Instruktur Juga Ujung Tombak Persatuan Ling Tien Kung

Sebanyak 467 instruktur dari seluruh Indonesia, Sabtu (26/10/2019), diwisuda di Jakarta.

JAKARTA (global-news.co.id) – Para instruktur tidak hanya mendapat tugas di sasananya hingga membuka sasana baru, tetapi juga harus mampu menjaga persatuan di antara kita semua.

“Persatuan dan kesatuan Ling Tien Kung selalu didengungkan Lao Shi di beberapa kesempatan. Lao Shi sudah punya insting bahwasannya Ling Tien Kung harus bersatu untuk mencapai kemajuan besar,” kata Shane Feldo, Ketua Dewan Pembina Ling Tien Kung, ketika memberikan sambutan pada Wisuda 467 Instruktur Ling Tien Kung Angkatan XXIII di Mako Brigif Marinir Yonif 6, Cilandak, Jakarta, Sabtu (26/10/2019).

Hadir dalam acara tersebut pengurus MPET2–organisasi yang menaungi Ling Tien Kung. Selain Shane Feldo, juga hadir Semu, Edy Prawoto, Ie Me, Agus Setyawan Dinata, Prof Didiek, Sofyan Poli, dan Erfandi Putra.

Shane juga mengatakan bahwa instruktur yang baru diwisuda itu harus pula menjaga marwah sebagai instruktur, yakni dengan menjadi teladan bagi kita semua.

Sementara, Brigjen (Pur) Polisi Edy Prawoto, SH, MHum mengatakan, para wisudawan sebanyak 467 instruktur sudah disumpah, karena itu harus bekerja dengan sebaik mungkin. “Saudara sanggup jadi instruktur?,” kata Edy.

“Sanggup,” kata wisudawan serempak.

Lalu Edy mengatakan, para instruktur harus paham filosofi, visi dan misi Ling Tien Kung. Filosofi Ling Tien Kung adalah tanpa obat, tanpa ragat dan tanpa alat. Visi Ling Tien Kung adalah, making People Healthy. Sedangkan misinya, yaitu membuka sasana sebanyak -banyaknya.

“Setidaknya setelah pulang nanti sudah berhasil membuka sasana sebanyak banyaknya dengan tujuan agar Ling Tien Kung terus memberi peran dalam penyembuhan dan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan,” kata Edy

Edy juga meminta para wisudawan memiliki komitmen yang tinggi untuk membesarkan Ling Tien Kung. Komitmen dengan terus mengabdi dan secara terus menerus meningkatkan kemampuan masing- masing. Instruktur juga harus mempunyai etika.

Di samping itu, instruktur mempunyai ketulusan hati. Instruktur tak boleh menonjolkan diri, karena apa yang kita kerjakan harus ikhlas.

“Instruktur juga harus punya semangat. Semangat dan mencintai Ling Tien Kung,” pungkas Edy. (Erfandi Putra)