Berobat ke Luar Negeri Mengapa Lebih Murah

 

Hingga saat ini, sejumlah anngota masyarakat lebih memilih berobat ke luar negeri. Seperti ke Singapura, China. Terbaru yang banyak dikunjungi untuk berobat, yakni Penang, Malaysia. Biasanya, penyakit-penyakit kelas berat, pasien dari Indonesia lebih banyak memilih berobat ke luar negeri. Biasanya hampir apa saja yang berhubungan dengan luar negeri, pastilah lebih mahal, tetapi tidak demikian dengan pengobatan.

Sejumlah orang dari Indonesia yang mengidap penyakit berat, seperti kanker, kini lebih suka terbang ke luar negeri untuk mengobati penyakitnya. Terutama penyakit berat, seperti kanker. Mengapa ini terjadi? Mengapa pengobatan di dalam negeri menjadi mahal. Mengapa pula negara-negara yang sebelumnya “dibawah” Indonesia kini menyalipnya. Sebut saja, Malaysia. Beberapa dekade yang lalu, Malaysia banyak belajar ke Indonesia di sektor pendidikan. Termasuk di dalamnya dalam hal pendidikan kedokteran.

Malah kini, sejumlah anggota masyarakat memilih berobat (operasi) ke Penang dibandingkan berobat di dalam negeri. Inilah yang juga merisaukan Menkes yang menjabarkan saat ini masyarakat di Indonesia lebih banyak berobat di luar negeri dan tak mau berobat di dalam negeri. Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp.M (K) , sungguh risau dengan keadaan ini. “Perlu introspeksi, apakah ada yang salah dengan pelayanan kita? Ada yang salah dengan kualitas kita atau karena tidak ada inovasi,” tanya Menkes beberapa waktu lalu.

Yang jelas fakta ini merupakan pukulan bagi rumah sakit maupun dokter di Indonesia. Jangan biarkan keadaan ini berlama-lama, karena tak menutup kemungkinan akhir RS dan dokter akan ditinggalkan. Khususnya yang menyangkut operasi. Rumah sakit perlu berjuang untuk lebih baik agar bisa bersaing dengan rumah sakit di luar negeri. Rumah sakit, tidak boleh kalah dengan rumah sakit di luar negeri. Rumah sakit perlu memikirkan SDM nya untuk meningkat lagi. Tidak hanya melayani tetapi kualitas itu penting.

Apa yang dikatakan Menkes seharus ditanggapi serius oleh rumah sakit maupun dokter, karena semakin banyak masyarakat berobat ke luar negri, semakin banyak pula devisa yang “melayang”. Indonesia Services Dialog (ISD) mencatat, jumlah orang Indonesia yang berobat ke luar negeri mengalami peningkatan hampir 100% selama 10 tahun terakhir. Jika di tahun 2006 terdapat 350 ribu orang pasien, tahun 2015 melonjak menjadi 600 ribu pasien. Total pengeluaran pasien Indonesia di luar negeri pada tahun 2015 mencapai 1,4 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 18,2 triliun. Karena itu, fakta ini harus diperhatikan secara seksama oleh rumah sakit dan dokter Indonesia.(*)