Didemo Warga karena Bau, Pabrik Cokelat di Gresik Lumpuh

 

GN/Asepta
Karyawan pabrik cokelat di Gresik Jebekoko hanya melakukan maintenance karena pabrik tempat mereka bekerja berhenti operasi setelah didemo warga karena menimbulkan bau tak sedap.

GRESIK (global-news.co.id) – Kegiatan produksi perusahaan cokelat internasional JeBeKOKO Gresik genap satu minggu lumpuh usai didemo warga pekan lalu. Sebanyak 85 karyawan di bagian produksi hanya melakukan maintenance, Jumat (20/7/2018). Warga menuntut operasional perusahaan pengolahan cokelat itu berhenti lantaran bau yang ditimbulkan dianggap mencemari lingkungan.

Noviek Zulianto, Assistance Manager Production JeBeKOKO mengungkapkan jika bau itu muncul akibat penyumbatan dalam alat produksi. “Beberapa penyumbatan sudah kita perbaiki, lainnya tengah proses perbaikan juga,” ujar Noviek, Jumat. Sayangnya ia tidak bisa memastikan kapan perbaikan tersebut rampung dan operasional produksi kembali normal.

Noviek mengungkapkan, sebenarnya pihaknya bekerjasama dengan laboratorium independen yang ditunjuk pemerintah. Dan pihak laboratorium ini secara periode rutin melakukan pengecekan. Hasilnya, bau yang ditimbulkan masih di bawah ambang batas. “Tapi kita tidak bisa lepas dengan masyarakat, maka kita berupaya mengakomodir aspirasi dari warga sekitar perusahaan,” ujar Noviek.

Sementara itu, Ditya Rachmawati, General Affair & Ext Relation JeBeKOKO menjelaskan, karyawan yang berada di Bagian Produksi hanya melakukan perbaikan-perbaikan mesin. Menurutnya, ini menjadi kesempatan JeBeKOKO untuk melakukan maintenance agar performa mesinnya kembali maksimal.

Ia juga tidak bisa memastikan kapan perusahaan akan kembali beroperasi. Tapi Ditya memastikan kalau setiap harinya ia melaporkan kegiatan dan perbaikan kepada pemerintah. Ia juga akan berupaya menyampaikan progresnya ke masyarakat. “Saat ini juga ada pihak dari Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kabupaten Gresik tengah melakukan koordinasi,” ungkap Ditya.

Ditambahkannya, saat ini yang berhenti operasional di perusahaannya hanyalah Bagian Produksi. Sedangkan administrasi, distribusi, dan beberapa bagian non-produksi lainnya berjalan normal. “Kita masih punya banyak stok hasil produksi di gudang yang tetap harus didistribusikan, begitu juga dengan bahan baku yang saat ini ada di pelabuhan, sekarang tengah kita bongkar untuk dibawa ke gudang penyimpanan,” ungkapnya.

Saat ditanya kerugian yang ditimbulkan perusahaan saat tidak berproduksi, Ditya mengaku saat ini pihaknya tengah mengalkulasi. “Masih kita hitung, saya tidak bisa menjawab sekarang,” tandasnya.sep