RS Husada (Dulu RS Jang Seng Ie) Jejak Warga Tionghoa Bantu Warga Miskin

Relief Dr Kwa Tjoan Sioe di RS Husada.

SURABAYA (global-energi.co.id) – Rumah Sakit Husada ternyata dahulu awalnya bernama “Jang Seng Ie”. Lokasinya di Jakarta Pusat. Sebelum menjadi rumah sakit besar, Husada bermula dari sebuah poliklinik sederhana yang dibentuk oleh perkumpulan Jang Seng Ie.

Rumah sakit Jang Seng Ie didirikan pada tanggal 28 Desember 1924 oleh dr. Kwa Tjoan Sioe dan beberapa teman sejawat serta pengusaha-pengusaha Tionghoa di Jakarta dalam wadah perkumpulan “Jang Seng Ie”. Sekarang menjadi Perkumpulan Husada.Peresmian penggunaannya dilakukan pada tahun 1925.

Namun pada tahun 1965, Prof Dr Satrio sebagai Menteri Kesehatan mengubah nama rumah sakit Jang Seng Ie menjadi RS Husada. RS Jang Seng Ie adalah wujud rasa kemanusiaan dari kalangan masyarakat Tionghoa terhadap kondisi penanganan kesehatan masyarakat Betawi (Jakarta) yang amat buruk dari penjajah Belanda saat itu.

Puluhan ribu masyarakat dari berbagai kalangan, terutama penduduk Betawi, diobati secara cuma-cuma alias gratis di rumah sakit ini. Yang sulit dibayangkan adalah sebagian besar dari para dokter dan perawatnya tidak mau menerima bayaran! Bahkan mereka menanggung sendiri biaya transportasi dan keperluan lainnya.

Kalangan dermawan dari orang Tionghoa menyumbangkan begitu banyak dana untuk membiayai keberlangsungan rumah sakit tersebut. Mereka antara lain:

1. Auw Boen Hauw 38.000 Gulden
2. Khouw Ke Hien 18.000 Gulden
3. Liem Gwan Kwie 22.000 Gulden
4. Thung Tjien Pok 10.000 Gulden

Bahkan ada juga cerita iklan undangan pernikahan kalangan Tionghoa yang memberikan penjelasan bahwa uang sumbangan untuk mempelai akan disumbangkan kepada Rumah Sakit Jang Seng Ie.

Kisah Sang Pendiri

Sebagai pendiri RS Jang Seng Ie, Dr Kwa Tjoan Sioe adalah lulusan Kedokteran dari Universiteit van Amsterdam dan Tropen Institute of Tropical Hygiene. Dia menempuh pendidikan di Belanda dari tahun 1913 sampai 1921.

Tahun 1922, Dr Kwa sudah membuka praktek untuk menolong orang-orang miskin, ibu hamil dan anak-anak. Tahun 1924, bersama tokoh Tionghoa lainnya seperti Liem Tiang Djie, Tan Boen Sing, Injo Gan Kiong, Ang Jan Goan, Lie Him Lian, Tan Eng An dan Lie Tjwan Ing, mendirikan Jang Seng Ie.

Tahun 19 Maret 1948, Dr Kwa meninggal setelah terjatuh dalam keletihan akibat pengabdiannya yang begitu hebat kepada rakyat. dr Kwa wafat dalam usia yang relatif masih muda yaitu 55 tahun.

Selanjutnya catatan statistik menunjukkan bahwa pada bulan Mei 1925 sebanyak 281 pasien telah berkunjung ke poliklinik Jang Seng Ie, meningkat menjadi 556 pasien pada bulan Juni 1925. Kompetensinya pun terus meningkat, bahkan membukukan prestasi sebagai rumah sakit pertama di Asia yang mempunyai unit perawatan anak, yang didirikan pada tahun 1929.

Rumah sakit terus berkembang dengan pesat di bawah pimpinan politikus parlemen Loa Sek Hie, yang menjabat sebagai kepala pengurus antara 1932 dan 1963. Pada tahun 1965 atas usulan Menteri Kesehatan waktu itu yaitu Prof Dr Satrio, nama rumah sakit ini diubah menjadi RS Husada.

Kemampuan RS Husada semakin diakui, seperti yang terjadi pada tahun 1971 dengan ditetapkannya rumah sakit tersebut oleh pemerintah sebagi Rumah Sakit Pusat II Wilayah Jakarta Utara. Kepercayaan pun semakin bertambah dan pada tahun 1997 mendapatkan akreditasi penuh dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Pada tanggal 1 Juni 1965 RS ini berganti nama menjadi RUMAH SAKIT HUSADA yang diresmikan oleh Pemerintah Indonesia melalui Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Pada tanggal 25 Juni 1971 Gubernur DKI Jakarta menetapkan RUMAH SAKIT HUSADA sebagai Rumah Sakit Umum Pusat bagian Utara.(*)

Sumber: Museum Pustaka Peranakan Tionghoa,wikipedia