Duta Besar RI Bunyikan Lonceng Tandai Tahun Ajaran Baru di Rusia

MOSKOW (GLOBAL-NEWS.CO.ID) – Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi, bersama dengan Rektor Universitas Ilmu-Ilmu Sosial dan Kemanusiaan Saint Petersburg, Prof. Dr. Alexander S. Zapesotsky, para guru besar dan tamu undangan dari kalangan diplomat, pejabat pemerintah, seniman dan tokoh masyarakat, secara bersama-sama membunyikan lonceng mini menandai dimulainya tahun ajaran baru di Rusia tanggal 1 September 2018. Ratusan mahasiswa yang hadir dan pihak keluarga serta tamu undangan lainnya juga turut membunyikan lonceng mini yang dipegang masing-masing secara serentak.

“Bercita-citalah menjadi apa saja yang diinginkan dan galilah ilmu setinggi-tingginya untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Bukan tidak mungkin dalam waktu antara 30-40 tahun mendatang, kalian akan duduk di barisan VIP ini sebagai profesor, gubernur, walikota atau bahkan duta besar”, kata Dubes Wahid disambut tepuk tangan meriah para mahasiswa baru, ketika diminta untuk memberikan sambutan di hadapan sekitar 900 mahasiswa dan para undangan.

Adiguna Wijaya, Kepala Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia di Moskow, Selasa 4 September 2018, mengatakan kepada Global News, bahwa dalam kesempatan itu, Dubes RI juga berkesempatan memberikan kuliah umum di depan sekitar 300 mahasiswa, bertajuk “Indonesia-Russia: From Soekarno-Khrushchev to Current Challenges”. Dubes membahas seputar hubungan bilateral kedua negara ditinjau dari sejarah pre-kemerdekaan sampai kondisi dunia saat ini dan tantangan yang dihadapi kedua negara.

Dubes Wahid mengatakan bahwa setelah masa keemasan pertama pada masa pemerintahan Soekarno di Indonesia dan Nikita Khrushchev di Uni Soviet, maka saat ini kedua negara memasuki masa keemasan kedua di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Presiden Vladimir Putin. Diakui kedua negara mengalami masa stagnansi di masa Pemerintahan Orde Baru yang anti komunis, namun perlahan hubungan semakin membaik, khususnya sejak bubarnya Uni Soviet. Kedua negara memiliki kesamaan aspek sebagai bangsa yang multi-etnis dan multi-agama, dengan luas wilayah yang sangat besar. Namun kedua negara dinilai kurang melakukan PR (Public Relations), sehingga kurang dikenal secara luas. “Banyak yang menganggap Rusia saat ini kelanjutan dari Uni Soviet dan orang Rusia lebih mengenal Bali daripada Indonesia” lanjut Dubes Wahid.

Untuk itu, Dubes RI mengajak kedua negara untuk lebih mempererat hubungan bukan saja di tingkat pemerintah, tetapi juga di tingkat bisnis dan masyarakat atauP to P. “Festival Indonesia yang telah diselenggarakan 3 kali oleh KBRI Moskow didesain untuk itu dan hasilnya pun cukup nyata. Perdagangan kedua negara naik 25% menjadi USD 3,27 milyar dan turis Rusia meningkat 37% menjadi lebih dari 110 ribu orang tahun lalu. Sebaliknya, lebih dari 20 ribu turis asal Indonesia telah berkunjung ke Rusia tahun yang sama atau meningkat lebih dari 300%”, imbuh Dubes Wahid. Diingatkan juga bahwa tantangan saat ini tidaklah ringan, dengan munculnya tren baru de-globalisasi dan ancaman terorisme dan radikalisme.

Universitas Ilmu-Ilmu Sosial dan Kemanusiaan Saint Petersburg berdiri sejak 1926 dan saat ini menjadi salah satu universitas swasta terkemuka di Rusia. Universitas ini memiliki lima fakultas, yaitu Budaya, Seni, Ekonomi, Hukum dan Studi Konflik. Jumlah mahasiswa saat ini sekitar 12.000 orang. Universitas ini memiliki tujuh kampus yang berada di berbagai kota di Rusia dan satu kampus berada di luar Rusia, yaitu di Kazakhstan.

Sementara itu dalam kesempatan terpisah di hari yang sama, Dubes RI yang didampingi oleh Konsul Kehormatan RI di Saint Petersburg, Valery Radchenko, mengadakan pertemuan dengan Wakil Ketua Komite Hubungan Eksternal Pemerintah Saint Petersburg, Viacheslav Kalganov. Pertemuan membahas mengenai rencana tindaklanjut hubungan antar propinsi (sister province) antara Saint Petersburg dengan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur. Dalam waktu dekat, Pemerintah Kota Federal Saint Petersburg akan mengirim pejabat dan kalangan bisnisnya untuk berkunjung ke Yogyakarta dan Surabaya, guna merealisasikan kerja sama tersebut. (Gatot Susanto)

Tag: