Meriahnya Lomba 17 Agustus di Wisma Permai, Pepelegi

SIDOARJO (GLOBAL-NEWS.CO.ID) – Setiap memperingati HUT Kemerdekaan RI, lomba tujubelasan banyak ditunggu oleh warga maupu anak-anak. Berbagai macam lomba digelar untuk memperingati HUT RI. Lomba permainan semacam ini seakan tak lekang oleh waktu, buktinya sampai sekarang masih kita saksikan di sekitar lingkungan rumah kita.

Di Lingkungan Perumahan Wisma Permai, Pepelegi, Waru (RW 08), Sidoarjo, lomba tujuhbelasan dimulai, Jumat (17/8/2018) sore. Perlombaan makan krupuk hingga tarik tambang digelarnya taman perumahan tersebut. “Ya ini hiburan bagi warga, khususnya anak-anak. Di samping itu, ini merupakan ajang ketemu warga,” kata salah seorang warga.

Dalam lomba tersebut, Pengurus dan Anggota Karang Taruna RW 08, Pepelegi, Waru Sidoarjo kelihatan sibuk untuk mengatur jalannya perlombaan. “Ya ini acara dari warga dan untuk warga. Semua bergembira. Di sini bukan juaranya, tetapi berkumpulnya warga, karang taruna dan anak-anak merupakan kebahagiaan tersendiri,” kata warga tersebut.

Kalau dicermati, berbagai macam permainanan dalam lomba tujuh belasan mempunyai makna yang cukup mendalam.

Lomba Makan Kerupuk

Kerupuk terikat pada seutas tali, dan digantung yang tingginya di atas mulut peserta lomba. Aturan main, kedua tangan tidak boleh memegang tali/kerupuk, untuk itu kedua tangan disembunyikan di belakang pinggang. Hebohnya, tali gantungan kerap berayun akibat tarikan dari peserta lain.

Permainan ini mengajarkan kepada kita, di jaman penjajahan dulu rakyat mengalami kesulitan sandang, pangan dan papan. Untuk makan yang paling sederhana sekali pun mengalami kesulitan, akibat hasil panen penduduk diambil paksa oleh penguasa. Akibatnya, banyak rakyat yang kurang gizi bahkan mati kelaparan.

Lomba Balap Karung

Pemain masuk ke dalam karung, kemudian dengan lari dengan cara meloncat. Tidak jarang pemain terjatuh berguling-guling. Karung ini mengingatkan pada saat dijajah oleh Jepang. Sebagian besar rakyat mengalami penderitaan sangat berat, karena bahan pakaian sengaja tidak didistribusikan sehingga yang tertinggal hanyalah karung goni bekas.

Kain yang berserat kasar tersebut menimbulkan gatal-gatal di kulit karena sebagai sarang kutu. Filosofi menginjak-injak karung, kita meninggalkan pakaian yang sangat tidak pantas pakai tersebut. Ada makna lain dari balap karung yaitu betapa sulitnya berlari ketika kedua kaki terkungkung di dalam karung. Seperti kungkungan penjajah terhadap kebebasan rakyat untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Lomba Tarik Tambang

Makna dari permainan ini bahwa persatuan sebagai modal utama untuk mengalahkan penjajah/lawan. Permainan ini juga mengajarkan bagaimana membentuk tim yang kompak dalam menyusun strategi yang tepat untuk dapat menarik tambang dengan mantap.

Lomba Panjat Pinang

Biasanya lomba ini digelar sebagai puncak acara dari aneka perlombaan. Lomba ini sering membuat tawa geli penonton. Pemanjat yang sudah mencapai ketinggian tertentu harus kembali merosot ke bawah. Mereka berusaha berkali-kali menggapai hadiah di ujung tiang batang pinang berlumur oli dan minyak. Untuk mencapai puncak, mereka harus bekerja sama saling bahu-membahu. Filosofi permainan ini adalah kebersamaan komponen bangsa untuk meraih kemerdekaan. (Erfandi Putra)