Hadiri Tabligh Akbar Bersama Gus Baha WNI di Korsel Bangun Masjid


SEOUL (global-news.co.id) – Pertengahan bulan September 2019 ini warga Korea Selatan (Korsel) memulai hari libur besar Chuseok. Momen ini mirip Lebaran di Indonesia di mana warga Korsel melakukan mudik ke kampung halaman untuk mengunjungi rumah sanak saudara mereka.

Momen ini dimanfaatkan pula oleh Pengurus Masjid Al-Kholiq di Kota Gimcheon untuk menggelar tabligh akbar yang dihadiri langsung oleh KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) pada tanggal 12 September 2019. Tidak kalah dengan semangat orang Korea untuk memeriahkan Chuseok, antusias para pekerja Indonesia di Korea Selatan juga ternyata sangat tinggi untuk ikut ngaji bersama Gus Baha.

Bertempat di Aula Utama Gimcheon University, para jamaah yang datang berombongan dari berbagai kota di Korea Selatan itu memenuhi aula. Bahkan sampai tribun di lantai 2. Selain itu, di luar aula utama, sudah tersedia bazar dengan berbagai macam makanan khas Indonesia. Peserta bazar sudah bersiap sedia bahkan sejak pagi, jauh sebelum dimulainya acara tabligh akbar yakni setelah sholat Dhuhur sekitar pukul 12.30 waktu setempat. Meski suasananya gerimis memasuki musim gugur (auntum), para jamaah dan peserta bazar tetap sabar dan semangat mengkuti kegiatan sampai akhir sekitar pukul 17.00 sore.

Di dalam aula, acara dibuka dengan doa, shalawat dan sambutan-sambutan serta beberapa pertunjukan perguruan silat yang ada di Korea Selatan. Perguruan silat yang hadir adalah PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate) dan Merpati Putih. Para jamaah terlihat sangat antusias dengan pertunjukan yang disuguhkan, semisal gerakan-gerakan bela diri yang tangkas dan cepat yang ditunjukkan oleh anggota PSHT, serta pertunjukan yang menegangkan dari Merpati Putih, seperti menebas objek dengan mata tertutup. Suasana meriah kemudian berlanjut menjadi khidmat dengan dimulainya ngaji bersama Gus Baha.

Dalam ceramahnya, seperti biasa, Gus Baha membawakan materi dengan santai tapi serius. Beliau menekankan peran penting dari para pekerja Indonesia di Korea dalam menyebarkan Islam dengan mengambil perumpamaan para pedagang Islam dahulu saat menyebarkan agama Islam di Indonesia.

Meskipun niat awalnya untuk mendapatkan Won (uang), tetapi karena ada Islam di dada maka Islam bisa tersebar sampai ke Korea. “Siapa sangka ada orang ngaji di tanah Korea ini yang mayoritas penduduknya adalah atheis kalau bukan karena para pekerja?” tegas Gus Baha.

Tidak lupa, dalam tabligh ini juga diselenggarakan lelang barang untuk para jamaah. Kali ini barang yang dilelang adalah baju kemeja, kopiah serta sarung Gus Baha.

Tak tanggung-tanggung kemeja tersebut berhasil dilelang kepada para jamaah yang hadir senilai 2 juta Won, sarung senilai 1,3 juta Won serta kopiyah senilai 1,5 juta Won (1 juta Won setara dengan 11,8 juta Rupiah). Ditambahkan dengan hasil lelang tersebut, pada kegiatan tabligh akbar kali ini panitia berhasil mengumpulkan dana sekitar 25-30 juta Won.

Semua dana yang berhasil terkumpul akan digunakan untuk pembangunan Masjid Al-Kholiq di Gimcheon. Bisa dilihat betapa tingginya semangat para pekerja untuk beramal pada pembangunan masjid sebagai tempat ibadah dan ngaji mereka di Korea Selatan.

Sebagai info tambahan, di Korea Selatan terdapat sekitar 82 masjid yang sebagian besar bangunannya masih dalam kondisi sewa dan kurang dari 10% yang bersifat milik permanen umat muslim Indonesia di Korea.

Semangat terus belajar dan ngaj_ dari para pekerja Indonesia di Korea Selatan bisa menjadi bahan refleksi kita semua, terutama bagi para perantau. Gus Baha dalam penutupnya berpesan bahwa di mana pun kita berada seyogyanya tetap menjalankan Islam sesuai dengan kemampuan kita.

“Meskipun niat awal merantau hanya untuk mencari duit, namun karena Islam yang ada dalam dada, maka Islam akan terbawa kemanapun kita pergi termasuk ke tanah Korea,” katanya. Di situlah para perantau bisa menunjukkan nilai-nilai kebenaran Islam dengan praktik kegiatan sehari-hari mereka. Bukan tidak mungkin hal tersebut bisa menjadi alasan orang-orang di lingkungan sekitarnya untuk tertarik dan mempelajari Islam. Wallahu’alam bishowab. (*)

Penulis, Ali Ikhsanul Qauli, adalah Mahasiswa S2 Kumoh National Institute of Technology Korea Selatan asal Pamekasan)