Belajar dari Krisis Moneter 1998, Direktur Perusahaan Baja Terbesar Korsel pun Jadi Pelayan Restoran

Suh Sang-rok, 20 tahun lalu sebelum krisis moneter dan ekonomi melanda negara-negara di Asia tak terkecuali Korea Selatan,  adalah orang nomor dua di Grup Sammi yang kini brangkrut. Sammi Steel Co., adalah pabrik baja terbesar di Korea saat itu.

Setelah krisis moneter melanda negara negara Asia pada tahun 1998, kehidupan Suh Sang-rok yang waktu itu berusia 61 tahun,  berubah drastis. Ia tidak lagi menjabat di perusahaannya yang dinyatakan bangkrut. Krisis moneter memutar roda kehidupan Suh Sang-rok berada di titik bawah.

Suh Sang-rok pun akhirnya melamar ke sejumlah restoran. Begitu seringnya ia makan di restoran, saat kehilangan pekerjaan, restoranlah yang pertama terlintas di benaknya.

Tapi mencari pekerjaan sebagai pelayan pun ternyata tak segampang yang ia kira sebelumnya.  Bagaikan bumi dan langit, jika dibandingkan dengan posisi sebelumnya. “Restoran-restoran langganan saya sungkan mempekerjakan saya,” kenang Suh Sang-rok  seperti dikisahkan dalam The Straits Times. “Beberapa kolega dan teman saya masih di sana, sehingga mereka merasa aneh bila saya kini melayani melayani teman-teman saya sendiri.”

Untung, salah satu hotel bintang lima di Korea Selatan, Lotte Hotel, tidak berpendapat demikian. Ia mulai masuk kerja tanggal 1 April 1998. Meski kepala pelayan sempat meragukan keseriusannya, Suh membuktikan betapa serius ia memandang pekerjaan barunya.

Bahkan semangat bekerjanya dilandasi alasan moral yang dalam. Katakanlah, semacam ekspresi penyesalan yang mendalam sekaligus menjalani “denda” sukarela. “Perusahaan saya bangkrut gara-gara saya salah perhitungan. Saya amat keliru sehingga saya tidak pantas melamar pekerjaan tingkat tinggi seperti itu lagi, ” ujar Suh

“Ketika krisis IMF terjadi, …. Bukankah sebagian gara-gara saya juga? Kami terlalu berani meminjam dana bank … krisis ekonomi di negeri kami terutama akibat orang-orang seperti kami ini,” ujarnya. “Ketika di posisi puncak, saya amat stres. Sekali keliru mengambil keputusan, ribuan orang bisa menderita. Kini yang perlu saya pikirkan hanya diri saya sendiri,” ceritanya

“Namun semua itu sudah berlalu,” ujar mantan wakil presdir itu, dengan sedikit lega, seperti dilaporkan Intisari Mei 1998.

Namun ia melakukan ini tak cuma demi dirinya sendiri. “Mudah-mudahan, karena melihat teladan saya, orang-orang yang kehilangan pekerjaan, menjadi tabah. Jangan pikirkan pekerjaanmu yang dulu. Pikir dan bersiaplah untuk masa depan.”Besar kemungkinan, berkat orang-orang macam Suh pulalah Korea Selatan bisa bangkit lagi. (ser)