Kiai New York Galang Dana untuk Pesantren Pertama di AS: Sukses Konser Satu Hati di Jateng Berlanjut ke Jatim

PESANTREN PERTAMA DI AS: KH Shamsi Ali, Gubernur Ganjar Pranowo, dan sejumlah pejabat yang menyumbang dana dalam konser ‘Shalawat dan Charity Concert – Satu Hati untuk Pesantren Indonesia pertama di Amerika’, di Convention Hall Masjid Agung Jawa Tengah, Senin malam.

Imam Besar Masjid New York sekaligus Presiden Nusantara Foundation, Dr Kiai Haji Muhammad Shamsi Ali, melakukan safari keliling Indonesia untuk menggalang dukungan dan dana bagi pembangunan pesantren pertama di Amerika Serikat (AS). Pesantren Nur Inka Nusantara Madani yang akan menempati lahan seluas 7,5 hektare di Kota Moodus–antara New York dan Boston–itu membutuhkan dana sekitar Rp 140 miliar.

LAPORAN GATOT SUSANTO

UMAT Islam di Tanah Air tampak antusias menghadiri acara “Shalawat dan Charity Concert – Satu Hati untuk Pesantren Indonesia Pertama di Amerika” yang digelar di Convention Hall Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Senin (20/8/2018) malam. Acara itu memang bukan sekadar konser musik yang menampilkan grup gambus Sabyan yang popular berkat lagi “Deen Assalam”, “Ya Habibal Qolbi”, dan “Ya Jamalu” atau Melly Goeslaw, tapi juga penggalangan dana untuk pesantren pertama yang akan menebarkan Islam rahmatan lilalamin di Amerika Serikat.
Antusiasme masyarakat itu terlihat dari dana yang terkumpul dari sumbangan mereka mencapai angka Rp 1.008.000.000. Even hasil kerja sama Nusantara Foundation selaku yayasan yang menaungi pesantren tersebut dengan MAJT ini memang disambut gembira masyarakat Indonesia sebab mereka bangga putra terbaik negeri ini memelopori mendirikan pesantren yang bisa menangkal Islamphobia yang menghantui negeri Pamam Sam.

“Selanjutnya kami merencanakan acara yang sama di Jawa Timur awal tahun 2019,” kata Imam Shamsi Ali kepada Global News. Selain menghadiri acara penggalanan dana, Imam Shamsi Ali berada di Semarang juga untuk menjadi khotib Salat Idul Adha 1439 H pada Rabu 22 Agustus 2018.

Sebelumnya konser serupa bertajuk “Satu Hati” sudah pula dilaksanakan pada Sabtu, 27 Januari 2018 di Kuningan City Ballroom Jl. Prof. Dr. Satrio Kav. 18 Kuningan Jak-Sel. Saat itu acara tersebut juga disambut meriah masyarakat.

Dalam acara penggalangan dana di MAJT di Semarang yang dipandu musisi dan penyanyi Melly Goeslaw itu memunculkan sejumlah donatur mulai nominal Rp 1 juta hingga Rp 100 juta. Misalnya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyumbang dana Rp 100 juta, Bank Jateng Syariah Rp 100 juta, BRI Rp 100 juta, MAJT Rp 80 juta, paguyuban warga Sulawesi Selatan di Jateng Rp 50 juta, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono Rp 50 juta, Baznas Jateng Rp 25 juta, dan masih banyak warga lain yang ikut menyumbang untuk pesantren yang akan mendidik putra-putri Islami terbaik tersebut.
Kiai Haji Shamsi Ali yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan terima kasih atas kepedulian dan peran serta masyarakat Jawa Tengah dalam upaya pembangunan pesantren Nur Inka Nusantara Madani di New York. Shamsi Ali merasa bangga melihat antusiasme warga Jateng atas pembangunan pesantren Nur Inka Nusantara Madani itu.

“Saya sangat berterimakasih kepada Gubernur Jateng, Kapolda, MAJT, masyarakat Jateng. Semua ikut berpartisipasi, saya sangat bahagia,” ungkap Shamsi Ali.

Bagi Shamsi Ali, ini adalah amanah dari bangsa Indonesia untuk menyampaikan tentang Islam yang ramah di dunia. Sebab, sekarang berkembang Islam fobia, apalagi di Amerika Serikat, yang beberapa kali dilanda kekerasan bermotif agama. “Karena itu pesantren ini nantinya betul-betul representasi sebagai Islam yang rahmatan lil alamin,” ungkapnya.

Soal proses pembangunan pesantren itu, saat ini sudah tersedia lahan 7,5 hektare yang sebelumnya dimiliki oleh orang Palestina. Pembangunan Ponpes Nur Inka Nusantara Madani di New York, diperkirakan akan selesai tiga tahun ke depan. Sedang kebutuhan dananya mencapai sekitar Rp 140 miliar. “Untuk tahap pertama adalah renovasi gedung lama, penggalangan dana sudah cukup signifikan untuk tahap pertamanya,” katanya.

Destinasi Wisata Islami

Berlokasi di sebuah kota kecil yang indah, dikelilingi oleh bukit-bukit dan danau yang cantik, Pondok Pesantren Nur Inka Nusantara Madani akan menjadi atraksi turis (tourist attraction) tersendiri. Berbeda dengan kota New York misalnya, di mana penduduknya sangat didominasi oleh imigran, Kota Moodus yang menjadi lokasi pesantren ini masih menampilkan wajah perkampungan Amerika masa lalu.

Oleh karenanya, di masa depan pesantren ini boleh jadi akan menjadi atraksi turis tersendiri, baik lokal maupun global. Para pelancong dari luar negeri, termasuk Indonesia, dapat menjadikan pesantren sebagai salah satu destinasi kunjungan wisata religi. Demikian pula bagi warga lokal Amerika tentu pesantren ini akan menjadi daya tarik tersendiri.
Oleh karenanya, pada bagian lalu disebutkan rencana mendirikan gedung-gedung pesantren yang bercirikan Nusantara. Tentu menggambarkan keramahan, termasuk ramah lingkungan, dengan bentuk khas kedaerahan di Nusantara.

Tujuan ini, kata Kiai Shamsi Ali, minimal untuk dua hal: pertama, untuk mengenalkan Indonesia yang memang memerlukan usaha yang lebih proaktif. Kedua, untuk mengenalkan jika Indonesia itu identik dengan Islam yang diimpikan oleh dunia. Yaitu Islam yang tersenyum, merangkul dan kerjasama. Ini sekaligus menjawab stigma yang berkembang di Barat jika Islam itu adalah agama orang-orang Arab semata.

Soal Pendanaan dan Izin

Tidak disangkal bahwa dalam proses ini ada dua tantangan terbesar yang dihadapi; yakni pendanaan dan perizinan. “Sejak saya terpikir mendirikan pesantren di Amerika, saya berniat untuk melakukan penggalangan dana terbesar dari Indonesia. Ada teman-teman bertanya, kenapa Indonesia? Jawabannya adalah karena saya ingin dunia melihat bahwa Indonesia itu adalah negara yang mampu, termasuk berada di garda terdepan dalam mengembangkan dakwah Islam yang sesungguhnya. Saya ingin menjadikan pesantren ini menjadi bagian dari catatan sejarah bangsa ini,” katanya.

Berbicara tentang pendanaan ini sudah pasti cukup pelik sebab biayanya sangat besar. Pelik karena orang selalu melihat Amerika sebagai negara kaya dan maju. Sehingga ketika penggalangan dana dilakukan dari Indonesia untuk sebuah proyek di Amerika ada yang bertanya apa tidak terbalik?

“Jawabannya tidak. Di Amerika agama tidak diurus oleh negara. Oleh karenanya proyek keagamaan seperti pesantren ini tidak ada sangkut pautnya dengan kemajuan negara Amerika. Semua urusan agama, Islam khususnya, diurus oleh komunitas Muslim sendiri. Sementara komunitas Muslim relatif baru dan masing-masing punya proyek di lokalitasnya. Itulah sebabnya proyek pesantren ini saya kembalikan kepada bangsa Indonesia. Tentu karena saya merasa ini bukan proyek saya, tapi proyek bangsa Indonesia secara menyeluruh. Insya Allah jika bangsa ini melihatnya sebagai proyek kebanggannya maka sangatlah mudah untuk menyelesaikannya,” ujar Kiai Shamsi Ali.

Alhamdulillah, kata dia, sejak mulai digulirkan rencana ini, bangsa Indonesia, dari kalangan rakyat kecil hingga ke tingkatan pemerintahan menyambutnya dengan penuh antusias. Tinggal kita buktikan bahwa di mana ada kemauan di situ ada jalannya.

“Jumlah dana yang diperlukan memang tidak kecil. Selain karena memang ukurannya Amerika, juga rencana pembangunan pondok ini boleh dikata cukup ambisius. Jumlah persisnya akan disampaikan setelah pembuatan master plan diselesaikan oleh arsitektur yang membantu dalam perencanaan,” katanya.

Sementara masalah perizinan tentu kita telah mengukur dengan ragam pertimbangan. Kuasa hukum (lawyer) Nusantara Foundation telah memulai prosesnya, dari pendaftaran entitas yayasan di negara bagian Connecticut, mempelajari kode pembangunan, hingga persyaratan-persyaratan yang diperlukan dalam membuka sebuah yayasan pendidikan di Connecticut.

Sekali lagi, Amerika adalah negara yang menjadikan hukum sebagai acuan dalam segala hal. Dan secara hukum dan konstitusi, beragama termasuk pendirian institusi keagamaan, dijamin oleh konstitusi. Tantangannya memang adalah ada pada kesiapan kita memenuhi semua yang dituntut dalam proses pembangunannya. Dan untuk maksud tersebut arsitektur dan lawyer akan melakukan koordinasi secara dekat.

Renovasi Gedung Lama

Sebagaimana pernah disampaikan bahwa di lokasi ini sudah ada beberapa gedung yang masih layak pakai. Hanya saja memerlukan pembersihan dan renovasi karena pernah dipakai sebagai peternakan ayam. Dan karenanya memerlukan kerja-kerja besar untuk renovasi, yang boleh jadi memerlukan biaya yang signifikan.
Harapannya jika proses renovasi berjalan lancar, di lokasi ini sejak bulan Juli-Agustus ini sudah ada kegiatan yang dilakukan. Barangkali dimulai semacam summer boarding school selama liburan musim panas. Untuk empat bulan ke depan ada beberapa hal yang akan dilakukan:
Pertama, membersihkan lokasi yang sudah tidak terpakai sejak tahun 2012 lalu. Kedua, renovasi atau perbaikan tiga gedung, sebuah rumah (asrama), sebuah gedung sekolah (kelas-kelas), dan sebuah gedung untuk sholat berjamaah (hall). Ketiga, perbaikan fasilitas olah raga. Sebuah lapangan bola, lapangan basket, dan sebuah kolam renang.

Keempat, perbaikan daerah parkiran. Kelima, menata jalan-jalan yang ada di dalam lokasi. Untuk lima rencana kerja di atas tentu memerlukan juga izin dan pendanaan. Izin sudah mulai diproses bulan Februari ini. Sementara pendanaan terus akan digulirkan hingga Allah menentukan semuanya. Untuk itu kami minta doa dan dukungan semua pihak!
“Mari menjadi bagian dari sejarah ini dengan mendukung pendirian pesantren ini,” kata Kiai Shamsi Ali. (*)