Pentingnya Perhatikan Konsumsi Makanan Bumil 1000 Hari Pertama Kehidupan               

GN/Istimewa
Salah satu kegiatan yang mengunjungi anak penderita stunting di Sumberejo Kota Batu.

SURABAYA (global-news-co.id)-Mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang terutama bagi ibu hamil (bumil) selama 1000 hari pertama kehidupan menjadi kunci sukses untuk menurunkan angka stunting di Jawa Timur khususnya dan Indonesia, umumnya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jatim drg. Vitria Dewi yang hadir mewakili Kepala Dinas Kohar Hari Santoso menyatakan pemenuhan gizi seimbang merupakan dasar untuk menyehatkan bangsa yaitu dengan mengonsumsi makanan beragam dengan memperhatikan jumlah dan proporsinya, membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat, melakukan aktifitas fisik serta mempertahankan berat badan normal.

Menurut Vitria Dewi, pencanangan gerakan “Menjamin Ibu Hamil Cukup Gizi untuk 1000 Hari Pertama Kehidupan yang Berkualitas agar Ibu Selamat, Bayi Sehat” di Balai Among Tani Kota Batu, Selasa (22/8), bertujuan memberikan pemahaman tentang gizi seimbang pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) mulai dari dalam kandungan hingga anak usia 2 tahun. “Harapannya dapat menekan angka stunting di Jawa Timur yang masih sebesar 26,7 persen. Angka ini sebenarnya sedikit lebih rendah dibandingkan angka nasional yaitu 27,5 persen tapi tidak bisa dipungkiri ada beberapa kabupaten/kota yang angka stuntingnya masih tinggi,” tambahnya.

Kampanye sendiri digelar di Kota Batu karena diungkapkan Walikota Batu Dewanti Rumpoko di kota ini angka stunting mencapai 35.1 persen.

Dalam pencanangan tersebut, juga hadir Gubernur Jawa Timur yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Suprianto. “Konsumsi sayur dan buah masyarakat kita masih rendah, padahal kita memiliki hasil sayur dan buah berkualitas,” ujar Suprianto.

Dalam kegiatan ini,  diserahkan pemberian makanan tambahan bagi sekitar 400 orang anak sekolah, balita dan ibu hamil yang hadir.  Selain itu, juga dilakukan kunjungan pada pasien stunting di Desa Sumberejo, Kota Batu.

Sekadar diketahui, stunting atau  pertumbuhan tinggi badan yang tidak sesuai rata-rata anak seusianya, terjadi karena kekurangan gizi kronis umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi hal ini mengakibatkan kegagalan pertumbuhan, kemampuan kognitif tidak berkembang maksimal, mudah sakit dan berdaya saing rendah. Bahkan hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara stunting dengan kejadian degeneratif (jantung, hipertensi, diabetes, stroke).

Periode 1000 HPK (Hari Pertama Kehidpan) yang dimulai sejak dalam kandungan hingga usia 2 tahun adalah masa kritis untuk mencegah stunting. Di masa ini ibu hamil perlu dijaga asupan gizinya.

Tidak sebatas permasalahan gizi saja, faktor yangg menyebabkan stunting seperti sanitasi lingkungan, pemahaman yang salah tentang makanan sehat, faktor ekonomi dan pendidikan juga sangat mempengaruhi. Oleh karena itu diperlukan kerja sama dan konvergensi lintas sektor untuk bersama-sama mengatasi masalah stunting ini.

Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2017, prevalensi stunting di Jawa Timur turun signifikan dari lima tahun lalu sebesar 32,7 persen menjadi 26,7 persen. Angka ini sedikit lebih rendah dibanding angka nasional yaitu 27,5 persen namun demikian Jawa Timur masih dikatakan termasuk daerah yang bermasalah stunting karena masih diatas batasan 20 persen.

Berdasarkan data riskesdas tahun 2013 terdapat 100 kabupaten di Indonesia yang memiliki angka stunting cukup tinggi, dan 11 diantaranya ada di Jawa Timur yaitu Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Probolinggo, Bondowoso, Jember, Malang, Trenggalek, Nganjuk dan Lamongan.

Mulai tahun 2018 upaya pencegahan stunting akan difokuskan di 11 kabupaten tersebut. Pemetaan stunting dilakukan melalui kegiatan Bulan Timbang yang dilakukan pada Februari dan Agustus.(faz)