Halal Bi Halal & Milad ke-12 Gyeongju Brothers: Dibanjiri Jamaah Dikawal Banser Korea Selatan

Penulis dan tokoh Banser Korea Selatan.

Oleh Ali Ikhsanul Qauli
(Mahasiswa S2 di Kumoh National Institute of Technology)

GYEONGJU (global-news.co.id) – Masih dalam suasana Idul Fitri 1440 H semangat untuk bersilaturrahim antara muslim Indonesia di Korea Selatan (Korsel) tetap tinggi meskipun sudah masuk minggu ke-2 bulan Syawal. Ini salah satunya dibuktikan dari sukses acara yang digelar komunitas WNI di negara itu: Gyeongju Brothers.

Mereka mengundang masyarakat muslim Indonesia di Korea Selatan untuk menghadiri halal bi halal dan milad Gyeongju Brothers ke-12 pada Minggu 16 Juni 2019 di Gyeongju Art Center. Lokasi ini bisa ditempuh sekitar 1,5 jam perjalanan dari Kota Busan ke arah utara atau sekitar 4 jam perjalanan dari ibukota Seoul ke arah selatan.

Acara ini bukan sekadar halal bi halal biasa, tapi dikemas dalam bentuk bazar dan tabligh akbar. Tabligh akbar diisi langsung oleh Habib Jindan Bin Novel dengan pemandu shalawat ustadz Zulfikar dan putrinya, Veve Zulfikar. Selain itu, acara ini juga didukung penuh oleh KBRI, PCI NU Korea Selatan, KMF (Korean Muslim Federation), KMI (Komunitas Muslim Indonesia di Korea Selatan) dan BNP2TKI. Perwakilan masing-masing lembaga tersebut hadir dalam acara ini.

Alhamdulillah antusias masyarakat muslim mengikuti halal bi halal ini bisa dibilang luar biasa tinggi. Beberapa jamaah bahkan ada yang rela hadir ke acara ini meski dari kota yang sangat jauh. Misalnya, dari Kota Incheon.

Dari kota ini memerlukan waktu sekitar 4 sampai 5 jam untuk sampai di Gyeongju. Artinya mereka berangkat pagi setelah Subuh dan pulang setelah acara sampai di Incheon sekitar pukul 22.00 malam. Kebanyakan jamaah dari luar kota berangkat berombongan menggunakan bus.
Di dalam gedung, para jamaah dengan khidmat mengikuti tabligh akbar. Setelah pembukaan dan sambutan dari panitia serta para perwakilan lembaga yang datang, acara dibuka dengan beberapa lantunan shalawat yang dibawakan dengan suara merdu duet Ustadz Zulfikar bersama Veve Zulfikar. Kemudian dilanjutkan dengan acara inti ceramah dari Habib Jindan Bin Novel.
Dalam ceramahnya, Habib menekankan pentingnya agar jamaah berusaha menjadi muslim yang baik. Dan muslim yang baik mampu membuat orang lain merasa tenang, aman, dan tenteram atas keberadaannya.

Selain itu, karena jamaah hampir seluruhnya para TKI di Korea, Habib menunjukkan bahwa para pekerja pun bisa berjihad dengan cara menjadi pekerja yang amanah. “Kelak pekerja yang amanah tersebut bisa berkumpul dengan para syuhada di surgaNya Allah,” katanya.

Di luar gedung, secara bersamaan digelar bazar. Tersedia berbagai makanan khas Indonesia, semisal sate Madura, bakso, dan lain-lain. Tidak lupa juga minuman khas nusantara seperti cendol. Banyak jamaah antre untuk mendapatkannya. Selain itu, juga ada stan dari beberapa sponsor yang khusus diundang ke acara ini.

Merasakan khidmatnya tabligh akbar dan meriahnya suasana bazar, para WNI seketika lupa bahwa sekarang mereka sedang berada di Korea Selatan. Bukan di kampung halamannya di tanah air.

Rangkaian acara ditutup dengan penggalangan dana berupa lelang cincin yang dikenakan Habib. Untuk itu ada jamaah yang bahkan rela mengeluarkan 1 juta Won Korea, atau setara Rp 12,8 juta, untuk mendapatkan cincin tersebut dan berkesempatan khusus bersalaman atau “ngalap barokah” dari Habib Jindan Bin Novel.

Membangun Masjid

Yang menarik, rupanya hasil penggalangan dana tersebut akan dialokasikan untuk pembangunan masjid di Kota Gyeongju. Ketua panitia pelaksana acara halal bi halal, Yusuf Suned, menjelaskan, kegiatan halal bi halal dan penggalangan dana ini memang bagian dari niat baik Gyeongju Brothers untuk membangun masjid.

“InsyaAllah ini niatan baik kami untuk membantu membangun masjid bagi jamaah masjid Al-Kautsar yang bangunan masjidnya masih ngontrak,” katanya.
Dengan segala keterbatasannya, kata dia, ternyata umat Islam Indonesia di Korea tetap
semangat mendakwahkan Islam, salah satunya dengan keinginan memiliki masjid sendiri. Yusuf menambahkan alasan penting lainnya soal kepemilikan masjid. “Supaya tidak banyak mendapat intervensi dan lebih nyaman bagi jamaah,” katanya.

Sobirin, salah satu jamaah Masjid Al-Huda di Kota Gumi, yang juga mengikuti acara ini, menjelaskan, jamaah masjid Al-Huda melakukan hal serupa beberapa tahun lalu. Tujuannya sama, supaya bisa memiliki masjid sendiri. “Dulu ada iuran rutin setiap bulan dari teman-teman TKI di Kota Gumi. Alhamdulillah bangunan masjid bisa kami beli sekitar 4 tahun lalu. Sebelumnya juga sama, ngontrak,” jelas Sobirin.

Dikawal Banser NU

Selain meriahnya bazar dan khidmatnya tabligh akbar, salah satu pemandangan menarik adalah keterlibatan Banser Nahdlatul Ulama (NU) dalam kelancaran acara ini. Muhammad Mafidul Mubarak, sebagai bendahara Banser NU Korea Selatan, yang hadir dalam halal bi halal itu, menjelaskan, Banser bertugas untuk mengkondisikan ketertiban acara. “Supaya teman-teman tetap tertib, terutama ketika hendak ngalap barokah Habib,” katanya.

Kebersihan lingkungan acara juga menjadi hal utama yang mereka perhatikan. “Kami juga imbau kepada jamaah untuk menjaga kebersihan, supaya tidak ada komplain dari orang Korea di sini,” ujarnya.

Keberadaan Banser dihormati sebab sangat membantu kelancaran acara dan sikapnya pun ramah. Bahkan dalam banyak acara tabligh akbar atau ceramah agama di Korea Selatan, kata Mafi, Banser selalu dilibatkan. Banser melakukan pendekatan yang sejuk. “Di Korea ini kami berusaha memperkenalkan Islam yang sejuk dengan cinta,” terangnya.

Perjuangan melakukan dakwah Islam di Korea Selatan tentu tidaklah mudah. Sebab penganut Islam di negara ini minoritas. Namun demikian, dengan berjamaah, umat muslim di sini mampu melakukan syiar Islam dengan baik. Sebagai muslim harus memberikan rasa aman, nyaman, dan tenteram bagi semua warga. “Semoga akan menjadikan jalan agar Allah memberikan kemenangan, amin,” katanya. (*)