Gandeng Guru, TCSC Ajak Tekan Jumlah Perokok Anak

Ketua TCSC IAKMI Jatim, Dr dr Santi MartiniMKes  saat memberikan paparan terkait meningkatnya jumlah perokok anak di Indonesia berdasarkan Riskesdas 2018, Minggu (11/11).

SURABAYA (global-news.co.id) – Untuk menekan jumlah perokok anak yang semakin meningkat, Pusat Advokasi Pengendalian Tembakau (TCSC) Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Jatim akan menggandeng para guru yang dianggap lebih mudah memersuasif anak-anak terkait bahaya rokok. Hal ini dilakukan berdasarkan masukan yang diterima dari peserta media briefing yang digelar Minggu (11/11) dalam rangka memeringati Hari Kesehatan Nasional 12 November 2018  yang bertema “Ayo Hidup Sehat Mulai dari Kita”.

Ketua TCSC IAKMI Jatim, Dr dr Santi Martini MKes, mengungkapkan, berbagai cara untuk menekan angka perokok terutama anak-anak telah dilakukan, namun jumlah perokok anak naik signifikan dari 7,2% pada 2013 menjadi 9,1% sesuai hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dirilis awal November lalu. Padahal target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2014-2019 adalah menurunkan prevalensi merokok anak menjadi 5,4%.

Mendasarkan survei yang dilakukan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair pada 2017 di Kota Surabaya, usia mulai merokok paling banyak (26,8% adalah usia 10 tahun. Apabila mendasarkan rentang usia 9-13 tahun, sebanyak 92,2% anak SD dan SMP yang pernah merokok dan  mulai pertama kali merokok. “Artinya pada rentang usia inilah anak harus diwaspadai karena rentan mulai merokok,” kata Ilham staf pengajar FKM Unair.

Dari seluruh responden anak SD dan SMP hanya 4,2% anak yang tidak pernah melihat atau mendengar iklan rokok. Artinya hampir semua anak (95,8%) pernah terpapar iklan rokok yang menginspirasi anak jadi merasa dewasa (27,5%), merasa gaul (17,7%), dan merasa percaya diri (9,4%).  Sebanyak 12,1% anak tertarik untuk mencoba merokok setelah melihat iklan rokok dan sebanyak 14,5% anak akan merokok setelah melihat iklan rokok.

Yang memprihatikan, iklan-iklan rokok itu bertebaran di dekat sarana pendidikan dan kesehatan.  Semisal di warung kopi atau toko mracangan dibuatkan banner nama warung atau tokonya oleh perusahaan rokok yang tentu saja akan mencantumkan produknya.  Belum lagi baliho-baliho iklan rokok di jalan protokol yang berdasarkan survei FKM paling banyak ditemukan di wilayah Surabaya pusat dan selatan.

Gencarnya iklan, promosi dan sponsor rokok serta meningkatnya prevalensi anak merokok, mengakibatkan generasi muda mendatang lebih berisiko dilanda epidemi penyakit jantung dan penyumbatan pembuluh darah. Apalagi dampak rokok tak hanya terjadi pada pelaku, tapi juga orang-orang di sekitarnya akibat second hand smoke yaitu yang terpapar secara langsung dan third hand smoke yaitu partikel asap yang menempel pada dinding, perabotan dan benda-benda di dalam rumah yang terhirup orang yang berada di tempat tersebut.

Dan perlu diketahui, masa depan anak pada di Indonesia Cemerlang bertepatan 100 tahun Kemerdekaan RI nanti tergantung pada mereka yang saat ini masih anak-anak. “Karena itu sangat penting bagi pemerintah untuk menghentikan jumlah perokok baru. Mencegah munculnya perokok baru sangat vital bagi Indonesia untuk menurunkan angka perokok remaja,” kata Priyono Adi Nugroho dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Jatim.

Sayangnya upaya menekan angka perokok di kalangan remaja itu tidak diimbangi oleh kebijakan yang dikeluarkan pemerintah yang membatalkan kenaikan cukai rokok pada 2019. Ini berarti harga rokok masih bisa terjangkau anak, apalagi bisa didapatkan secara eceran, tidak adalah batasan bagi penjual rokok sebagaimana penjualan minuman beralkohol sehingga siapa pun bisa menjualnya.

“Dengan menaikkan cukai rokok, otomatis harga rokok akan meningkat sehingga tidak terjangkau lagi oleh anak-anak dan masyarakat kelas bawah.  Kalau harganya mahal, kan otomatis mereka tidak membeli lagi. Dengan demikian, juga akan mengurangi dampak penyakit yang disebabkan rokok sehingga tidak membebani biaya BPJS yang terus membengkak,” ujar Santi.ret