Jatim Terbanyak Ketiga Pengguna Tenaga Nuklir


GN/Habib
Suasana kegiatan Edukasi Publik/Sosialisasi Pengawasan Ketenaganukliran Jawa Timur di Surabaya, Selasa (24/7/2018) malam

SURABAYA (global-news.co.id) – Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menyebutkan, Provinsi Jatim  dijadikan sebagai proyek percontohan keselamatan nuklir di Indonesia. Pasalnya Jatim sebagai pengguna tenaga nuklir terbanyak ketiga di Indonesia setelah DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Kepala Bapeten Prof Dr Jazi Eko Istiyanto mengatakan, hingga kini pengguna energi nuklir di Jatim sekitar 12 ribu usaha. Di antaranya dari rumah sakit dan industri.  Sekitar 300 dari 400 instansi kesehatan sudah memanfaatkan tenaga nuklir. Kebutuhan dalam rumah sakit sangat dibutuhkan. Antara lain, adanya diagnostic sebagai pendekteksi penyakit dari pasien dan Therapy sebagai pengobatan serta pengangkat sisa penyakit seperti kanker. “Proses izin dalam penggunaan tenaga nuklir tersebut berlaku sekitar 2 tahun untuk pesawat radio diagnostic dan adanya pemeriksaan Bapeten dalam penggunaan tenaga nuklir di rumah sakit maupun klinik,“ kata Jazi dalam konferensi Edukasi Publik/Sosialisasi Pengawasan Ketenaganukliran Jawa Timur di Surabaya, Selasa (24/7/2018) malam.

Dikatakan, sampai sekarang pemanfaatan tenaga nuklir dalam masyarakat semakin beragam tepatnya dalam bidang kesehatan. Namun lantaran kurangnya pemhaman masyarakat dalam memanfaatkan nuklir membuat Bapeten bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Jawa Timur untuk melakukan peningkatan pelaksanaan pengawasan keselamatan dan keamanan pemanfaatan tenaga nuklir tepatnya dalam bidang kesehatan. Pelaksanaan kegiatan ini merupakan lanjutan dari MoU/Kesepahaman antara BAPETEN dengan Pemprov Jatim yang ditandatangani, 27 November 2017 lalu.

Selain dalam bidang kesehatan, manfaat energi nuklir juga dapat dimanfaatkan dalam bidang pertanian untuk mempercepat masa tanam dan mengunggulkan bibit tanam. Tetapi, hal tersebut di berbahaya untuk di konsumsi. Dalam ranah pendidikan, pemanfaatan dalam bidang pendidikan juga sudah dilaksanakan tetapi dengan radiasi tinggi. Izin dalam pelaksaan juga dibutuhkan dengan Risedikti.

Ia menyebutkan, beberapa universitas yang sudah melakukan praktik pemanfaatan ketenagaan nuklir,  antara lain Universitas Gadja Mada, Universitas Brawijaya, dan Institut Teknologi Bandung dengan radiasi yang terhitung rendah.

Dikatakan, setiap persetujuan izin akan diberi stiker sesuai dengan warna masing – masing. Warna hijau berarti sudah dapat izin, kuning berarti perlu dipertanyakan dan merah berarti masih belum dapat izin.

Dalam pengawasan tersebut, Kepala Balitbang Jatim, Dr Ardo Sahak, SE, MM, menjelaskan, tahun 2019 Jatim akan membuat badan pengawas dengan Bapeten dalam penggunaan pemanfaatan tenaga nuklir. “Kami akan membuat badan pengawasan tetapi khusus untuk provinsi terlebih dahulu, baru daerah,” jelasnya.

Bapeten  akan mempermudah ijin dan selalu melakukan pengecekan dalam pemanfaatan ketenagaan nuklir agar masyarakat semakin paham dalam pemanfaatan tersebut.bib