Melihat Potensi Peternakan di Wajak, Malang, Sapi Inseminasi Buatan Dongkrak Pendapatan Peternak

GN/F. Al Aziz
Petugas Dinkeswan Kabupaten Malang serta dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur secara masal melakukan Pemeriksaan Kebuntingan (PKB) dan Inseminasi Buatan (IB) di Desa Wonoayu Kecamatan Wajak Kabupaten Malang.

Budi daya ternak sapi dengan menggunakan inseminasi buatan (IB) menghasilkan perputaran uang yang boleh dibilang mengesankan. Salah satunya pengembangbiakan sapi di Kabupaten Malang. Tepatnya di Desa Wonoayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang salah satunya.

 

Oleh : F. Al Aziz

 

Adalah Desa Wonoayu Kecamatan Wajak. Lebih dari satu dekade lalu, masih berstatus desa tertinggal. Menurut sejarahnya, desa ini merupakan perkampungan yang terletak di tengah-tengah hutan yang asri di sebelah tenggara Kecamatan Poncokusumo. Kala itu, desa berpenduduk 392 KK ini masih berada di wilayah Kecamatan Poncokusumo, Kab. Malang. Mengutip profil dari Pemerintah Desa Wonoayu, pada tahun 1913, sebanyak 11 kepala keluarga atau 30 orang melakukan bedhol desa. Hal itu setelah adanya tawaran dari pihak PT Perhutani untuk mengadakan kesepakatan tukar guling (boos weshent).

Dari kesepakatan tersebut wilayah Poncokusumo ditukar dengan perkebunan jeruk yang berada di wilayah Kecamatan Wajak, tepatnya di utara Desa Sumberputih Kecamatan Wajak. Sedangkan Desa Wonoayu berpindah ke wilayah yang awal mulanya kebun jeruk. Itulah sebabnya Desa Wonoayu lebih dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Desa Njeruk.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Malang Nurcahyo mengatakan Desa Wonoayu memang salah satu penghasil sapi potong di Kecamatan Wajak, satu dari 17 sentra sapi potong di Kabupaten Malang.

Mengutip data Disnakeswan setempat, dari total populasi sapi potong yang ada di seluruh sentra di Malang berjumlah 234.482 ekor, 17.687 ekor di antaranya berada di Kecamatan Wajak dan 833 ekor ada di Desa Wonoayu.

Di tempat terpisah, Kepala Desa (Kades) Wonoayu Wina Nurnama mengungkapkan, perbandingan populasi antara sapi potong jantan dan betina terlihat sangat mencolok. “Jumlah sapi jantan total 147 ekor, sedangkan betina ada 686 ekor,” ungkap Wina ditemui di sela pelaksanaan Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) di Desa Wonoayu, Rabu (29/8).

Wina menuturkan, lebih banyaknya populasi sapi potong betina daripada pejantan, karena dianggap peternak lebih untung memelihara indukan betina. “Warga banyak beternak sapi potong karena mudah menjual. Kalau ada keperluan, nanti bisa dijual,” ujar Wina.

Dari total 392 KK warga Desa Wonoayu, ada 302 KK yang memiliki sapi. “Jadi hampir semua KK punya ternak. Hanya sedikit saja warga yang tidak beternak sapi. Rata rata satu ternak ada 1-3 ekor sapi betina,” ungkap istri salah satu anggota DPRD Kab. Malang ini.

Mat Saidi, Ketua Kelompok Ternak Wonokoyo Desa Wonoayu, mengatakan, saat ini warga lebih banyak memelihara sapi potong betina karena memang lebih menguntungkan. Apalagi pengembangbiakan sapi dengan inseminasi buatan (IB) yang tengah digalakkan pemerintah melalui program Upsus Siwab dan berbagai inovasi pemkab setempat (Pemkab Malang memiliki program Intan Bergaris Emas (Inseminasi Buatan Beranak 300 Ribu Ekor Masyarakat Sejahtera). “Sekarang jarang yang pakai cara alami. Lebih banyak pakai inseminasi buatan. Apalagi kami ,” ujar pria yang juga menjabat sekretaris desa setempat.

Saidi mengakui, berdasarkan hitung-hitungan, jauh menguntungkan menggunakan cara inseminasi buatan. “Punya saya baru berumur 6 bulan, itu masih pedhet (anakan sapi –red.), laku dijual Rp 14 juta. Tergantung ukuran pedhet nya besar atau tidak, ” terang Saidi.

Peternak lainnya, Achmad Fauzi saat ini sudah punya empat ekor sapi hasil inseminasi buatan. “Jelas sangat membantu (peningkatan pendapatan –red.),” ujar salah satu staf Pemdes Wonoayu ini.

Bupati Malang Rendra Kresna mengakui sumbangan pendapatan daerahnya dari subsektor peternakan sapi potong ini berkat inseminasi buatan. “Kontribusi kegiatan inseminasi buatan terhadap pembangunan di Kabupaten Malang rata-rata per tahun sebesar Rp 510 miliar dengan rata rata kelahiran 60 ribu ekor tiap tahun,” ungkap Rendra di pendapa Pemkab Malang, Selasa (28/8). Rendra yang pernah bertahun tahu berkecimpung menangani peternakan sapi saat menjadi anggota DPRD dan wakil bupati, mengungkapkan harga pedet lepas sapih berumur 6-8 bulan rata-rata  Rp 8,5 juta. Tak mengherankan kalau pada tahun 2017,  sumbangsih dunia peternakan keseluruhan pada PDRB Kabupaten Malang mencapai kurang lebih Rp 80-an triliun.

Wemmi Niamawati, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur (Disnak Jatim), mengakui besarnya pengaruh teknologi inseminasi buatan bagi peningkatan pendapatan masyarakat.

Berdasarkan data Disnak Jatim, pada tahun 2017, dari total 1.225.042 ekor sapi bunting (baik sapi potong dan perah) yang diinseminasi buatan, 90 persen lahir atau sebanyak 1.050.000 ekor. “Jika harga jual pedhet hasil IB dihargai Rp 7,5 juta, dikalikan jumlah kelahiran sapi pada tahun 2017 sebanyak 1.050.000, berarti total peningkatan pendapatan masyarakat dari penerapan teknologi Inseminasi buatan selama 1 tahun Rp 7,86 triliun,” ujar Wemmi saat memberikan keterangan pada wartawan di kantor Gubernur, bulan lalu. “Jelas ini akan membantu peningkatan kesejahteraan peternak,” pungkas Wemmi. (faz)