Kebutuhan Energi Jatim di 2050 Capai 100.33 MTOE, Pemprov Dorong Bauran Energi Terbarukan

Khofifah Indar Parawansa saat memberikan keterangan kepada wartawan terkait program Kemensos.

SURABAYA (global.news.co.id) – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa memperkirakan kebutuhan energi Jawa Timur pada 2050 akan mencapai sebesar 100.33 MTOE. Konsumsi terbesar ada di sektor industri yang mencapai 57.86 MTOE, disusul sektor transportasi, rumah tangga, dan komersial masing-masing sebesar 22.43 MTOE, 11.33 MTOE, dan 6.82 MTOE.

“Kebutuhan energi Jawa Timur terus meningkat setiap tahunnya. Fakta tersebut tentu saja menjadi pekerjaan rumah kita bersama bagaimana caranya agar Jatim bisa mandiri secara energi,” ungkap Khofifah dalam Rapat Rencana Umum Energi Daerah (RUED) di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (22/4).

Khofifah mengatakan, salah satu tantangan Jawa Timur di sektor energi adalah tingginya ketergantungan terhadap sumber energi minyak bumi dan rendahnya pemanfaatan energi terbarukan. Padahal menurutnya Jawa Timur memiliki cukup banyak potensi energi terbarukan. Diantaranya, panas bumi, air, angin, bioenergi, surya, dan gelombang.

Khofifah memaparkan, potensi energi surya di Jawa Timur adalah yang paling besar yakni mencapai 10.335 MW. Setelahnya ditempati oleh energi angin yaitu sebesar 7.907 MW, Bioenergi sebesar 3.402 MW, Panas Bumi sebesar 1.012 MW dan Air 525 MW.

“Pemanfaatan energi terbarukan ini akan menghemat devisa juga anggaran negara. Selain itu, tidak ada dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan,” imbuhnya.

Untuk mengatasi kebutuhan energi tersebut, lanjut Khofifah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menetapkan target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 4,9 persen sampai dengan tahun 2020, 12,6 persen sampai dengan tahun 2025 dan dan 14 persen sampai dengan tahun 2050.

“Kami (Jawa Timur-red) akan mengoptimalkan segala potensi energi yang ada untuk menjamin ketahanan energi jangka panjang. Utamanya, mendorong pengembangan pembangkit panas bumi, pembangkit air, dan pembangkit surya,” tuturnya.

Khofifah menambahkan, di Jawa Timur belum semua rumah teraliri listrik. Dari data yang dimiliki Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (Dinas ESDM) Provinsi Jawa Timur, sedikitnya 568.030 rumah masih dalam kondisi gelap gulita. Dari jumlah tersebut 56.000 rumah tangga miskin. Daerah yang belum teraliri listrik terbanyak adalah Kabupaten Sumenep karena banyak kepulauan, Sampang, Situbondo, Bondowoso, dan Jember.

“InsyaAllah persoalan listrik ini akan segera diselesaikan. Kami akan terus berkoordinasi dengan PLN untuk melakukan percepatan pembangunan jaringan listri di wilayah-wilayah tersebut,” imbuhnya. (fan)