Berkat ‘Rindu KIA’ Kulon Progo Raih PAKI Award 2019

SURABAYA (global-news.co.id) – Pemanfaatan teknologi menjadi  salah satu cara yang digunakan Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo dalam menekan angka kematian ibu (AKI) melahirkan. Inovasi aplikasi Rindu KIA (jejaring peduli kesehatan ibu dan anak) inilah yang menghantarkan kabupaten tersebut meraih PAKI Award 2019.

Penurunan Angka Kematian Ibu (PAKI) Award tersebut diserahkan pada pembukaan Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (PIT-POGI), Senin (8/7).  PAKI Award merupakan lomba inovasi cara menurunkan AKI yang digagas POGI dan baru diadakan dalam penyelenggaraan PIT POGI tahun ini.

Prof dr Erry Gumilar SpOG (K) dengan peraih PAKI Award dari Kabupaten Kulon Progo, drg Hunik Rimawati dan dr Sri Budi Utami (kanan)
,

Dengan aplikasi Rindu KIA, sejak 2016 AKI di Kabupaten Kulon Progo secara signifikan mengalami penurunan. Kalau pada 2016 AKI absolut masih 7, pada 2017 dan 2018 mengalami penurunan menjadi masing-masing hanya 3 saja.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo dr Sri Budi Utami mengungkap,  Rindu KIA ini melibatkan lintas sektoral agar semua bisa berperan dalam program penurunan AKI.  “Ada kebijakan dari Bupati dr Hasto Wardoyo SpOG  (baru saja dilantik menjadi Kepala BKKBN, red) serta dari pak maupun bu camat untuk membuat jejaring. Setelah punya jejaring yang kuat, mulai dilakukan inovasi aplikasi. Awalnya sms gate away, kemudian  Rindu KIA. Yang baru dikembangkan, Bumilku sebagai salah satu penyangganya,” ujarnya yang didampingi  Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Kulon Progo, drg  Hunik Rimawati.

Lebih lanjut Hunik mengatakan, dibanding nasional, AKI di Kulon Progo sudah cukup rendah. Diakui angka tersebut fluktuatif kadang naik kadang turun, terkadang 7 lalu tahun berikutnya turun jadi 5 lalu 2, tapi kemudian naik 7 pada 2016. Kemudian turun lagi hingga 2018.

Dijelaskan, Rindu KIA melibatkan camat, polisi, kodim, koramil, organisasi profesi, klinik swasta PMI jaminan. Di Kulon Progo sendiri ada 12 kecamatan dan masing-masing memiliki grup. Sehingga ketika ada pasien ibu hamil dengan kondisi tertentu, rumah sakit akan menyiapkan, pihak jaminan kesehatan, PMI bila membutuhkan bantuan darah sudah siap. “Jadi sudah ada link-nya. Masalah ibu bukan masalah klinik saja tapi masalah sosial juga. Pernah ada pasien sesar (bedah caesar) yang lari dari rumah sakit, pak camat ikut menjemput. Bahkan pernah ada kejadian kebetulan ambulans kosong, pasien diangkut pakai mobil koramil. Babinsa memang kita libatkan juga dalam jejaring ini. Dengan cara inilah kami bisa menahan AKI,” terang Hunik.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, angka kematian Ibu turun dari 4.999 tahun 2015 menjadi 4.912 di tahun 2016 dan di tahun 2017 (semester I) sebanyak 1.712 kasus. Meski pun terus turun, AKI di Indonesia masih tergolong tinggi di lingkup ASEAN, kalah jauh dibanding Singapura dan Malaysia.

Menurut WHO, secara definisi kematian ibu adalah kematian selama kehamilan atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya, tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan/cedera. AKI juga menjadi indikator kondisi kesehatan keseluruhan sebuah bangsa.

PAKI Award ini dimaksudkan untuk mencari role model, di mana inovasi yang dilakukan setiap peserta yang diusulkan POGI masing-masing daerah itu bisa menjadi contoh bagi daerah lainnya. “Penilaian di sini ditekankan pada inovasi yang berdampak pada penurunan AKI. Ada banyak program, tapi ada yang berdampak tapi ada juga yang kurang,” ungkap Prof dr Erry Gumilar SpOG (K), juri nasional PAKI Award 2019 yang juga Ketua Himpunan Konsultan Fetomaternal.

Guru besar FK Unair, Prof dr Dikman Angsar SpOG menyebut masih tingginya AKI di negeri ini lantaran terjadi kesalahan pemahaman gender,  di mana kaum perempuan tersubornisasi/termarginalisasi oleh pria, suami,  ayah bahkan ibunya. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk dirinya tapi malah dibebani tugas untuk  urusan domestik, termasuk 3M yang meliputi masak, manak (melahirkan), dan macak (berdandan). Selain itu ada labelisasi bahwa wanita itu lemah tidak boleh kerja berat.  “Saya  ingin ini disetarakan,  mereka harus diberi hidup lebih baik, harus sekolah. Kalau usia 13 tahun menikah dan dibiarkan ibunya, itu penghinaan. Nah obgyn tidak pernah berpikir sampai ke sini,” ujarnya.

Menikah di usia terlalu muda, lanjutnya, berisiko karena genitalnya belum matang, masa reproduksinya lebih panjang sehingga potensi punya banyak anak dan risiko kematiannya juga tinggi.

Dikman menambahkan, Millennium Development Goals (MDGs/ Tujuan Pembangunan Milenium yang salah satu poinnya meningkatkan kesehatan ibu) di Indonesia gagal karena kita stagnan. Wanita terhambat kesempatannya untuk pergi ke klinik karena harus izin suami, begitu pun memakai kontrasepsi harus izin suami malah terkadang sang suami tak peduli. “Mengapa stagnan, karena marginasisasi itu tadi.  Domestic violence masih banyak di masyakat, bahkan di kalangan yang terpelajar pun ada. Jadi untuk menekan AKI ini mind masyarakatnya yang juga harus diubah,” katanya.

Kegiatan PIT POGI 2019 yang diikuti sekitar 3.000 dokter spesialis kandungan dan kebidanan se Indonesia ini tidak hanya terkait workshop, simposium, dan pengukuhan dokter spesialis Obgyn tapi juga kompetisi di bidang seni dan olahraga. Selain PAKI Award diberikan pula Tadjuludin Award 2019 pada dr Darrell Fernando SpOG dari Universitas Indonesia.ret