Kisah Anak Petani Cianjur Jadi Diplomat di Rusia: Mengubur Cinta di Danau Cirata, Menggapai Cita di Negeri Beruang Merah

DOK.ENJAYDIANA
ANAK PETANI: Enjay Diana saat mendampingi Presiden Jokowi.

Profesi diplomat yang bertugas di negara maju menjadi impian banyak orang Indonesia. Namun, bagi Sekretaris Pertama Fungsi Penerangan, Sosial Budaya dan Pendidikan KBRI Moskow, Rusia, Enjay Diana, karier diplomat seperti “salah jalan” sebab di luar cita-cita yang diimpikannya sejak masa bocah. Sekarang putra seorang petani di Cianjur Jawa Barat ini sedang meniti karier menjadi diplomat di Negeri Beruang Merah Rusia. Suka duka dialami Enjay, termasuk ketika membebaskan WNI yang terkena masalah Rusia.

LAPORAN GATOT SUSANTO

MINGGU 15 Februari 2009. Kapal kargo New Star berbendera China bergerak meninggalkan perairan Vladivostok. Kapal yang diawaki 16 ABK–6 di antaranya WNI dan 10 warga China– itu tiba-tiba oleng bersamaan dengan suara tembakan yang sangat gencar dari senjata otomatis militer Rusia.

Suasana di dalam kapal sontak berubah panik. Tak lama kemudian kapal itu tenggelam. ABK asal Padang, Indonesia, bernama Adi Mazwir selamat bersama empat rekannya sesama WNI. Adi dilarikan ke RS setempat, sementara empat WNI lain dibawa ke hotel. Namun mereka dirundung duka sebab seorang rekannya sesama WNI dinyatakan hilang. Sedang ABK warga China 7 orang tewas, sembilan lainnya selamat.

Suasana tegang menjalar ke luar kapal. KBRI di Moskow pun sibuk segera setelah menerima kabar yang sangat mengejutkan itu. Dubes RI untuk Rusia segera membentuk tim. Bahkan Dubes memerintahkan tim, yang antara lain terdiri atas Enjay Diana dan sejumlah anggota lain bergerak cepat menemui para korban WNI. Dubes memberi deadline 2 x 24 jam.

Enjay dkk pun bergerak lebih cepat. Belum habis deadline mereka sudah menemui Adi Mazir di rumah sakit dan empay WNI lain di hotel. KBRI di Moskow menerima pemberitahuan dari otoritas Rusia, bahwa penembakan itu dilakukan karena kapal tersebut meninggalkan pelabuhan tanpa izin dan secara ilegal telah melewati perbatasan laut. Namun para ABK memberi kesaksian lain. Rusia menyatakan penyesalannya atas tragedi tersebut, khususnya atas tewasnya ABK asal China.

“Ya, kisah itu saat New Star. Saya tiba-tiba ditugaskan ke sana untuk menanganinya. Kami berangkat berdua mencari fakta dan berupaya menemui para ABK. Naik mobil dari Vladivostok ke Nakhodka sangat jauh, di musim dingin lagi saat itu. Ketemu semua ABK yang selamat, ketemu juga dengan Nazwir Adi,” kata Enjay kepada Global News Rabu 25 Juli 2018. Enjay berkantor di KBRI yang lokasinya di Jalan Novokuznetskaya, Moskow.

Itu sepenggal kisah tugas Enjay menjadi staf KBRI. Masih banyak suka duka dia jalani selama menjadi staf KBRI yang merupakan kepanjangan tangan Pemerintah RI dalam mengatasi semua urusan WNI dan menjalin hubungan dengan Rusia.

Perjalanan Enjay Diana meniti karier menjadi diplomat tidaklah mudah. Bahkan jalur ini sama sekali tidak terlintas di angannya sewaktu bocah dulu. Enjay yang anak seorang petani mencari nasib hidup untuk suatu perubahan hingga melanglang buana ke negeri yang sangat jauh.

Lahir dan besar di sebuah kampung di daerah Pacet, Cianjur, Jabar, di Lintas Bandung-Jakarta di bawah kaki gunung Gede-Pangrango. Sejak kecil berteman dengan lumpur sawah dan main di pematang sawah, membantu orang tuanya bertani.

Cita-citanya ingin menjadi insinyur pertanian. Maklum, dunianya adalah pertanian. Dunia yang tak kunjung memberikan kesejahteraan bagi orang tuanya dan para petani lain. Karena itu, dengan menjadi insinyur pertanian, dia yakin bisa mengubah nasib banyak petani di daerahnya, khususnya nasib orang tuanya. Namun sayang cita-cita yang mulia itu tidak kesampaian.
“Sekarang saya malah jadi diplomat,” katanya sambil tersenyum.

Lulus SMA Enjay Diana terpaksa menjadi kuli bangunan sebab dia harus bekerja membantu perekonomian orang tua sekaligus untuk bisa melanjutkan studinya. Selain itu dia juga bekerja di pemasok pakan ikan di Danau Cirata. Bekerja di sini sempat mengalami peristiwa yang cukup tragis.

“Kisahnya adalah semua ditenggelamkan di Danau Cirata, termasuk cinta. Semua terkubur di sana,” ujarnya mengenang masa lalunya.
Patah hati dibalut semangatnya untuk terus maju sekaligus mengubah nasib, membuatnya mencari cara agar bisa mendapat beasiswa studi di luar negeri. Dan Allah menunjukkan jalan itu. Enjay lalu terbang ke Moskow, Rusia, untuk kuliah setelah mendapat beasiswa dari Pemerintah. Dia menempuh pendidikan di Jurusan Phylology di Peoples’ Friendship University of Russia.

“Saya pergi dengan tujuan mengubah jalan hidup dan menunjukkan bahwa saya bisa! Saya mendaftar di Kemlu jadi diplomat dan diterima walau tidak tahu apa itu dunia diplomasi. Bahkan lokasi Kemlu di Jakarta saja tidak tahu sebelumnya. Tapi inilah jalan hidup saya,” ujar alumni SMAN 1 Sukaresmi ini.
Padahal, cita-citanya saat kuliah dulu paling keren ingin menjadi pemandu wisata atau penerjemah karena saat itu dia juga mengambil sastra Rusia. Tapi takdir Tuhan menghendakinya menjadi diplomat.

Suka duka kuliah di Rusia di awal-awal mulai adanya mahasiswa dari Indonesia dialaminya. Enjay angkatan kedua mahasiswa Indonesia di Rusia pasca angkatan pertama yang dirundung malang gara-gara peristiwa politik yang terjadi di Tanah Air.

“Tahun 1950-1960-an memang banyak mahasiswa ikatan dinas (mahid). Setelah peristiwa 1965 kan tidak ada lagi. Tahun 1995 Rusia mulai memberikan lagi beasiswa. Tahun 1996 ada 2 orang mahasiwa Indonesia. Saya tiba tahun 1997 sekitar 8 orang,” katanya.
Sekarang mahid angkatan pertama masih ada beberapa orang di Moskow. Jumlahnya tidak lebih dari 8 orang dan sudah pada lanjut usia. Mereka juga menjadi diplomat pertikelir sebab menjembatani kepentingan warga Indonesia dan Rusia. Enjay juga melakukan tugas-tugas yang sama sebagai pegawai KBRI.

Kisah panjang berkarier menjadi diplomat, melayani publik, menembus birokrasi FSB untuk membantu ABK WNI saat tragedi penembakan kapalnya di Vladivostok itu. Kisah lainnya, termasuk didaulat menjadi penerjemah pertemuan Presiden SBY-Putin, SBY-Presiden Belarus dan Kazahstan, dan pertemuan lainnya, termasuk mendampingi Presiden Jokowi,” katanya.

Pesona Rusia

Pengalaman selama berkarier di Rusia sungguh menakjubkan. Enjay menjadi tahu sisi indah yang memesona negara ini setelah selama bertahun-tahun dicitrakan secara negatif lewat propaganda rivalnya. Khususnya stereotype yang dibuat dalam film-film Hollywood di era Perang Dingin Rusia vs Amerika Serikat. Film Hollywood itu juga ditonton oleh publik Indonesia sehingga kesan orang Rusia kaku, sangar, dan hal negatif lain juga merasuk pada alam pikiran WNI. Padahal aslinya tidaklah demikian.

“Memang masih banyak orang Indonesia yang belum tahu Rusia saat ini. Persepsi lama zaman uni Soviet masih melekat. Kalau Anda ikut penggemar-penggemar bola saat Piala Dunia 2018 kemarin, kesimpulannya bahwa Rusia tidak seperti yang diduga, Rusia sudah berubah dan menarik… From Russia with love,” kata Enjay.

Alam Rusia sangat indah memesona. Warganya ramah. Terbuka bagi pengunjung. Mereka juga modis mengikuti perkembangan mode paling mutakhir. Begitu pula aparat keamanannya yang siap membantu warga negara asing yang berkunjung ke Rusia. Hal itu sangat jelas terlihat saat Piala Dunia 2018 kemarin di mana Rusia menunjukkan telah menjadi tuan rumah yang baik.

Selain itu jumlah umat Islamnya juga banyak. Bahkan Enjay sekarang tengah menyiapkan buku untuk memberi gambaran positif soal Rusia. “Saya sudah lama ingin buat buku judulnya: Rusia seperti yang saya lihat.

Terinspirasi buku Uni Soviet seperti yang kulihat tulisan Adam Malik,” katanya.
Enjay juga sibuk memanfaatkan momen Piala Dunia 2018 untuk mempromosikan Indonesia. Apalagi dua anak asal Indonesia, Rania Premiera Gumay (9) dan Maula Alvaro Putra Ario Bimo (9), juga ikut meramaikan pertandingan Piala Dunia FIFA 2018. Keduanya terpilih menjadi player escort setelah menyisihkan 4.000 anak di Indonesia dalam program eksklusif “Aku Duta Cilik Piala Dunia 2018”.

Raina yang keluar sebagai runner-up lebih dulu bertugas menjadi player escort di pertandingan pembukaan pada 14 Juni 2018 antara tuan rumah Rusia dengan Saudi Arabia. Sebelum resmi menggandeng pesepakbola yang berlaga, Raina Bersama dengan 21 anak lainnya dari berbagai negara—Rusia, Rumania, Colombia, Yunani, Thailand, China, Azerbaijan dan Saudi Arabia—diperkenalkan dengan sejarah singkat Rusia, berkeliling melihat keindahan kota Moscow dan mencoba makanan khas Rusia.

Selain itu, mereka juga mengikuti Player Escort Master Skill class, di mana mereka belajar teknik dasar bermain sepak bola dan juga melakukan pertandingan persahabatan antar sesama player escort yang berakhir seri dengan skor 2-2. Pada hari pembukaan Piala Dunia FIFA 2018, Raina bersama dengan player escort lainnya diajak ke Stadium Luzhniki, Moscow untuk melakukan latihan menjelang pertandingan pembukaan tanpa didampingi oleh orang tuanya.

Kini Enjay banyak tahu soal Rusia. Dia mengaku awalnya belajar soal Rusia dari Profesor Sudyanto. Mahid pertama yang bekerja di dunia perkoperasian di Rusia dan sekarang telah pensiun. Sang Profesor sehari-hari juga menjadi jembatan bagi pebisnis Rusia dan Indonesia. Dia juga membantu mencarikan pebisnis Rusia yang ingin mencari rekan bisnis di Indonesia, begitu juga sebaliknya. Sebelumnya dia menjadi penghubung perguruan-perguruan tinggi di Rusia dan Indonesia. Dia juga kerap memberikan kuliah di Indonesia.

Berdasarkan pengalamannya tinggal di Rusia dan menjadi warga negara Rusia, Profesor Sudaryanto memaparkan Rusia yang sebenarnya. Menurut dia, orang Rusia sebetulnya hampir sama dengan orang Indonesia. Orang Rusia adalah orang yang berterus terang. “Apa yang disampaikan oleh Dunia Barat soal Rusia telah dipolitisasi,” katanya. (*)