Kedewasaan Politik Masyarakat Pamekasan Sangat Bagus

GN/Masdawi Dahlan
Para peneliti LPI Unair dalam seminar Bappeda Pamekasan.

PAMEKASAN (global-news.co.id)-Sebagian besar warga Pamekasan telah memiliki kedewasaan berpolitik yang tinggi. Indikasinya mereka menilai biasa saja jika dalam satu event politik kandidat pilihannya kalah pada kandidat lain. Indikasi lainnya animo masyarakat dalam menyikapi pemilu cenderung bagus, misalnya tingkat kehadiran mencoblos sangat tinggi.
Hal itu sebagian hasil kesimpulan penelitan tentang perkembangan partisipasi pemilih dalam pemilu di Pamekasan, yang dilakukan Bappeda Pamekasan bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Inovasi Universitas Airlangga ( LPI Unair) Surabaya. Hasil penelitian itu Selasa (18/9/18) kemarin diseminarkan di ruang pertemuan Kantor Bappeda Jalan Jokotole Pamekasan.
Dua orang peneliti dari LPI Unair Surabaya dihadirkan yakni lan Prof Dr Bagong Suyanto dan Dr Septi Ariadi MA. Sementara peserta seminar yang dihadirkan antara lain pimpinan partai politik, utusan dari Perguruan Tinggi, LSM, Pers, KPU, Panwaslu, Pimpinan SKPD terkait dilingkunan Pemkab Pamekasan, para Camat dan lain sebagainya.
Indikator lain bahwa tingkat kedewasaan politik warga Pamekasan sudah sangat tinggi ditandai dengan lancarnya pelaksanaan pemilu kepala daerah (Pilkada) serentak yang baru saja selesai dan minimnya pelanggaran yang muncul. Sebagian besar masyarakat juga mengaku puas atas pelaksanaan beberapa kali pemilu yang telah berjalan di Pamekasan selama ini.
Aspek lain yang menarik dari hasil penelitian ini adalah masyarakat dalam menentukan pilihan atas kandidat calon kepala daerah maupun calon anggota legislatif bukan karena faktor partai, namun yang lebih dominan masalah kesamaan agama dan ideologi.
Terkait dengan kualifikasi personal dalam memilih kepala daerah maupun anggota legislatif, masyarakat yang jadi sampel responden penelitian ini menekankan aspek kejujuran, (63 %), merakyat (63 %). Selain itu juga masyarakat menginginkan figure yang tegas (59 %), sabar (59 % ), agamis dan kreatif (56 %).
Sementara terkait isu yang menjadi keinginan masyarakat dan harus diperhatikan kepala daerah yaitu masalah kemiskinan, penganguran dan kesempatan kerja. Karena itu sebagian besar masyarakat menginginkan agar kepala daerah atau anggota dewan terpilih harus turun kemasyarakat memberikan ruang partisipasi dan menyerap aspirasi bagi masyarakat.
Sementara itu Muhammad Munif, salah seorang peserta seminar menilai persoalan politik krusial di masyarakat bukan soal partisipasi, namun soal moralitas. Dia melihat masyarakat kini sudah sangat pragmatis materialis dan mengukur segala sesuatunya dengan uang.
“Dalam penelitian ini kurang terungkap dengan gamblang tentang money politik. Money politik dalam pemilu sudah kronis. Itu yang menurut saya harus diungkap secara terbuka dan dicarikan solusinya. Money politik bukan hanya pilihan strategi oleh kandidat namun sudah menjadi watak masyarakat pemilih secara umum, mau pilih kalau ada uang,” tandasnya. (mas/*)