AMKRI Jatim Terbentuk, Dukung ‘Rokok itu Harus Mahal’

GN/Retno Asri Lestari Ketua AMKRI Jatim M. Setyobudi ((empat dari kiri) saat deklarasi di Surabaya, Minggu (22/7).

SURABAYA (global-news.co.id) – Meningkatnya jumlah perokok dari semua jenis kelamin dan kelompok usia, berdampak pada meningkatnya korban akibat rokok. Bukan dari sisi kesehatan saja tapi juga  dari sisi ekonomi.

Berlatar itulah puluhan korban rokok, aktif maupun pasif, di Jawa Timur berkumpul dan membentuk Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI) Jatim.  Sebagai bagian dari AMKRI Pusat, AMKRI  Jatim yang dideklarasikan Minggu (22/7) juga sepakat menyerukan kepada Pemerintah agar menaikkan harga rokok sehingga #RokokHarus Mahal.

Rokok Harus Mahal dianggap menjadi salah satu cara untuk mengendalikan masyarakat agar tidak membeli rokok, di samping pemberlakukan Kawasan Tanpa Rokok, pembatasan iklan rokok, dan pemasangan gambar penyakit pada kemasan rokok.

Ketua Tobacco Control Support Center, Dr dr Santi Martini MKes, menyebut harga rokok di Indonesia terlalu murah. Ini menyebabkan jumlah perokok pemula –berdasarkan data Sirkenas 2016– meningkat dari 7,2% pada 2013 menjadi 8,8% pada 2016. Padahal sebelumnya pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menargetkan penurunan prevalensi perokok anak usia di bawah 18 tahun sebesar 1% setiap tahunnya. “Ini menunjukkan rokok murah juga mendorong anak-anak dengan uang sakunya mampu membeli rokok dan dapat teradiksi sehingga menjadi perokok yang tidak dapat berhentu seterusnya,” ujarnya.

Dr Sri Widati SSos MKes  dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair mengatakan jumlah perokok terbanyak justru berasal dari kelompok sosial ekonomi terendah. Sebanyak 84,8 juta perokok di Indonesia berpengkasilan kurang dari Rp 20 ribu per hari. “Ini memprihatinkan. Mereka ini lebih suka membelanjakan uangnya untuk rokok ketimbang  membeli daging, telur atau memikirkan pendidikan dan kesehatan,”  katanya..

Penelitian dari Yayasan Lentera Anak menemukan 79% iklan promosi rokok memakai harga per batang (Rp600 – 1000/batang) untuk memperlihatkan rokok sangat murah, mendorong anak-anak dengan uang saku Rp5.000 – 10.000 membelinya dengan mudah.

Karena itulah, agar rokok tidak terjangkau masyarakat bawah, AMKRI sepakat harga rokok harus dibuat mahal.  “Cukup saya saja yang jadi korban, jangan ada lagi anak-anak muda yang jadi korban,” kata Muh Setyabudi, Ketua AMKRI Jatim, dengan suaranya yang tidak terlalu jelas lantaran kehilangan pita suaranya akibat rokok yang sudah digelutinya sejak SMPN.

Pria berusia 22 tahun ini mengaku, di masa lalu saat masih SMP dia bisa menghabiskan setengah pak roko per hari. “Setelah 7 tahun suara saya kok jadi serak-serak. Rupanya itu gejala kalau pita suara saya rusak,” ujarnya. ret