya tinggi. Banyak sungai yang mengalir ke sekitar pelabuhan, di antaranya Kali Ireng. Akibatnya kedalaman pelabuhan kurang ideal untuk bersandar kapal-kapal besar.

Kapasitas Pelabuhan Tanjung Perak kalah jauh dibandingkan Pelabuhan Klang di Malaysia. Saat ini diperkirakan volume bongkar muat di Tanjung Perak mencapai Rp 3,5 juta Teus, sedangkan di Pelabuhan Klang mencapai 12 juta Teus.

Selain karena kedalaman yang tak memadai untuk menjadi pelabuhan internasional, kata Fattah, juga ada beberapa kendala mulai lamanya delaying time di Pelabuhan Tanjung Perak hingga tumpang tindihnya birokrasi di pelabuhan yang menyulitkan para pengusaha. “Di pelabuhan ada sekitar 18 lembaga yang punya kewenangan sendiri-sendiri, ini yang perlu dicari solusinya agar tak membebani pengusaha,” katanya.

Direktur Utama PT DABN Ahmad Umar Lubis menambahkan sejak dilakukan penandatanganan perjanjian konsesi pengusahaan jasa kepelabuhan pada terminal umum dari pemerintah pusat ke Pemprov Jawa Timur, Tanjung Tembaga di Probolinggo semakin diminati oleh kapal-kapal besar. Pada 2018 kemarin, sudah ada 32 kapal ukuran besar yang melakukan bongkar muat di Tanjung Tembaga setiap bulannya dengan tonase di atas 80 ribu ton.

Dengan kondisi seperti ini, pendapatan PT DABN banyak disumbang dari aktivitas di pelabuhan Tanjung Tembaga. Meskipun PT DABN juga memiliki dermaga pelabuhan khusus di Gresik. Ini karena pelabuhan di Probolinggo panjang dermaga 300 meter lebih sedangkan di Gresik hanya 95 meter. “Komposisinya sekarang, Tanjung Tembaga menyumbang sekitar 70% pendapatan PT DABN, sisanya dari Pelabuhan Gresik,” sebutnya.

Mulai 2019 ini, PT DABN membangun dermaga 3 yang diproyeksikan untuk aktivitas bongkar muat kapal pengangkut kontainer. “Dari sisi pendapatan, kami targetkan pada 2019 ini ada peningkatan 10% dari tahun sebelumnya,” ujarnya. tis