Kechinaan-Keindonesiaan Kita Sudah Menyatu

Prof. Masdar Hilmy saat memberikan ceramah pada Sidang Pertama ZIPF ke-5 Senin siang ini.

SURABAYA (global-news.co.id) – Rangkaian acara Zhenghe International Peace Forum (ZIPF) ke-5 yang berlangsung 15-17 Juli 2109 sudah dimulai, walau pembukaannya secara resmi akan dilangsungkan pada Senin (15/7/2019) malam ini oleh Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa di Jatim Expo Surabaya.

Plenary Session I menampilkan pembicara Prof Masdar Hilmy Rektor UINSA Surabaya dan Prof. Song Xiuju dari Central China Normal University, China.

Prof. Masdar menekankan pentingnya kebersamaan di antara kita. “Kita tidak boleh terlalu fanatis dalam etnis. Tuhan menciptakan manusia dengan bermacam-macam etnis, bahasa hingga budaya hanya untuk kebaikan. Karena itu, kita harus bersatu dalam perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika,” katanya di Kampus UINSA Surabaya.

Prof. Surya didampingi HMY Bambang Sujanto ketika memberikan penjelasan sejarah Cheng Hoo.


Kechinaan-keindonesiaan kita itu sudah sedemikian menyatu, sehingga sangat sulit bagi kita untuk melepaskannya. Mulai dari budaya, agama Islam sampai soal kuliner.

“Kita perlu gelorakan lagi, bahwa ini lho kita itu sebenarnya sudah menyatu. Tak perlu lagi ada segregasi atau pemisahan-pemisahan, yang nantinya malah menjadi komoditas politik, yang justru dapat menghancurkan kebangsaan kita,”katanya.

Dia mengatakan, politik identitas jadi titik masuk lemah kita. Yang bisa hancurkan kebangsaan kita. Hanya karena lahir China, semuanya tiarap. Terutama masa kebijakan Orde Baru, semuanya tiarap kalau bicara China.

Ketika Gus Dur jadi presiden semuanya terbuka. Kita jadi serba tahu tentang fakta-fakta tentang segala hal terkait China.

“Ini lho budaya China, ini lho agama maupun kuliner China,” katanya.

Bertolak pada kenyataan inilah, kita harus hati-hati dengan politik identitas yang menebalkan kebencian kita pada China. Padahal China itu kan hanya salah satu etnis belaka. Tetapi jika bicara China jadi yang negatif. Karena apa? Kita jadi korban politik identitas yang digunakan politik elite. Bukankah Melayu, Arab, India juga etnis? Maka secara UU kita sama di hadapan UU.

“Saya berharap pada forum ini menjadi satu himpunan kekuatan yang membuat kebangsaan kita lebih kuat, harmoni dan lebih toleran,” katanya.

Sementara Prof. Song Surya Sampurna, salah satu pendiri Universitas Ma Chung, Malang yang duduk sebagai peserta sidang memberikan penjelasan bahwa Cheng Hoo dalam muhibahnya ke sejumlah Negara tidak pernah “mengambil” tanah sejengkal pun. Apalagi merampok, menjajah seperti Columbus yang juga menjelajah dunia.

“Cheng Hoo membawa kedamaian. Cheng Hoo ke Indonesia membawa persahabatan,” pungkasnya. (Taman, Erfandi Putra)