Film Buffalo Boys Menggebrak AS dan Kanada: Diaspora Indonesia Impikan Gedung Film Indonesia di New York

Selain menggebrak ajang world premiere di Fantasia International Film Festival, Montreal, Kanada, Minggu, 15 Juli 2018, film “Buffalo Boys” juga membuat publik film New York Amerika Serikat terpana. Film yang diperankan oleh Ario Bayu, Pevita Pearce, dan Yoshi Sudarso ini mendapat sambutan hangat dari para pecinta film di megapolitan itu.

LAPORAN GATOT SUSANTO

POPPY CHANTIQUE dan Mustari Siara tampak sangat senang dengan sambutan antusias pecinta film Amerika Serikat terhadap film garapan sutradara Mike Wiluan tersebut. Dua WNI yang tinggal di New York ini sebelumnya memang ikut gencar mempromosikan film “Buffalo Boys” lewat media sosial. Maklum Poppy seorang jurnalis, sedang Mustari pernah bersinggungan langsung dengan dunia film saat masih di Tanah Air.

Film “Buffalo Boys”, kata Poppy, merupakan film kolosal fantasi zaman penjajahan Belanda yang wajib tonton bagi WNI di AS. Film ini masuk dalam Asian Film Festival di New York di mana pemutaran perdana juga dilakukan pada 15 Juli 2018 pukul 05.45 pm di SVA Theater.

Saat pemutaran perdana yang dihadiri sejumlah artis pendukung film ini, penonton antre mengular membeli tiket. Mereka terkesan dengan cerita hasil kombinasi antara era zaman Belanda dengan era koboi western di Amerika. Karena itu, bukan hanya kaum diaspora asal Indonesia saja yang menonton tapi juga banyak dari bule warga kota New York juga ingin menyaksikan keunikan film tersebut. “Film ini sangat bagus,” kata Poppy.

Mustari Siara kepada Global News mengatakan, respon pecinta film AS sangat bagus terhadap film Asia, khususnya film Indonesia. Apalagi ceritanya bagus yang digarap dengan kualitas yang tidak kalah dengan produksi Hollywood. Film ini tentu akan menghadapi tantangan berat sebab film ala koboi diputar di negeri para koboi, sehingga bila tidak kuat– baik soal cerita maupun sinematografinya– pasti tidak ada yang menonton di negeri Paman Sam.

“Tapi lihat saja, penonton membludak. Antre membeli tiket,” kata Mustari kepada Global News.

Selain acara pemutaran film di ajang festival, juga digelar pertemuan antara kru film bersama sineas wakil dari negara Asia lain di KJRI New York. Dalam suasana akrab itu sempat muncul usulan agar Indonesia memelopori menggencarkan promosi film Asia. Salah satunya dengan menyediakan gedung film khusus untuk memutar film Asia. Gedung film ini bisa didanai bersama oleh pemerintah atau swasta melibatkan sejumlah negara Asia.

Menurut Mustari, untuk memasarkan film Asia tentu saja harus ada gedung untuk memutar film tersebut. Sebab sangat sulit bila hanya mengandalkan gedung film yang ada mengingat sudah didominasi film produksi Hollywood.

“Masyarakat New York suka nonton film, tinggal bagaimana sineas Indonesia dan Asia memanfaatkan peluang itu dengan menggandeng investor untuk mendirikan gedung film. Dengan film, kita bisa lebih banyak mempromosikan potensi negara kita,” katanya.

Mustari yang sempat menggeluti dunia film dan pernah aktif di Parfi menambahkan, Festival Film Asia sudah lama diadakan. Termasuk pernah digelar di Indonesia. Kali ini merambah ke Amerika Serikat di mana masing-masing negara Asia mengirim satu film untuk diputar di ajang festival tersebut. Namun, mestinya tidak hanya sebatas di ajang festival, melainkan harus disertai pemutaran reguler yang bisa digilir dengan film -film negara Asia yang lain.

“Usai acara, seorang delegasi Malaysia menilai gagasan itu bagus. Tapi masalahnya ada unsur politisnya juga,” kata Mustari menirukan kendala yang disampaikan delegasi Malaysia tersebut. Mungkin maksudnya soal regulasi dan lain lain.

Mustari juga mengusulkan agar diplomasi melalui film digencarkan lagi. Sekarang film seperti kehilangan “induk semang” setelah dulu di bawah naungan Dirjen RTF (Radio Televisi dan Film) Departemen Penerangan. Setelah Deppen dilikuidasi, film sepertinya masuk ke Kementerian Pariwisata, sehingga juga tepat bila promosi wisata dilakukan lewat film.

Apalagi bila film masuk sebagai bagian dari produk ekonomi kreatif sehingga harus pula dipikirkan pasar luar negeri. “Buffalo Boys ini sangat bagus untuk memulai menembus pasar luar negeri,” katanya.

Sukses di Kanada

Film ini juga sukses di Kanada. Lewat Insta Story di akun resminya, tim “Buffalo Boys” berbagi klip antrean penonton yang mengular di depan studio sepanjang satu blok kawasan tersebut. Pemandangan serupa terjadi di New York.

Sebanyak hampir 700 tempat duduk yang ada di Hall Teater Concordia University terisi penuh saat pemutaran “Buffalo Boys” berlangsung. Dari keterangan pers yang diterima wartawan, Senin, 16 Juli 2018, tepuk tangan dan sorak penonton bergemuruh saat adegan-adegan laga ditampilkan. “Buffalo Boys” yang dibintangi Pevita Pearce diputar di studio utama dengan kapasitas 700 kursi penonton.

“Aku kaget lihat antusias penonton yang datang. Apalagi sepanjang film diputar kan penonton juga memberikan tanggapan positif. Ya, mereka tepuk tangan,” papar Pevita Pearce usai world permiere “Buffalo Boys” di George Williams Campus, Montreal.

Komunitas Indonesia yang hadir dalam acara ini pun mengaku bangga melihat film Tanah Air diputar di festival bergengsi. Selain Pevita Pearce, sang sutradara, Mike Wiluan juga mengaku terharu menyaksikan reaksi para penonton tersebut.

“Ide untuk film ini sudah bertahun-tahun di kepala saya dan butuh beberapa waktu untuk mengumpulkan tim dan para aktor yang cocok. Melihat reaksi penonton untuk pertama kalinya dan mereka suka, sangat mengharukan, karena, mereka juga dapat melihat sedikit sejarah Indonesia,” kata Mike Wiluan yang juga bertindak sebagai penulis naskah dan produser film ini.
Hal yang sama dirasakan Yoshi Sudarso yang merasa senang bukan kepalang melihat antusiasme publik Kanada dan AS. Ia bahkan mengaku mendapatkan banyak kiriman ulasan bagus dari orang-orang yang sudah menyaksikan film tersebut.

“So far kelihatannya responsnya bagus banget ada banyak teman-teman aku udah pada ngirimin ulasannya. Aku terkejut-lah melihat bagaimana film ini bisa diterima. Soalnya susah banget ya karena kan kalau film asing bahasanya beda mereka mesti baca, dan gak sedikit yang gak pengin nonton begituan,” ucap aktor berusia 29 tahun tersebut.

Pemain film serial Power Rangers ini bahkan menceritakan betapa panjang antrean yang ada saat pemutaran perdana film “Buffalo Boys” di Montreal dan New York. Perasaan senang dan bangga tentu saja dirasakan Yoshi karena ini adalah film Indonesia pertamanya.

“Malam itu langsung pada review katanya filmnya bagus, gambarnya keren banget gitu sih. So, it makes me happy. Definately makes me happy,” pungkasnya.

Judul film “Buffalo Boys” memang terdengar unik. Dari pemilihan judulnya saja penonton akan terbayang dengan adegan tembak menembak layaknya dunia koboi. Mike Wiluan selaku sutradara dan penulis naskah terinspirasi dari genre film wild west saat menggarap film ini. Gemar menonton film bergenre wild west, pria yang menetap di Batam itu mendapatkan inspirasi dari sutradara-sutradara era 60an.

“Sebetulnya saya adalah satu fans yang besar untuk film genre wild west,” papar Mike Wiluan saat ditemui di Auditorium Des Diplomes de la SGWU, 1455 Boulevard de Maisonneuve O, Montreal, Kanada.

“Film dari genre film wild west sudah dari dulu menyukai. Film dari Clint Eastwood, dari tahun 1960-an yang seperti western, sepertinya saya sudah banyak nonton film-film tapi genrenya itu,” tambahnya.
Gempuran film dengan genre drama, komedi dan horor memang mewarnai industri perfilman di Tanah Air saat ini. Ia pun mencoba untuk menampilkan hal yang baru mulai plot cerita hingga atmosfer yang berbeda saat dituangkan dalam sebuah film.

“Sebetulnya saya sedang berpikir bagaimana kita bisa cari satu genre yang belum kita coba. Nah muncul ide wild west, tapi tidak literal wild west tapi harus ada penjajahan Belanda untuk back storynya,” tambahnya. Untuk film yang memakan waktu hampir tiga tahun ini, Mike Wiluan selaku sutradara menggabungkan antara fiksi dan fakta sampai akhirnya lahir “Buffalo Boys”.

Nama Mike Wiluan sudah tak asing lagi di telinga pecinta film Indonesia, sebab kiprah pria bermata sipit ini sudah lama di dunia sinema. Seperti dikutip dari jpnn.com, Mike memiliki bisnis usaha unik yang belum pernah ada di Indonesia. Memiliki passion terhadap seni kreatif yang tinggi, dia mungkin saja dianggap “gila” oleh pengusaha lainnya karena investasi yang dia tanam tidak main-main.

“Usaha ini memang berbeda dengan yang lain, bisa dibilang, ini adalah “pabrik mimpi” karena yang kita olah bukan sesuatu yang memiliki wujud,” ujarnya dengan mimik muka serius.

Awalnya, Mike membangun Infinite Framework Studio (IFW) dari sebuah rumah produksi yang berbasis di Singapura. Rumah produksi ini mengerjakan pos produksi untuk visual efek iklan TV, film, serial TV, film dokumenter dan animasi. Namun karena ongkos produksi untuk sebuah film sangat mahal, maka terpikirkan olehnya untuk membuat sebuah studio film yang bisa dipakai berkali-kali.

“Cost produksi film di Singapura sangat mahal, sedangkan jika dibuat di Indonesia akan jauh lebih murah,” tuturnya. Ia pun menjadikan lahan 10 hektare di kawasan Hang Lekiu, Nongsa Batam, untuk dijadikan studio film terlengkap. Dengan pertimbangan investasi jangka panjang, ia pun mengeluarkan modal yang tidak sedikit.
Tidak hanya segi biaya produksi yang menjadi pertimbangannya, demi mencari sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, Mike melakukan usaha ekstra keras. Akhirnya pria yang berlatar pendidikan di film production London ini merekrut para kawakan animator yang telah punya nama, salah satunya adalah Daniel Haryanto. Daniel dan kawan-kawan pun dimintanya untuk mengkoordinir studio di Batam ini.

Film “Sing to The Dawn” (animasi) dan ‘Dead Mine” (live shoot) adalah jebolah IFW yang berhasil menarik para investor asing. Bermula dari film-film itulah Mike akhirnya bisa memikat banyak pihak untuk menaruh kepercayaan dalam pengerjaan proyek di studionya. “Semua ini bermodalkan trust, orang luar yang tadinya tidak percaya bahwa Indonesia bisa bikin film bagus, akhirnya tertarik dengan kualitas film-film kami,” imbuhnya.

Passion atau gairah akan suatu nilai kreatifitas memang tidak murah. Itulah yang dirasakan oleh Mike. Meskipun studio tersebut telah mengeluarkan banyak produk-produk yang sempat mengguncang dunia perfilman, bisnisnya bahkan belum meraih Break Event Point (BEP), alias balik modal. “Feed back yang saya dapatkan mungkin belum seberapa. Namun usaha ini telah memiliki brand, dan orang telah percaya dengan kualitas kami,” ujarnya dengan optimis.

Menurutnya IFW kini telah menjadi salah satu target tempat mengembangkan TV content dari banyak pihak luar. Serangoon Road adalah salah satu contohnya. Serangoon Road adalah drama serial yang kini tengah dikerjakan di IFW. Film yang berlatar belakang Singapura pada tahun 1960-an ini adalah proyek pertama HBO dalam pembuatan film drama seri. Film ini memiliki 10 episode. Dalam pengerjaannya, IFW juga menggandeng kerjasama dengan ABC TV, Screen West, Singapore”s Media Development Authority.

Konon, lembaga pemerintah australia, Export Finance and Insurance Corporation (EFIC) telah mengucurkan dana sekitar 682 ribu dolar Australia atau Rp7 miliar untuk pembuatan film ini.

“Saya sangat senang dengan kolaborasi antara Indonesia dengan Australia, studio ini memang mengagumkan,” ujar Simon Crean, Menteri Kesenian Australia, kala mengunjungi studio Mike Wiluan beberapa tahun lalu. *