Ramadhan di Kota Philadelphia Amerika: Berbuka Puasa Sambil Berdoa Bersama untuk Surabaya

DOK.SYARIF SYAIFULLAH
TARAWIH: Jamaah Masjid Al Falah Kota Philadelphia melakukan salat Tarawih Selasa malam.

Muslim asal Indonesia di Kota Philadelphia Amerika Serikat melakukan ibadah puasa Ramadhan 1439 Hijriyah pada Rabu 16 Mei 2016 sesuai pengumuman dari ISNA (Islamic Society Of North America). Namun demikian ada pula yang melaksanakan puasa Ramadhan pada Kamis 17 Mei 2018 seperti yang dilakukan muslim di Indonesia.

LAPORAN GATOT SUSANTO
————————————–

SYARIF SYAIFULLOH, salah seorang jamaah Masjid Al-Falah Kota Philadelphia, bersama sejumlah jamaah lain sudah melakukan ibadah salat Tarawih pada Selasa malam waktu setempat atau Rabu siang WIB. Tidak banyak umat Islam di kota ini melakukan ibadah di hari pertama salat Tarawih sebab sebagian besar masih sibuk bekerja.

“Biasanya Sabtu malam banyak jamaah salat di masjid ini. Kalau hari biasa mereka bekerja. Tapi belum tahu kalau besok setelah kami berpuasa pertama. Sebab jamaah masjid sini juga ada yang puasa pada Kamis. Mungkin ini soal keyakinan. Sebenarnya saya juga ingin puasa pada Kamis seperti di Indonesia, tapi kemudian ada pengumuman dari ISNA kalau asal puasa Rabu. Jadi kami pun puasa pada hari Rabu,” kata Syarif Syaifulloh kepada Global News Rabu 16 Mei 2018.

Seperti tahun sebelumnya, Masjid Al Falah yang baru saja menggelar acara peringatan 10 tahun berdirinya masjid ini sekaligus perpisahan dengan residen imam, Imam Zoehelmi, juga menggelar sejumlah kegiatan Ramadhan. Selain salat Tarawih, buka puasa bersama, dan halaqah. Jamaah menyumbang uang atau makanan yang rata-rata berjumlah 20 orang pada hari biasa dan 30 orang pada akhir pekan. Bila dalam bentuk uang sekitar 100 dolar sampai 150 dolar AS. Takmir Masjid juga mengingatkan bagi yang membawa makanan ke masjid agar memperhatikan kehalalan makanan, salah satunya soal penggunaan daging yang halal, mengingat mereka tinggal di negeri yang mayoritas penduduknya non-muslim.

Sejumlah WNI juga menggagas acara solidaritas terkait tragedi serangkaian ledakan bom di Kota Surabaya. Seluruh WNI di Amerika Serikat prihatin atas tragedi yang sangat memilukan itu. Akun facebook WNI di Philadelphia, seperti Sinta Penyami, mengungkapkan keprihatinan atas tragedi di Surabaya itu dengan mengajak sesama WNI untuk mengadakan doa bersama.

“Kami memiliki banyak orang dari Surabaya di Philly selatan. Kita harus melakukan doa lilin untuk para korban dan menunjukkan bahwa kita masih satu Indonesia meskipun perbedaan kita dalam agama. Ini bukan tentang Muslim versus Kristen. Apa yang Anda katakan South Philly? Sekalian buka bersama?” katanya di akun facebooknya yang direspon positif WNI lain di kota tersebut.

Syarif membenarkan bila ada rencana para WNI mengadakan acara semacam solidaritas atau doa bersama bagi korban tragedi Surabaya. “Memang ada rencana semacam itu. Tapi kami belum ada kabar resminya,” katanya.

Bila diadakan bersamaan dengan buka puasa bersama, kata dia, kemungkinan besar digelar di Masjid Al Falah. Syarif mengatakan, jumlah WNI asal Surabaya memang sangat banyak di Kota Philadelphia. Bahkan, ada pula Kampung Surabaya. Sejumlah pejabat, seperti Walikota Surabaya Tri Rismaharini maupun anggota DPRD Kota Surabaya, pernah mampir ke kota ini.

“Saat ada anggota DPRD Kota Surabaya mengunjungi Masjid Al Falah kami jelaskan kalau semua WNI di kota ini hidup rukun damai dan saling gotong royong. Khususnya jamaah Al Falah,” katanya.

WNI asal Sulawesi Selatan yang tinggal di Kota New York, Mustari Siara, membenarkan bahwa semua WNI di AS prihatin atas tragedi Surabaya. Mereka pun berdoa untuk pulihnya kondisi aman dan damai di Tanah Air. “Kami semua berdoa untuk kondisi aman dan damai di Indonesia, khususnya Surabaya,” katanya kepada Global News.

Kampung Surabaya

Kota Philadelphia, negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat, memang memiliki komunitas orang-orang Surabaya. Permukiman mereka pun akhirnya dikenal dengan nama ‘Kampung Surabaya’. Disebut Kampung Surabaya, karena banyak arek-arek Surabaya, Jawa Timur, yang bermukim di tempat itu.

Awalnya adalah tahun 1998, ketika Indonesia dihantam krisis ekonomi. Saat itu banyak warga Surabaya yang merantau ke AS untuk mencari pekerjaan. Mereka menjadi buruh migran di berbagai pabrik yang memang bertebaran di Kota Philadelphia.

Selain karena terbukanya lapangan kerja di pabrik itu, standar hidup di Philadelphia juga lebih murah bila dibandingkan kota lain di AS, seperti New York, Los Angeles, atau San Fransisco. Tidak hanya dari Surabaya, pendatang dari daerah lainnya di Indonesia pun mengalir. Namun memang warga Surabaya terhitung paling awal dan banyak jumlahnya.

“Jumlah WNI yang tercatat di KJRI New York yang tinggal di Philadelphia sekitar 5.600 orang. Tetapi dengan yang tidak resmi dan sebagainya, itu kira-kira 10 ribu (total). Mereka datang ke sini tahun 2000, 2001, 2002. Saya dulu punya teman tahun 1998 tinggal di sini saya tanya berapa orang Indonesia? Nggak lebih dari 20 orang,” kata Ketua Diaspora Indonesia Philadelphia, Beny Krisbianto, di sela-sela kunjungan Walikota Surabaya Tri Rismaharini ke Kampung Surabaya di kota ini. Risma bertemu dan menyapa ratusan para WNI yang tinggal di berbagai blok di Kampung Surabaya itu, termasuk warga dari Surabaya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, sebagian imigran mendapat surat izin tinggal dan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Bahkan, ada yang bekerja di sektor-sektor publik seperti rumah sakit, kantor swasta, dan pemerintah. Ada pula yang keluar dari pabrik dan mendirikan usaha seperti restoran dan toko di Philadelphia.

Saat ini, menurut Beny, tercatat ada 15 restoran dan toko yang dimiliki oleh para imigran Indonesia. Selain sesama WNI, pengunjung restoran-restoran itu juga orang-orang Amerika atau imigran dari negara lain. Dari hasil usaha itu, banyak WNI yang telah mampu membeli tempat tinggal sendiri di Philadelphia.

“Saya bisa sebutkan ada Warung Sulama yang khusus pedas kayak masakan Padang, warung Surabaya yang pakai lesehan style, juga Jakarta Cafe. Ada juga katering khusus untuk orang-orang Indonesia,” ucap Beny.

Tak cuma mencari kehidupan yang layak, para WNI itu juga berinisiatif memberikan kontribusi kepada Kota Philadelphia. Maka sejak beberapa waktu yang lalu, mereka sepakat untuk menggelar acara kerja bakti di sekitar tempat tinggal mereka. Satu buah alat penyedot sampah seharga Rp 500 jutaan bahkan telah dibeli untuk acara kerja bakti yang dilakukan setiap dua pekan sekali itu.

Sekretaris My Home Philadelphia, Ony Surya Dewi, mengatakan para WNI juga berinisatif memberikan kontribusi kepada Kota Philadelphia.

“Waktu kami datang ke kota ini kaget juga. Sangat kotor, sangat kumuh. Tempat tinggal juga sudah berumur. Kegiatan ini mulai berkala. Setiap golongan akan bergerak membersihkan lingkungannya, blok-bloknya,” imbuh Ony Surya Dewi. My Home Philadelphia adalah himpunan perantau Indonesia yang tinggal di Philadelphia.

Menurut Ony, kegiatan itu menjadi tanda bahwa imigran asal Indonesia punya posisi yang makin kuat dibandingkan dengan imigran lainnya di Kota Philadelphia. Selama ini imigran Indonesia masih dianggap minoritas. Imigran Italia yang paling banyak.
Salah seorang perantau asal Surabaya, Aditya Setyawan, menuturkan, dia datang ke Philadelphia belasan tahun lalu. Ia pertama bekerja sebagai chef di sebuah perusahaan katering. Namun, dengan pertimbangan waktu untuk anak, akhirnya dia keluar dari perusahaan dan membuat usaha katering sendiri dengan label “Pecel Ndeso”.

Katering itu melayani pesanan orang per orang maupun pesta. Pernah juga dia mengikuti bazar di New York. Pecel Ndeso juga melayani pengiriman makanan seperti sate, sop buntut, bandeng presto, dan buntil ke-24 negara bagian Amerika hingga Alaska. Setelah usaha katering itu dipegang oleh istrinya, dia kini bekerja penuh di bidang konstruksi.

“Hidup di sini lumayan enak, karena banyak orang Indonesia di sini. Serasa di kampung, apalagi banyak yang dari Jawa Timur. Jadi setiap hari ketemu di jalan ya ngomong Jawa,” kata pria asal Tandes, Surabaya, itu.

Walikota Surabaya Risma senang para imigran dari Indonesia saling peduli satu sama lain di tempat yang jauh. Ia juga bangga warga Indonesia berkontribusi untuk kota. “Saya berharap kegiatan ini bisa dilanjutkan. Dan yakin kita suatu saat akan menjadi keluarga besar di dunia,” ucap Risma saat berkunjung ke Philadelphia beberapa waktu lalu. *