Madura Darurat Narkoba, Badrut Tamam Minta Ditjen Imigrasi Bantu Solusinya

Badrut Tamam memberi cenderamata pada Fery Ishak didampingi Sekdakab Totok Hartono.

PAMEKASAN (global-news.co.id) – Bupati Pamekasan Badrut Tamam meminta Ditjen Imigrasi untuk ikut memasukkan materi bahaya narkoba dalam sosialisasi tentang masalah keimigrasian. Karena di Madura selain masalah administratif banyak hal negatif lain misalnya kasus narkoba yang menimpa pada pekerja migran asal Madura.

Badrut Tamam meminta hal itu pada sejumlah pejabat dari Ditjen Imigrasi yang Selasa (13/8/19) kemarin bertamu ke Bupati Pamekasan. Para pejabat Ditjen Imigrasi itu dipinpin oleh Fery Herling Ishak, Kasubdit Kerjasama Keimigrasian dengan Organisasi Internasional Direktorat Kerjasama Keimigrasian Ditjen Imigrasi.

Mereka datang terkait dengan rencana diadakannya Rakor Pencegahan Pekerja Migran Non Prosedural, yang akan digelar Ditjen Imigrasi di Pamekasan pada Selasa (27/8/19) mendatang. Mereka datang bersilaturrahmi untuk pemberitahuan dan meminta dukungan kesuksesan kepada Pemkab Pamekasan.

Badrut Tamam mengungkapkan perlu ada transformasi yang komprehensif bagi para calon pekerja migran atau tenaga kerja Indonesia (TKI). Mereka tidak hanya diberi pembinaan terkait dengan kelengkapan administratif untuk jadi pekerja migran, namun juga perlu diberi pembinaan lain tentang bahaya narkoba.

“Karena ini bukan hanya soal adiministrasi tapi ada nilai nilai lain yang dibawa berupa hal negatif yang dibawa, sehingga edukasinya harus bisa lengkap. Dengan begitu mereka nanti datang ke kampungnya dengan membawa uang saja tidak membawa barang barang haram yang itu dilarang dan menjadi musuh kita bersama,” katanya.

Dia mengaku untuk mengatasi masalah narkotika kini butuh kerja keras. Tidak lagi hanya membutuhkan pendekatan yang biasa namun kerja luar biasa. Di Pamekasan saja, kata dia, ada tiga kecamatan yang warganya banyak jadi pekerja migran yang sangat rawan terjadi penyelundupan narkoba.

“Tahun 2017 lalu dari hasil survei, diketahui pengguna narkoba di Indonesia itu peringkat pertama adalah DKI Jakarta. Hasil survey terakhir justru peringkat pertama pindah ke Jawa Timur. Dan yang paling mengenaskan sekali, naiknya peringkat Jatim jadi nomor 1 karena banyaknya kasus narkoba di Madura,” ungkapnya.

Yang dibawa oleh para pekerja migran asal Madura jika pulang ke kampung halamannya, kata Badrut, bukan hanya harta dan kesejahteraan, namun ternyata juga membawa barang haram narkoba. Karena itu imigrasi nanti dalam sosialisasinya kepada warga didalamnya juga masukkan transformasi bahaya narkoba yang luar biasa di Madura ini.

“Secara sosiologi Madura pesantrennya banyak masjid namun pengguna narkoba juga banyak. Kontra produktif anomali ada distorsi yang harus dilakukan kerja sama bagaimana perketat jalur masuknya barang haram itu. Dengan begitu bukan keimigarsian saja tapi juga pihak lain terkait,” jelasnya.

Badrut lalu menceritakan sebuah kasus yang baru saja terjadi. Dikatakan pada saat hari raya Idul Adha lalu ada seorang santri yang pulang kerumahnya pagi hari, sore harinya udah ditangkap polisi karena narkoba. Lebih dari itu yang sangat menyakitkan lagi, kata dia, ada pengguna aktif narkoba justru putra seorang tokoh agama. (mas)