Saat Cak Sodiq Kehilangan Istrinya, Setia Merawat Istri Stroke di Antara Gemerlap Panggung Dangdut

Nama Cak Sodiq Monata sudah sangat terkenal di dunia dangdut. Bahkan dia dijuluki raja (musik dangdut)) koplo. Namun siapa sangka di balik ketenaran Cak Sodik itu tersimpan cerita sedih bersama istrinya.  Kisah yang sungguh mengharukan.  Berikut tulisan Damar Huda, owner DMR Production, EO yang kerap menggelar even dangdut dengan menampilkan Cak Sodiq. Saat ini DMR Prod bersama Cak Sodiq dan Duo Virgin tengah menggelar Magetan Kumandhang Pesona Jawa Timur di GOR Magetan 4-14 Oktober 2018.

SEBUAH pesan singkat melalui WA dari Cak Sodiq Monata saya terima Rabu (26/9) pagi lalu. Bunyinya begini: ” Pak nyonyaku gak onok umure pak, jenengan sepuro yo pak, ibue bagus pak…”

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.  Sodiq Monata, berduka. Istri tercintanya, Indah Yuliani, meninggal dunia.  Tak terasa 14 tahun Yuliani menderita stroke nyaris total. Hingga mengalami kelumpuhan permanen.  Dan, Rabu (26/9) itu, Yuliani terbebas dari penyakitnya. Dia meninggalkan Cak Sodig dan empat anaknya selama-lamanya.

Banyak kenangan hebat yang dialami Cak Sodig bersama wanita kuat yang menemani hidupnya ini.  Apa saja kenangannya, Cak? “Bojoku iki betah mlarat, Pak, kuat urip mlarat (miskin) bersamaku,” ujar Cak Sodig saat menerima saya dan sejumlah rekan, bertakziyah di rumah duka, Pandaan, Pasuruan, Kamis (27/9) malam.

Pernah, cerita Sodig, suatu hari saat dia bangun tidur. Tak ada masakan di meja . “Masak opo Dik? Dia jawab, gak ada Cak, arep utang nang warung ngarep wis isin, wis akeh (utangnya). Tak takoni maneh, anak-anak gimana? Dia bilang, sudah dimintakan sarapan dari tetangga, ” ujar penyayi berambut gimbal kelahiran Pandaan 7 April 1968 ini, mengenang saat susah dulu.

Saat itu, mereka baru punya anak pertama. Sodig masih kerja serabutan, kuli bangunan, atau kerja apa saja. Untuk makan saja, susah.

Ekonomi mulai agak lumayan saat Sodiq pindah kerja dorong gerobak nasi goreng, keliling kampung ke kampung. Jualan nasi goreng dan mie goreng, sering juga sepi.

Nah, Sodig yang suka nyanyi lagu-lagunya Rhoma Irama, lalu mencoba nyari nafkah dengan ngamen di terminal bus Pandaan, Pasuruan.  Dari sinilah dia mengenal dunia orkes, yang kelak mengantarkan dia sebagai “Raja dangdut koplo” di tanah air. Mengawali karier dangdutnya, dengan jadi asisten alias tukang nenteng gitar. Sekali-kali ia disuruh nyanyi saat cecksound, sebelum show.

Setelah melahirkan anak keempatnya, penyakit epilepsi bawaan dari kecil dari sang istri sering kumat.   Suatu hari, — inilah awal cobaan berat itu — Yuliani mendadak terserang stroke. Jaringan saraf otaknya rusak permanen. Sejak itu, Yuliani, hanya ada di tempat tidur. “Selama 14 tahun, istri saya tergolek di atas tempat tidur, miring ngiwo miring nengen, ” ujar bapak empat anak–antara lain Suci Susanti, Bagus Santoso, Rosita Dewi– ini.

Tak sebentar waktu 14 tahun. Sodig tak cuma tulang punggung keluarga, juga harus nabung untuk biaya berobat istrinya. Mulai medis hingga alternatif, termasuk tusuk jarum. Hasilnya, nihil. Setiap ayan (epilepsi)-nya kambuh berjam-jam, stroke makin parah. Jaringan saraf otaknya semakin rusak. Selama 14 tahun, istri harus pakai pempers.

Saat istrinya sakit itu, karier Sodig makin tenar lewat orkes Palapa. Lalu bareng Nono (gitar) dia mendirikan orkes Monata.   Walau sudah tenar, setiap pulang show, misalnya, Sodig tak melupakan merawat istrinya.

Tak ada yang menyangka. Di balik gemerlapnya panggung dangdut Monata, ada kisah nyata superstarnya, Cak Sodig, yang menderita batin karena sakitnya sang istri.  Tanpa diketahui banyak orang, sering pulang show, dini hari, Sodig tidak tidur. Pagi harinya, Sodig memandikan sendiri istrinya. Lalu mendudukkan di kursi roda dan menjemurnya di halaman depan rumah.

Saya pernah datang ke rumah Cak Sodig di Pandaan ini, saat dia sedang menjemur istrinya yang nyaris lumpuh total. “Yo iki jimatku Pak, ikhlas aku ngrawat bojoku,” ujarnya yang tak pernah pakai jasa pembantu di rumahnya.

Saat Sodiq mampu beli mobil pertamanya, pernah suatu malam, dia membopong istrinya, memasukkan ke mobil.  “Bojoku tak gowo muter-muter Pandaan sampai Tretes. Di tempat sepi, tak ajak omong dewe, Yul, ayo waraso, aku wis sugih sak iki, duwekku wis akeh, aku biyen sing dihina wong kampung, jarene gak iso numpak sepeda motor, sak iki aku wis iso tuku mobil Yul, ayo waraso sayang, kita bersenang-senang. Tak delok bojoku iso nangis, air matanya berlinang.”

Sambil bercerita begitu, tak terasa, mata Sodig juga berkaca-kaca.

Dengan nada lirih, dia menambahkan, yang membuat dia “getun” (menyesal) adalah saat sudah kaya seperti sekarang ini, dia justru tak bisa menyenangkan istrinya. Padahal dia-lah yang mendampingi Sodiq saat zaman susah dulu.

Apa boleh buat. Segalanya sudah digariskan-Nya. “Semoga bojoku sekarang diterima di sisiNya, kepada siapa saja, sepuroen yo,” katanya.  Amiin, Cak.

Di depan rumah dukanya, malam itu, sejumlah papan karangan bunga duka cita, menancap bisu. Tampak berderet. Dari RCTI group hingga Bupati Pasuruan Gus Irsyad. (damar huda)