Gizi Seimbang Kunci untuk Produktif dan Berprestasi

SURABAYA (global-news.co.id) –  Memeringati Hari Gizi Nasional ke-59, Kepala Dinas Kesehatan Jatim,  Kohar Hari Santoso mengingatkan kembali pentingnya pemenuhan gizi seimbang.  Disebutkan, kalau ingin membangun masyarakat supaya bisa berprestasi, produktif, atau yang paling mendasar supaya pintar, mereka harus sehat.

“Untuk sehat, yang paling mendasar harus diperhatikan adalah makanan atau gizinya,” ujar Kohar, Jumat (1/2).

Lebih lanjut dikatakan, lewat peringatan hari gizi ini pihaknya perlu menekankan pentingnya masalah gizi masyarakat.  Bagaimana mereka memerhatikan makanannya supaya bergizi. Kohar berharap para pakar juga memerhatikan  yang sehari-hari  dimakan masyarakat itu nilai gizinya seperti apa.  “Masyarakat juga mesti tahu bagaimana memilih makanan yang baik, bagaimana menyimpannya dan bagaimana mengolahnya dengan baik. Dalam arti makanan ini punya nilai gizi pada seseorang dengan baik,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Kohar Hari Santoso (kanan) dan pakar gizi Andriyanto pada Peringatan Hari Gizi Nasional di Dinkes Jatim, Jumat (1/2)

Dicontohkan garam beriodium yang harus diperlakukan dengan benar supaya iodiumnya efektif. “Sebab kalau kurang (iodium,red), metabolismenya jadi nggak bagus,” tandasnya.

Setiap tahapan kehidupan individu memiliki kebutuhan gizi yang berbeda, semisal anak usia 1-6 bulan harus mengonsumsi air susu ibu. Wanita hamil gizinya harus bagus sejak awal.  Karena awal pentingnya memerhatikan gizi itu mulai hamil hingga usia 2 tahun. Periode emas ini harus benar-benar diperhatikan, karena pemenuhan gizi pada  masa ini akan memengaruhi perkembangan selanjutnya.

“Yang dewasa pun harus diperhatikan gizinya. Gizinya harus seimbang,  seimbang dengan umur dan kegiatannya, kebutuhannya kerjanya. Hanya dengan begitu kita bisa menjaga kondisi masyarakat supaya gizinya bagus, sehat, bisa berprestasi dan produktif,” kata Kohar.

Di Jatim sendiri, gangguan gizi di masyarakat sudah relatif rendah. Salah satu ukurannya tentang stunting, gangguan gizi kronis. Kalau dibanding nasional, Jatim sendiri  sudah lebih rendah, 26,2. Sementara di tingkat nasional masih 30.

Kadinkes juga mengatakan,  selain berkaitan dengan fisik atau pemenuhan gizi, dua hal yang perlu diperhatikan agar tetap sehat adlah jiwa dan lingkungan. Jiwa berarti harus selalu berpikir positif, sementara aspek lingkungan yaitu menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari berbagai potensi penyakit.

“Olahraga secara teratur, menjunjung tinggi budaya keselamatan, berpikir positif dan jangan lupa untuk pemenuhan gizi seimbang. Hal-hal tersebut perlu diperhatikan untuk membentuk generasi yang cerdas sekaligus sehat tanpa khawatir anak mengalami gagal tumbuh kembang,” tandasnya.

Makanan Lokal

Dalam upaya memenuhi gizi seimbang, Kohar juga menekankan pentingnya mengangkat makanan lokal. Harapannya agar tidak punya ketergantungan ke luar. Apa yang ada di daerah setempat, ya itu yang dipilih. Dicontohkan mereka yang tinggal di daerah pantai, memiliki banyak pilihan ikan. Yang di pegunungan punyak banyak pilihan buah. “Yang penting itu bagaimana mengonsumsi buah dan sayuran, bagaimana nilai gizi proteinnya,” katanya.

Peringatan hari gizi bertema “Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi” dengan slogan “Gizi Seimbang, Prestasi Gemilang” itu juga dimeriahkan dengan kegiatan jalan sehat, bazaar buah dan sayur,  dan kuis seputar kesehatan.ret