‘Deal with Pink’, Ajak Masyarakat Peduli Deteksi Dini Kanker Payudara

SURABAYA (global-news.co.id) – Dari waktu ke waktu jumlah penderita kanker payudara terus meningkat. Bahkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) meramalkan di tahun 2030, jumlah penderita kanker payudara di Indonesia  akan meningkat 7 kali lipat. Terkait itu, dalam rangka Bulan Peduli Kanker Payudara Internasional yang diperingati setiap bulan Oktober, Adi Husada Cancer Center bekerjasama dengan Yayasan Kanker Indonesia dan Can-Carre menggelar acara zumba dengan tema “Deal with Pink” di arena Car Free Day (CFD) Jalan Raya Darmo, Minggu (6/10).

Kampanye pentingnya deteksi dini kanker payudara di arena CFD, Minggu (6/10).

Direktur utama RS Adi Husada Undaan, dr Irawati Marga MARS, mengatakan, kegiatan ini dimaksudkan untuk mengajak masyarakat agar lebih peduli pada kanker payudara dan menyebarkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini sebagai upaya pencegahan. “Karena semakin dini diketahui, tingkat harapan untuk sembuh lebih besar. Selain itu penanganannya pun relatif lebih ringan dibanding kalau datang dengan kondisi lanjut,” ujarnya.

Diungkapkan, kampanye di arena CFD dilatarbelakangi banyaknya warga Surabaya yang hadir di sana.  Dengan begitu pesan-pesan tentang mewaspadai kanker payudara ini akan lebih sampai ke masyarakat luas. “Mereka yang datang ke CFD itu kan orang yang sadar pentingnya  hidup sehat. Mereka inilah yang kami harapkan ikut mengajak orang-orang di sekitarnya untuk lebih peduli pada kanker payudara,” tambah dr Ira.

Mendasarkan penelitian, risiko terkena kanker payudara meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Wanita berusia di atas 50 tahun memiliki risiko kanker payudara lebih besar. Namun beberapa tahun belakangan, jumlah kasus payudara pada kelompok usia lebih muda dilaporkan mengalami peningkatan yang signifikan. “Usia termuda yang pernah saya dampingi adalah 18 tahun. Terdeteksi dengan stadium 1A,”  kata Estiningtyas Nugraheni SKM MARS, sekretaris Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Jatim.

Esti menjelaskan, hingga kini belum diketahui dengan pasti apa faktor penyebab kanker payudara. Berbeda dengan kanker serviks yang sudah diketahui pemicunya yaitu virus HPV dan sudah bisa dicegah melalui vaksinasi. “Kanker payudara itu multifaktor. Bisa dari dalam karena adanya sel yang tumbuh liar, bisa juga karena makanan, radiasi, dan polusi. Juga karena adanya riwayat keturunan, meski tak selalu kalau orangtuanya mengidap kanker, anaknya juga ,” ujarnya.

Kepada pengunjung yang mengikuti senam aerobik dan zumba, Esti dan Ira memaparkan bagaimana mendeteksi dini kanker payudara, dengan cara sadari (memeriksa payudara sendiri) dan sadanis (memeriksa payudara secara klinis). Sadari dilakukan dalam 3 langkah, pertama tentukan waktu yaitu 7-10 hari setelah menstruasi. Kedua Kedua, periksa pandang dengan cara membuka bra di depan cermin dan angkat kedua tangan ke atas untuk mengetahui apakah putingnya sejajar, kalau ada selisih perbedaan maksimal 10%. Ketiga dengan satu tangan masih diangkat lakukan rabaan pada payudara dengan tiga jari (telunjuk, jari tengan dan jari manis), mulai dari puting melingkar searah jarum jam hingga ketiak. Bila dengan Sadari itu ditemukan ada benjolan, untuk memastikan lakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter yang berkompeten.

kiri ke kanan, dr Irawati Merga, Estiningtyas Nugraheni, dan Virgie dari Can-Care meragakan gerakan dalam sadari

Deteksi dini kanker payudara bisa juga dilakukan dengan sadanis dan pemeriksaan imaging seperti mamografi. Untuk kedua hal ini dilakukan oleh tenaga kesehatan, seperti dokter bedah, dokter umum, atau perawat terlatih.

Sedang pencegahan kanker payudara dan kanker pada umumnya bisa dilakukan dengan cara olahraga rutin, mengonsumsi makanan sehat, hindari alkohol, dan jangan merokok. Yang juga tak kalah penting hindari stres.ret