Walikota Tantang IDI Wujudkan Mimpi Surabaya ‘Jujugan’ Berobat

GN/Retno Asri Lestari
Walikota Ir Tri Rismaharini saat berbicara di depan para dokter dan istri dokter yang tergabung dalam IDI dan IIDI Cabang Surabaya.

SURABAYA (global-news.co.id) – Menjadikan Surabaya sebagai kota jujugan bagi mereka yang hendak berobat  masih terus digaungkan Walikota Surabaya Tri Rismaharini.  Saat menghadiri  Halal Bi Halal dan Silaturahmi  Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) cabang Surabaya, Sabtu (14/7), Risma mengungkapkan mimpinya tersebut sekaligus menantang para dokter untuk bisa mewujudkannya.

Dia beralasan kalau industri perhotelan yang bergerak hanya itu saja, berbeda dengan industri kesehatan. Kalau industri  kesehatan di Surabaya ini bergerak, akan memberikan multi player effect yang luar biasa bagi peningkatan ekonomi. “Kenapa saya ngotot, karena saya yakin Surabaya bisa. Saya tidak percaya panjenengan semua ini tidak mampu,” ujar Risma bersemangat.

Dicontohkan rumah sakit, kalau ada 1 pasien berarti ada perawat, ada pelayanan laboratorium, ada pelayanan foto rontgen. Selanjutnya akan berdampak pada jasa laundry, boga, perhotelan, penyedia handuk, sprei. “Saya sangat yakin bisa. Nggak usah yang dari luar negeri, yang dari Indonesia saja berobat ke sini, sudah menggerakkan perekonomian di Surabaya,” lanjut  Risma yang belakangan semakin sering diminta jadi pembicara di berbagai kota dunia untuk sharing ilmu.

“Karena itu Prof, saya mohon, silakan saya diperintah, saya siap mengerjakan. Dulu disambati IPAL, saya langsung budal (anggarkan Rp 200 miliar). Kalau saya bisa, saya lakukan, paling tidak ini akan membantu anak-anak meraih masa depannya. Wong nyemplung got saja saya belani sampai tangan saya patah. Karena apa, kalau  got-nya bersih Surabaya tidak banjir,” kata Risma kepada para profesor dan dokter yang hadir di acara tersebut.

Risma yang pernah menjadi walikota terbaik  dunia itu membayangkan nantinya para dokter bergerak bersama, sehingga orang tak perlu lagi ke Korea hanya untuk memancungkan hidung. Dia yakin dari segi kualitas keterampilan, dokter-dokter Indonesia tidak kalah. “Ojo bedah plastik mek ngurusi korban kebakaran, bibir sumbing. Orang yang mancungne irung iku duwe duwit. Makanya ayo kita bergerak, mosok kalah karo Korea. Kalau  panjenengan bilang wis cukup (begini saja), mati aku, kita diserbu,” katanya.

Pemberlakukan  AFTA (Asean Free Trade Area) pada 2016 memungkinkan tenaga dari negara-negara Asean masuk ke Indonesia dengan bebas. “Nanti tahun 2020 sifatnya sudah mendunia, siapa pun bisa masuk ke sini dan nggak bisa lagi kita menolak orang lain,” tambahnya.ret