Sebuah Refleksi Ibrahim Hasyim: Tradisi Berbuka Puasa di Amerika Serikat dan di Indonesia

Tiap negara dan daerah, punya tradisi berbuka puasa, ada yang sama dan berbeda. Saya ingin bercerita tentang apa yang saya alami sendiri di 3 kota Amerika beberapa tahun yang lalu.

Selesai menghadiri world energy convention di Houston Texas, kami berempat (termasuk Djoko Siswanto, kini dirjen migas) terbang ke Buffallo sebuah kota di pinggir Grand Canyon. Setibanya di sana, kami naik taxi ke hotel. Supir taxi bertanya, ”brother, apa saja agenda anda di Buffallo dan kemana rencana selanjutnya.”

Dia tanya itu, setelah mengetahui kami dari Indonesia dan Muslim. Dia sendiri orang Pakistan. Kami sampaikan bahwa setelah Buffàllo, akan ke Boston dan lanjut ke New York melalui jalan darat. Dia langsung menawarkan sewa kendaraannya, bisa mengantar kami sampai ke bandara New York, dan kami setuju. Mungkin karena merasa sesama Muslim, dia kemudian menawarkan berbuka bersama dengan tradisi di sana dan seterusnya nanti juga berbuka di Boston dan New York.

Sore itu kami diajak ke satu mesjid kecil. Orang yang datang untuk berbuka berasal dari berbagai negara, dilihat dari bahasa dan warna kulitnya. Semua kami duduk berbanjar, dan di depan kami di pasang semacam tissue tebal panjang untuk ditaruh makanan takjil yaitu kurma dan susu. Begitu selesai, tissue tebal pun digulung dan kami pun berjamaah Salat Maghrib. Setelah sembahyang, kami keluar ke halaman di samping mesjid dan disana kami antre untuk makan malam. Makanan disajikan prasmanan, dilayani oleh anak muda cekatan seperti remaja mesjid disini. Mereka sangat ramah melayani makanan yang disajikan sahibul bait, sampai selesai.

Hari itu, soal berbuka sudah beres, tapi hehe…bagaimana nanti malam dengan makanan sahurnya. Rupanya tidak banyak pilihan, malam itu kami sahur dengan roti dan pisang Ambon yang dibeli di covenience store.

Besok kami bergerak ke Boston, Djoko Siswanto minta jadi driver..ee .. di tengah jalan tiba-tiba dihentikan polisi, kami deg-degan karena pakai SIM Indonesia, eh rupanya ketahuan mobilnya belum bayar pajak. Tanpa ada dialog cing cong, seketika si Pakistan itu bayar dengan credit card dan kami dilepas melanjutkan perjalanan. Cepat sekali proses itu, karena tidak ada istilah damai..hehe..

Di Boston, sore itu kami dibawa berbuka puasa di kawasan Harvard University, sekolah yang terkenal sejagat raya ini. Kami dibawa ke sebuah Hall pertemuan dan di depan pintu duduk 2 anak gadis yang siap menerima uàng sedekah sekiranya ada sumbangan untuk Perkumpulan itu. Pengunjung umumnya datang khusus dengan berkendaraan pribadi.

Acara berbuka dimulai, juga dengan kurma dan susu. Setelah sembahyang Magrib, tissue panjang dibentangkan dan makanan pun dibagi ala carte, semua ada dalam satu piring dan dilayani pemuda cekatan, termasuk kalau mau nambah..hehe…Suasana sangat ramai, saling berebut dan saling berbagi dan suasana gaduh itulah agaknya yang paling menyenangkan.

Di New York tradisinya lain lagi, kami ngabuburit dulu sambil putar berkeliling di kawasan Manhattan, dan begitu mendekati waktu berbuka, mobil diparkir, berjalan dan turun ke lower level sebuah gedung. Disana sudah penuh sesak orang, ada yang pakai jas lengkap, ada juga yg dengan jeans dan kaos. Tissue putih panjang sudah rapi terbentang dan berbuka pun dimulai, sama seperti hari kemarin, kurma dan susu. Tapi disini, setelah takjil langsung lanjut dengan makan malam dalam kotak. Proses takjil dan makan malam itu dilakulan dengan cepat cepat karena mengejar sembahyang jamaah Magrib di ruangan itu juga.

Besoknya,…brothers, kata si Pakistan, kita sudah 3 kali berbuka di mesjid, sore ini saya ingin membawa kalian ke rumah adik saya ya, nanti supaya lebih lengkap mengalami bagaimana tradisi berbuka di rumah. Berbuka di rumah rupanya praktis sama dengan kita. Makanan beragam disajikan diatas meja bulat dan duduk di sekelilingnya. Setelah makan, sebelum pulang, si Pakistan kemudian meminta kami berdoa untuk adiknya yang sedang hamil tua dan ikut repot menyiapkan makanan kepada kami itu, agar diberi kelancaran dan sehat dalam proses persalinan nantinya.

Nah, Itulah sekekumit pengalaman berbuka puasa di Amerika yang kami jalani, bisa saja berbeda dengan yang dialami oleh orang lain.

Kesan umum yang saya peroleh, di Amerika punya tradisi senang berbuka bersama di mesjid, ada sahibul bait nya, dan dibantu remaja mesjid cekatan dan ikhlas.

Tiga hari setelah tiba di tanah air, saya ke Banda Aceh. Saya diajak berbuka puasa oleh teman. Saya tanya dimana kita berbuka. Dia jawab, di rumah makan Seafood di Ulele. Oh… Kami pun berangkat. Disana, saya lihat banyak meja dan penuh dengan keluarga. Takjil dan makan malam dilakukan masing2 keluarga, tidak ada saling berebut, apalagi berbagi. Suasana sepi. Sesaat kemudian, satu2 bangun untuk sembahyang Magrib bergiliran, harus antri karena ruangan yg terbatas.

Setelah 10 hari menjalani acara berbuka puasa yang beragam kondisi di 2 negara dan.di beberapa kota, saya merenung dalam. Saya harus membuat kesimpulan apa. Ada rasa kuatir untuk menyimpulkannya. Dibenak saya hanya mengatakan, agaknya tradisi berbuka puasa, nilai nya sudah mulai bergeser, terutama di kota. Kalau di kota Amerika yg individualis , tradisi masyarakat cenderung suka berbuka bersama di mesjid, sedangkan tradisi di kota2 di Indonesia malah cenderung bergeser ke Restauran atau rumah makan? Apa betul itu? Wallahualam