Hoax Tantangan Wisudawan Stikosa-AWS

TIGA DOKTOR BARU: (kiri-kanan) Sirikit Syah, Dimam Abror (diwakili istri), Suprawoto, Imawan Mashuri dan Ismojo.

SURABAYA (global-news.co.id) – Para wisudawan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS), kali ini masuk para wisudawan “Zaman Hoax”. Mengapa? Karena, sebagai sarjana, mereka harus berhadapan dengan hoax.

Sebagai ahli komunikasi, para wisudawan akan dihadapkan dengan berita bohong dan sejenisnya. Karena itulah, sebagai sarjana komunikasi harus berani melawan hoax dengan bertindak jujur sebagai komunikator.

Hal itu dikatakan Imawan Mashuri, SH., MH, Ketua Yayasan Pendidikan Wartawan (YPW) Jatim ketika memberikan sambutan dalam acara “Sidang Terbuka Senat Akademik Stikosa-AWS Wisuda Sarjana Ilmu Komunikasi Tahun 2018, Sabtu (1/12/2018), di Dyandra Convention Center, Surabaya. Dalam acara ini sebanyak 92 mahasiswa Stikosa-AWS diwisuda.

Imawan (kiri) menyerahkan cendramata kepada Dirut RRI M. Rohanudin.

Zaman hoax, katanya, adalah suatu situasi dalam kurun waktu yang ruang publiknya diwarnai berita-berita bohong, informasi palsu, kabar yang dikonstruksi berdasarkan like and dislike yang dikendalikan oleh emosi, sensasi idiom-idiom noices.

“Semuanya ini menuju distrust terhadap apa pun, yang mempengaruhi seluruh pengguna media sosial. Akibatnya, yang masih segar dalam ingatan kita yakni yang terjadi di Gresik. Dimana orang sakit jiwa dianggap pura-pura, karena medsos sedang viral isu penculikan anak, hampir saja orang tersebut digebukin massa,” katanya.

Wartawan senior tersebut mengatakan, Lembaga Survey Denny JA, Oktober lalu merilis bahwa 75% masyarakat Indonesia menyatakan, hoax sudah berada pada stadium mengkhawatirkan. Sebanyak 74,5% diantaranya meminta agar ada tindakan konkret. Kominfo sendiri sudah mengambil langkah-langkah signifikan. Misalnya menutup ratusan ribu akun. Cyber Crime Kepolisian juga telah menangani secara pidana , dan pelakunya ditangkap. Hanya saja, produk hoax masih ramai mewarnai media sosial.

“Karena itulah, saya berharap agar para lulusan Stikosa-AWS ini menjadi bagian dari pelaku positif komunikasi. Adik-adik setelah menyandang gelar sarjana komunikasi harus berani melawan berita-berita hoax. Jadilah komunikator yang baik. Komunikator yang menyajikan berita-berita yang berdasarkan fakta,” kata Imawan yang juga mantan Dirut JTV itu.

Revolusi Digital

Revolusi digital belakangan terus menyeruak, sehingga merubah perilaku di segala lini. “Hoax merupakan sebagai dampak dari revolusi digital tersebut. Pada era digital ini telah membawa perubahan luar biasa di berbagai bidang di hampir seluruh belahan dunia. Di Indonesia, teknologi digital setidaknya membawa perubahan dahsyat dalam hal konektivitas, divergensi, identitas, pengetahuan, dan bisnis/perdagangan. Karena itulah, para wisudawan harus menjadi palang pintu untuk melawan hoax,” kata Rohanuddin, Dirut RRI.

Imawan (kiri) menyerahkan cenderamata kepada wakil Kopertis IV, Budi Hasan.

Dalam orasinya, M. Rohanudin menyampaikan, ditengah digitalisasi saat ini, sangat penting bagi Bangsa Indonesia untuk memperkuat identitas diri. “Digitalisasi tidak hanya memberikan keuntungan, tapi juga bisa membawa kerugian jika tidak disikapi dengan bijak. Penyebaran hoax pun bisa langsung cepat tersebar, bila tidak disikapi dengan kritis.” Kata dia yang juga alumni perguruan tersebut.

Bertolak pada kenyataan itulah, katanya, RRI sebagai radio dengan jumlah pendengar terbanyak, berkomitmen menjaga keutuhan NKRI. Sebagai radio pemerintah RRI bukan hanya berperan sebagai media informasi, tapi juga agen pembangunan. Melalui RRI Net yang telah diuji coba sejak enam bulan lalu, Jumlah pendengar RRI pun meningkat. Hasil survei dari Indosurvei dan AC Nielsen, pendengar RRI di Indonesia mencapai 4,5 juta orang dari total pendengar radio di Indonesia sebanyak 7,5 juta. “Itu pendengar terbesar dari seluruh radio di Indonesia,” katanya.

Sementara itu Ketua Dewan Pembina Stikosa-AWS, Dr. Drs. Suprawoto SH, M.Si mengatakan, lulusan Stikosa-AWS banyak dibutuhkan masyarakat. Khususnya berkaitan komunikasi. Karena itulah, perguruan ini dari tahun ke tahun sudah sepantasnya menunjukkan kinerja yang lebih baik. “Untuk itu, kami berharap adanya masukan-masukan yang positif demi sebuah kemajuan perguruan ini,” kata Suprawoto yang juga Bupati Magetan, Jatim ini.

Dia berbangga hati, karena perguruan ini telah berhasil menambah para dosen yang bertitel doktor. “Baru-baru ini, sudah ada tiga doktor baru pengajar di Stikosa-AWS. Mereka itu, yakni Diman Abror, Sirikit Syah dan Ismojo Herdono (Ketua Stikosa-AWS). Saya optimis, kehadiran para doktor baru tersebut akan menjadi amunisi bagi Stikosa-AWS. Terakhir saya mengucapkan selamat kepada para wisudawan. Semoga para wisudawan dapat mengharumkan Stikosa-AWS di tengah-tengah masyarakat,” pungkasnya. (Erfandi Putra)