Pakde Karwo Peringati Hari Jadi Jatim Terakhir, Gus Ipul Pilih Hadir di Acara Lain

 

SURABAYA (global-news.co.id) Peringatan hari jadi Provinsi Jawa Timur ke-73 terasa lain dari sebelumnya. Peringatan kali ini menjadi yang terakhir bagi H. Soekarwo setelah memimpin Jawa Timur dalam 10 tahun terakhir. Namun sayang, peringatan kali ini terasa kurang lengkap. Karena Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf justru tidak tampak hadir pada Upacara Hari Jadi ke 73 Provinsi Jatim. Padahal sebelumnya Gus Ipul selalu hadir dalam setiap peringatan hari jadi Provinsi Jatim.

Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo, mengaku juga tidak tahu Gus Ipul tidak hadir dalam momen istimewa tersebut. Padahal Gus Ipul juga sudah diundang secara resmi oleh Pemprov Jatim. Pakde mengatakan absennya Gus Ipul itu tidak berkaitan dengan konflik apapun. Sebab selama ini Gus Ipul tidak pernah absen. “Nanti saya telepon mengapa ndak hadir. Sejak periode pertama saya dengan Gus Ipul baik-baik saja kok,” kata Pakde Karwo di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (12/10/2018).

Kepala Biro Humas dan Protokoler Pemprov Jatim Aris Agung Paewai juga mengungkapkan ketidakhadiran Gus Ipul dalam peringatan hari jadi Provinsi Jatim ke-73 karena ada kepentingan lain. “Pak Wagub (Gus Ipul) sudah kita undang, tapi beliau ada acara lain,” terang Aris Agung Paewai.

Peringatan hari jadi Provinsi Jatim kali ini sebenarnya cukup istimewa. Pasalnya jabatan Soekarwo dan Gus Ipul akan berakhir pada bulan Februari 2019. Jadi ini upacara terakhir kali sebagai gubernur dan wakil gubernur Jatim yang memimpin dua periode.

Karena itulah, suasana upacara peringatan hari jadi Provinsi Jatim ke 73 di gedung Grahadi berlangsung mengharu biru. Di akhir upacara, Pakde Karwo bersama istrinya, Nina Soekarwo bernyanyi bersama seluruh peserta upacara. Mereka menyanyikan lagu ciptaan Samsons berjudul ”Luluh”.

Hadir dalam peringatan tersebut Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan, Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Arif Rahman, Ketua DPRD Jatim Abdul Halim Iskandar, dan Sekdaprov Jatim, Heru Tjahjono. Komandan Lantamal V Laksma TNI Edwin, Kasgartap III/ Surabaya Brigjen TNI (Mar) Lukman Hasyim, Kajati Jatim dan para pejabat Forkopimda Jatim. Tampak pula hadir Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) II, Laksamana Muda TNI Didik Setiyono yang didampingi Ketua Daerah Jalasenastri Armada (KDJA) II, Ny. Retno Didik Setiyono.

Nampak mata Pakde Karwo berkaca-kaca dan beberapa kali Bude Karwo pun menyeka matanya dengan tisu. Pemimpin Jatim selama 10 tahun tersebut tak kuasa menahan air mata haru bercampur bahagia.

Sebelumnya, dalam sambutannya, Pakde mengucapkan selamat ulang tahun Provinsi Jatim ke- 73, sekaligus ucapan Dirgahayu TNI ke- 73. Gubernur Jatim turut menyampaikan bela sungkawa kepada korban gempa dan tsunami di Lombok, Palu dan Donggala serta terbaru di Kab. Situbondo, Sumenep dan sekitarnya yang mengakibatkan korban jiwa. “Saya berdoa semoga Allah SWT memberikan tempat yang mulia disisiNya dan bagi keluarga korban yang ditinggalkan selalu diberikan kesabaran”, ucapnya.

Mengambil tema “Makmurkan Jawa Timur melalui Industri UMKM berbasis Digital”, Pemprov Jatim melakukan upaya alternatif dengan cara membiayai, memproduksi dan memasarkan produk- produk UMKM masyarakat, karena UMKM memiliki peran untuk kemajuan ekonomi Jatim dan dapat bertahan dalam keadaan krisis moneter. Hingga saat ini UMKM di Jatim paling besar jumlahnya dengan menciptakan 4,6 juta UMKM.

Peringatan hari jadi Provinsi Jatim kali ini juga di bawah bayang-bayang makin panjangnya daftar kepala daerah di Jawa Timur yang tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebagai gubernur yang mendekati masa akhir jabatan, Soekarwo mengaku malu. Ia pun memikirkan cara untuk mengatasinya. Salah satunya adalah mendatangkan psikolog. Tujuannya untuk mengetahui kondisi kejiwaan para kepala daerah tersebut.

Pakde Karwo mengatakan beberapa bupati atau wali kota yang terkena OTT KPK sebenarnya merupakan kepala daerah yang berprestasi dalam pelayanan publiknya. Sehingga, hal tersebut dianggap Pakde Karwo suatu hal yang cukup aneh. “Saya mengundang tiga psikolog, saya suruh ngetes. Psikologi itu kejiwaan, mengapa ini (korupsi bisa terjadi) kan namanya anomali. Penghargaan pelayanan publiknya tinggi, KPK-nya juga tinggi tanggapannya, ini kan anomali. Anomali kan ada kekosongan wong di sini baik kok di sana kayak gitu,” kata Pakde Karwo, Kamis (11/10/2018).

Setelah dilakukan tes kepada setiap kepala daerah, Pakde berkeinginan mengetahui apakah mereka saat dites memiliki kecenderungan berbeda dalam kehidupan sehari-harinya. Apakah mereka merupakan pribadi yang terbuka dengan anak istrinya atau justru sebaliknya tertutup. “Kemudian mungkin rekomendasinya bisa ke anak istri dan langsung dicek, sering cerita apa adanya nggak. Bagaimana sebelumnya happiness itu 10 poin, bagaimana keluarga sejahtera itu,” katanya.(ins)