Melek Aksara Sumber Kehidupan Berkualitas


Oleh Abdul Syukkur*

TINGKAT buta aksara selalu linier dengan tingkat kemiskinan suatu masyarakat, jika tingkat buta aksara tinggi, maka tingkat kemiskinan juga tinggi. Demikian pula sebaliknya, ketika tingkat buta aksara rendah, maka tingkat kemiskinan juga akan rendah. Fenomena ini seakan menjadi hukum kausalitas, di mana yang satu menjadi penyebab yang lain.

Dengan kesimpulan sederhana, di mana ada buta aksara di sana ada kemiskinan.
Kesimpulan ini cukup beralasan, mengingat melek aksara (lawan buta aksara) merupakan jendela pengetahuan, sedangkan pengetahuan merupakan sumber inovasi dan kreatifitas seseorang.

Mustahil seseorang akan menjadi inovatif dan kreatif tanpa bekal ilmu pengetahuan, dan mustahil pula ia akan mendapat ilmu pengetahuan tanpa melek aksara. Oleh karenanya, solusi untuk meningkatkan kualitas kehidupan sosial masyarakat termasuk di Indonesia adalah dengan menuntaskan problem buta aksara.

Kemiskinan di sini hanya salah satu contoh nyata dari dampak yang ditimbulkan oleh problem buta aksara, masih banyak dampak-dampak negatif lainnya yang tak kalah merisaukan akibat buta aksara ini.

Misalnya, dialektika politik jadi jomplang, di mana para politikus atau pejabat bisa dengan leluasa membodohi rakyatnya, karena perbedaan tingkat pendidikan di antara keduanya sangat tajam.

Dengan iming-iming sedikit keuntungan yang dipoles dengan retorika politik yang mengesankan, dengan mudah para politikus bisa mendulang suara mereka, sekaligus bisa menipu mereka.

Begitu juga di bidang sosial, di mana orang-orang yang tingkat pendidikannya lebih tinggi dalam suatu tatanan sosial akan melahap mentah-mentah mereka yang pendidikannya lebih rendah, lebih-lebih mereka yang buta aksara. Tidak dengan cara kekerasan, tapi dengan cara yang sangat elegan, yakni pembagian peran yang tak seimbang dalam tatanan sosial itu sendiri.

Pun demikian dengan bidang budaya. Suatu masyarakat yang buta aksaranya masih tinggi secara otomatis budayanya juga akan stagnan atau bahkan terbelakang. Budaya yang stagnan atau malah mengalami kemunduran akan dikalahkan oleh budaya yang maju, dan budaya yang kalah akan membeo pada budaya yang menang.

Artinya, masyarakat yang buta aksaranya tinggi tidak mampu mendialektikan budayanya dengan budaya lain. Sehingga, akan selalu merasa minder berhadapan dengan budaya lain, yang pada akhirnya akan memunculkan mental-mental sebagai terjajah.
Dari sini bisa dimaklumi, jika buta aksara menjelma sebagai penyakit akut yang bisa menggerogoti berbagai sendi kehidupan masyarakat.

Oleh karenanya, penanggulannya pun harus bersifat konprehensif dan menyeluruh. Tidak bisa setengah-setengah, dan hanya mengandalkan peran bidang tertentu (dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) tanpa ada kerjasama dengan bidang atau instansi-instansi lain yang memiliki keterkaitan.

Karena, penanganan buta aksara bukan terletak pada sulit tidaknya menangani masalah tersebut, tapi lebih pada kurangnya kesadaran yang bersifat massif.

Karena senyatanya, untuk menuntaskan buta aksara ini tidak begitu sulit, hanya membutuhkan kemampuan untuk menyadarkan pentingnya belajar membaca, menulis dan berhitung, sebagai standar dasar seseorang disebut melek aksara.

Dalam tataran praktek pun, mengajari orang agar bisa membaca, menulis, dan berhitung tidak sulit, yang sulit adalah bagaimana menjadikan orang-orang yang buta aksara mau belajar membaca, mau belajar menulis dan mau belajar menghitung.

Ketiadaan kemauan dan kesadaran merupakan penyebab utama tetap tingginya buta aksara di suatu masyarakat, karena yang terpatri dalam benak mereka buat apa belajar membaca, menulis dan berhitung sementara saya tidak butuh ijazah, tidak mau jadi PNS (Pegawai Negri Sipil), dan berbagai alasan lucu dan tak masuk akal lainnya.

Oleh karenanya, di antara solusi agar mereka bisa sadar dan mau belajar hendaknya menyelingi pelajaran-pelajaran itu dengan manfaat langsung yang bisa didapat oleh orang-orang yang melek aksara.

Contoh, menyelingi pelajaran membaca, menulis dan berhitung dengan simulasi bisnis online, atau dengan materi prakarya yang bisa menghasilkan produk bernilai bisnis, sehingga mereka bisa langsung merasakan manfaat nyata dari melek aksara tersebut.

Dengan adanya model pembelajaran seperti ini bisa diharapkan akan banyak orang buta aksara yang mau belajar membaca, menulis dan berhitung. Sehingga dengan demikian, buta aksara bisa minimalisir atau bahkan bisa ditiadakan.

Jika buta aksara sudah bisa dikurangi atau bahkan ditiadakan, maka secara otomatis kualitas kehidupan sosial masyarakat juga akan meningkat.
Ketika kualitas kehidupan sosial masyarakat meningkat, maka semua aspek kehidupannya pun juga akan meningkat.

Karena, semua saling berkelindan, ketika problem dasar dan utama terselesaikan, artinya ketika hal-hal negatif dalam salah satu aspek kehidupan telah berubah menjadi positif, maka secara otomatis semua aspek kehidupan pun akan menjadi positif. (*)